Suku Kerinci

Suku Kerinci adalah suku bangsa yang mendiami wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, Jambi.[1] Kabupaten ini terletak dekat perbatasan Provinsi Sumatra Barat. Secara Topografi Kabupaten Kerinci memiliki tanah berbukit dan berlembah dalam deretan Pegunungan Bukit Barisan dengan puncak tertinggi Gunung Kerinci.[1] Suku Kerinci diperkirakan merupakan salah satu suku tertua yang mendiami Pulau Sumatra lebih tua dari Suku Inka di Amerika.[2]

Suku Kerinci
Jumlah populasi

kurang lebih 300.000 (1996)

Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Kabupaten Kerinci,Jambi, Indonesia
Bahasa
bahasa Kerinci, bahasa Indonesia, bahasa Minangkabau.
Agama
Islam.
Kelompok etnik terdekat
Melayu, Minangkabau.
COLLECTIE TROPENMUSEUM Vrouwen en kinderen uit een Kerintisch dorp West-Sumatra TMnr 10002859
Wanita dan anak-anak desa suku Kerinci di masa Hindia Belanda

Bahasa dan Budaya Kerinci

Nama Kerinci berasal dari bahasa Tamil, yaitu nama bunga kurinji (Strobilanthes kunthiana) yang tumbuh di India Selatan pada ketinggian di atas 1800m yang mekarnya satu kali selama dua belas tahun. Karena itu Kurinji juga merujuk pada kawasan pegunungan. dapat dipastikan bahwa hubungan Kerinci dengan India telah terjalin sejak lama dan nama Kerinci sendiri diberikan oleh pedagang India Tamil

Bahasa Suku Kerinci termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia, Melayu Polinesia Barat, keluarga bahasa Melayu-Minangkabau.[1] Berdasarkan bahasa dan adat-istiadat termasuk dalam kategori Melayu proto,[3] dan paling dekat dengan Minangkabau Melayu deutro dan Jambi Melayu deutro. Sebagian besar suku Kerinci menggunakan bahasa Kerinci, yang memiliki beragam dialek, yang bisa berbeda cukup jauh antar satu dusun dengan dusun lainnya di dalam wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Madya Sungai Penuh - setelah pemekaran wilayah tahun 2008. Untuk berbicara dengan pendatang biasanya digunakan bahasa Minangkabau atau bahasa Indonesia (yang masih dikenal dengan sebutan Melayu Tinggi).

Suku Kerinci memiliki aksara yang disebut aksara incung yang merupakan salah satu variasi surat ulu.

Sebagian penulis seperti Van Vollenhoven memasukkan Kerinci ke dalam wilayah adat (adatrechtskring) Sumatra Selatan, sedangkan yang lainnya menganggap Kerinci sebagai wilayah rantau Minangkabau.

Suku Kerinci merupakan masyarakat matrilineal.

Sebagaimana diketahui dari Naskah Tanjung Tanah, naskah Melayu tertua yang ditemukan di Kerinci, yang dikirimkan oleh raja Malayu di Dharmasraya pada abad ke-14 kepada depati di Kerinci dan telah disetujui oleh maharajadiraja Adityawarman yang berada di Suruaso dekat Pagaruyung di Tanah Datar.

Pemerintahan

Satu kelompok masyarakat di dalam satu kesatuan dusun dipimpin oleh kepala dusun, yang juga berfungsi sebagai Kepala Adat atau Tetua Adat. Adat istiadat masyarakat dusun dibina oleh para pemimpin disebut dengan Sko yang Tigo Takah, terdiri dari Sko Depati, Sko Pemangku dan Sko Permenti Ninik Mamak. Depati merupakan jabatan tertinggi dibawahnya adalah Pemangku yang merupakan Tangan kanan dari Depati, Di bawah Pemangku ada Permenti Ninik Mamak (Rio, Datuk, Ngebi) merupakan gelar adat yang mempunyai kekuatan dalam segala masalah kehidupan masyarakat adat.Wilayah Depati Ninik Mamak disebut ‘ajun arah’. Struktur pemerintahan Kedepatian di Alam Kerinci disebut dengan Pemerintahan Depati Empat Diatas dan Tiga dibaruh, Pemangku Lima, Delapan Helai Kain

Depati Tiga dibaruh memerintah di Alam Kerinci Rendah, wilayah Kabupaten Merangin Sekarang yang, terdiri dari:

1. Depati Setio Rajo berkedudukan di Lubuk Gaung

2. Depati Setio Nyato berkedudukan di Tanah Renah

3. Depati Setio Beti berkedudukan di Beringin Sanggul

Depati Empat diatas memerintah di Alam Kerinci Tinggi, Wilayah Kabupaten Kerinci bagian Hilir Sekarang, yang terdiri dari:

1. Depati Muaro Langkap berkedudukan di Tamiai

2. Depati Incung Telang berkedudukan di Pulau Sangkar

3. Depati Biang Seri berkedudukan di Pengasi

4. Depati Batu Hampar berkedudukan di Tanah Sandaran Agung

Kemudian di Wilayah Kerinci Bagian Tengah berdiri Mendapo nan Selapan Helai Kain yang terdiri dari:

1. Depati Serah Bumi beserta kembar rekannya di wilayah Seleman

2. Depati Mudo Terawang Lidah beserta Kembar rekannya di wilayah Penawar

3. Depati Atur Bumi beserta kembar rekannya di wilayah Hiang

4. Depati Mudo Udo Nenggalo Terawang Lidah beserta Kembar Rekannya di wilayah Kampung Dalam Rawang: Depati Nanggalo, Depati Mandaro, Depati Niat (Karang Setio Balun)

disebut dengan Tigo Dihilir Empat Tanah Rawang

5. Depati Kepalo Sembah beserta kembar rekannya di wilayah Semurup

6. Depati Situo beserta Kembar rekannya di wilayah Kemantan

7. Depati Sekungkung beserta kembar rekannya di Depati Tujuh

8. Depati Punjung Sepenuh Bumi beserta kembar rekannya di wilayah Koto Baru Rawang: Depati Senang Gumi, Depati Awa, Depati Janggut (Karang Setio Tap)

disebut dengan Tigo di Mudik Empat Tanah Rawang.

Pemangku yang berlima orang:

1. Pemangku Sayo (Seraya) Rajo di Koto Petai

2. Pemangku Cayo Rajo di Semerap Ujung Pasir

3. Pemangku Cayo Derajo di Semerah Bungo Tanjung

4. Pemangku Derajo di Sebukar Koto Iman

5. Pemangku Malin Deman di Tanjung Tanah

ditambah dengan Sungai Penuh sebagai Pegawai Jenang, Pegawai Rajo, Pegawai Syara' Suluh Bindang Alam Kerinci di bawah Pemerintahan Depati Nan Batujuh Permenti Nan Sepuluh Pemangku duo Ngebi Teh Setio Bawo, yang merupakan Turunan dari Siak Lengih salah satu penyebar Islam di Kerinci, Siak Lengih diceritakan masih merupakan Kerabat dekat dari Tuan Kadhi dari Padang Genting.

Depati Nan bertujuh:

1. Depati Santiudo di Sungai Penuh

2. Depati Payung di Pondok Tinggi

3. Depati Pahlawan Negaro di Dusun Bernik

4. Depati Alam Negeri di Dusun baru

5. Depati Simpan Negeri di Dusun Baru

6. Depati Nyato Negaro di Koto Renah

7. Depati Sungai penuh di Sungai Penuh

Permenti nan Sepuluh:

1. Datuk Singarapi Putih

2. Rio Jayo

3. Rio Mendiho

4. Rio Sengaro

5. Rio Temenggung

6. Rio Pati

7. Rio Mandaro

8. Datuk Capeti Uban

9. Datuk Capeti Kudrat

10. Datuk Singarapi Gagak

Pemangku yang berdua

1. Pemangku Rajo

2. Rio Mangku Bumi *

Selain pemerintahan diatas, terdapat pemerintahan Otonomi tersendiri yang diakui kedudukannya oleh Kesultanan Jambi, Kesultanan Pagaruyung maupun Kesultanan Indrapura seperti:

A. Pemerintahan Tigo Luhah Tanah Sekudung berkedudukan di Siulak

Disebut Anjung lain Tepian Dewek, Adat Lain Pusako Mencin, di bawah pemerintahan Depati Bertiga, Bungkan Perbakalo yang Empat, Ninik Mamak Permenti Nan Salapan

Depati bertiga terdiri dari:

1. Depati Intan Kumbalo Bumi Kum Segalo Bumi Rajo di Siulak Mukai

2. Depati Mangkubumi Kulit Putih Suko Berajo di Siulak Panjang

3. Rajo Simpan Bumi Tunggun Setio Alam di Siulak gedang

Bungkan Perbakalo yang Empat

1. Demang Sakti

2. Jagung Tuo Nyato Depati

3. Jindah Tuo Susun Negeri

4. Serajo Tuntut gedang

Ninik Mamak Permenti yang Delapan

1. Rajo Liko

2. Rajo Indah

3. Rajo Penghulu

4. Temenggung Tuo Susun Negeri

5. Serajo Tumbuk Kris

6. Rio Mudo Mangku Bumi

7. Datuk Depati Paduko Rajo

8. Sulah Putih

COLLECTIE TROPENMUSEUM Een aantal religieuze specialisten zitten rondom een met textiel bekleed bouwwerk tijdens een oogstfeest te Kumun Sumatra TMnr 10000989
Tokoh agama di Kumun di masa Hindia Belanda

B. Wilayah Kumun, Batu Gong Tanah Kurnia

dibawah pemerintahan Depati berempat:

1. Depati Galang Negeri

2. Depati Puro Negaro

3. Depati Sampurno Bumi Putih

4. Depati Nyato Negaro

C. Lolo, Seliring Kulambo Rajo

D. Lempur Lekuk Limo Puluh Tumbi

I. Enam Depati dari Pulau Sangkar

1. Depati Kerinci

2. Depati Anggo

3. Depati Sangkar

4. Depati Suko Berajo

5. Depati Gung

6. Depati Talago

II. Enam Depati dari Serampas

1. Depati Pulang

2. Depati Naur

3. Depati Serampas

4. Depati Ketau

5. Depati Payung

6. Depati Karamo

Kekuatan Depati menurut adat dikisahkan memenggal putus, memakan habis, membunuh mati. Depati mempunyai hak yang tertinggi untuk memutuskan suatu perkara. Dalam dusun ada 4 pilar yang disebut golongan 4 jenis, yaitu golongan adat, ulama, cendekiawan dan pemuda. Keempat pilar ini merupakan pemimpin formal sebelum belanda masuk Kerinci 1903. Sesudah tahun 1903, golongan 4 jenis berubah menjadi informal leader. Pemerintahan dusun(pemerintahan Depati) tidak bersifat otokrasi. Segala maslah dusun, anak kemenakan selalu diselesaikan dengan musyawarah mufakat.

Ninik Mamak mempunyai kekuatan menyelesaikan masalah di dalam kalbunya masing-masing. Dusun terdiri dari beberapa luhah. Luhah terdiri dari beberapa perut dan perut terdiri dari beberapa pintu, di dalam pintu ada lagi sikat-sikat. Bentuk pemerintahan Kerinci sebelum kedatangan Belanda dengan system demokrasi asli, merupakan system otonomi murni. Eksekutif adalah Depati dan Ninik Mamak. Legislatif adalah Orang tuo Cerdik Pandai sebagai penasihat pemerintahan. Depati juga mempunyai kekuasaan menghukum dan mendenda diatur dengan adat yang berlaku dengan demikian dwifungsi Depati ini adalah sebagai Yudikatif dusun. Ini pun berlaku sampai sekarang untuk pemerintah desa, juga pada Zaman penjajahan Belanda dan Jepang dipergunakan untuk kepentingan memperkuat penjajahannya di Kerinci.

Hubungan Kekerabatan

Masyarakat Kerinci menarik garis keturunan secara matrilineal, artinya seorang yang dilahirkan menurut garis ibu menurut suku ibu. Suami harus tunduk dan taat pada tenganai rumah, yaitu saudara laki-laki dari istrinya. Dalam masyarakat Kerinci perkawinan dilaksanakan menurut adat istiadat yang disesuaikan dengan ajaran agama Islam.

Hubungan kekerabatan di Kerinci mempunyai rasa kekeluargaan yang mendalam. Rasa sosial, tolong-menolong, kegotongroyongan tetap tertanam dalam jiwa masyarakat Kerinci. Antara satu keluarga dengan keluarga lainnya ada rasa kebersamaan dan keakraban. Ini ditandai dengan adanya panggilan-panggilan pasa saudara-saudara dengan nama panggilan yang khas. Karenanya keluarga atau antar keluarga sangat peka terhadap lingkungan atau keluarga lain. Antara orang tua dengan anak, saudara-saudara perempuan seibu, begitupun saudara-saudara laki-laki merupakan hubungan yang potensial dalam menggerakkan suatu kegiatan tertentu.

Hubungan Kemasyarakatan

Struktur kesatuan masyarakat Kerinci dari besar sampai yang kecil, yaitu kemendapoan, dusun, kalbu, perut, pintu dan sikat. Dalam musyawarah adat mempunyai tingkatan musyawarah adat, pertimbangan dan hukum adat, berjenjang naik, bertangga turun, menurut sko yang tiga takah, yaitu sko Tengganai, sko Ninik Mamak dan sko Depati.

Perbedaan kelas dalam masyarakat Kerinci tidak begitu menyolok. Stratifikasi sosial masyarakat Kerinci hanya berlaku dalam kesatuan dusun atau antara dusun pecahan dusun induk. Kesatuan ulayat negeri atau dusun disebut parit bersudut empat. Segala masalah yang terjadi baik masalah warisan, kriminal, tanah dan sebagainya selalu disesuaikan menurut hukum adat yang berlaku.

Referensi

  1. ^ a b c Zulyani, Hidayah (2015). Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 9789794619292. OCLC 913647590.
  2. ^ Radja, Aditia Maruli. "Suku Kerinci Lebih Tua dari Indian Inka ?". Diakses tanggal 9 September 2016.
  3. ^ Uhangkayo. "Suku Bangsa Asli Kerinci". Diakses tanggal 16 Agustus 2016.

Pranala Luar

Bahasa Kerinci

Bahasa Kerinci adalah bahasa yang digunakan suku Kerinci di sekitar wilayah Sungai Penuh. Bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Ragam dialeknya sangat tinggi bila dilihat dari wilayah penuturnya yang kecil. Beberapa dialek diantaranya Ulu, Mamak, Akit, Talang, dan Sakei. Aksara Rencong (Incung) adalah aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa Kerinci.

Daftar suku bangsa di Indonesia menurut provinsi

Berikut ini adalah daftar suku bangsa di Indonesia berdasarkan provinsi (ke-26 provinsi Indonesia mula-mula).

Yang berada dalam tanda '<>' adalah provinsi pemekaran.

Dagang Kelambir, Tanjung Morawa, Deli Serdang

Dagang Kelambir merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, provinsi Sumatra Utara, Indonesia.

Dagang Kelambir adalah pemukiman masyarakat Melayu Deli. Namun begitu, penduduk Dagang Kelambir mayoritas adalah suku Kerinci, sub-etnis dari Melayu Jambi. Belum pasti kapan kedatangan perantau Kerinci asal Jambi bermula ke Medan, sehingga membentuk sebuah Desa.

Masyarakat Melayu Deli dan Kerinci membentuk sebuah kultur budaya baru di Dagang Kelambir. Meski keturunan Kerinci, adat Melayu Deli masih dipegang teguh oleh masyarakat Dagang Kelambir, sehingga tidak heran masyarakat desa ini menggunakan dua bahasa daerah, bahasa Melayu dan Kerinci.

Jambi

Jambi (Jawi: جامبي) adalah sebuah Provinsi Indonesia yang terletak di pesisir timur di bagian tengah Pulau Sumatra. Jambi adalah nama provinsi di Indonesia yang ibu kotanya bernama sama dengan nama provinsinya, selain Bengkulu, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dan Gorontalo.

Kabupaten Kerinci

Kabupaten Kerinci adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Kerinci ditetapkan sebagai Kabupaten sejak awal berdirinya Provinsi Jambi dengan pusat pemerintahan di Sungai Penuh. Pada tahun 2011, pusat pemerintahan berpindah ke Siulak. Nama kerinci berasal dari bahasa Tamil yaitu Kurinji, yang merupakan nama bunga yang tumbuh di daerah pegunungan india selatan.

Kabupaten Rejang Lebong

Kabupaten Rejang Lebong adalah sebuah kabupaten di provinsi Bengkulu, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.515,76 km² dan populasi sekitar 257.498 jiwa (2016). Ibu kotanya ialah Curup. Kabupaten ini terletak di lereng pegunungan Bukit Barisan dan berjarak 85 km dari kota Bengkulu yang merupakan ibu kota provinsi.

Penduduk asli terdiri dari 2 suku utama yaitu suku Rejang dan suku Lembak. Suku Rejang mendiami tanah atas yaitu kecamatan Curup, Curup Utara, Curup Timur, Curup Selatan, Curup Tengah, Bermani Ulu, Bermani Ulu Raya, dan sebagian Selupu Rejang. Suku Lembak mendiami tanah bawah yaitu kecamatan Kota Padang, Padang Ulak Tanding, Binduriang, Sindang Dataran, Sindang Beliti Ulu, Sindang Beliti Ilir, dan Sindang Kelingi.

Kenduri sko

Kenduri Sko adalah rangkaian acara adat berupa peringatan (kenduri) yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Kerinci di Provinsi Jambi. Acara ini juga disebut dengan istilah Kenduri Pusako (Pusaka). Istilah sko berasal dari kata saka berarti keluarga atau leluhur dari pihak ibu dan biasa disebut dengan khalifah ngan dijunnung dan waris yang dijawab. Sko sendiri dibagi menjadi sko tanah dan sko gelar, dimana sko gelar dapat diberikan oleh ibu kepada saudara laki-laki dari pihak ibu (mamak).

Pada acara ini terdapat dua agenda pokok yaitu acara untuk menurunkan dan menyucikan benda-benda pusaka, dan acara untuk mengukuhkan pada orang yang akan menerima gelar adat. Acara penurunan benda pusaka biasanya dilaksanakan tiap setahun sekali, atau 5-10 tahun sekali, bahkan 25 tahun sekali. Di daerah Tanjung Tanah acara penurunan benda pusaka dilaksanakan setiap 7 sampai 10 tahun.

Kerinci

Kerinci dapat mengacu pada beberapa hal berikut:

Suku Kerinci

Bahasa Kerinci

Kabupaten Kerinci, Jambi.

Gunung Kerinci, Jambi.

Taman Nasional Kerinci Seblat

Matrilineal

Matrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu. Kata ini seringkali disamakan dengan matriarkhat atau matriarkhi, meskipun pada dasarnya artinya berbeda. Matrilineal berasal dari dua kata bahasa Latin, yaitu mater yang berarti ibu, dan linea yang berarti garis. Jadi, matrilineal berarti mengikuti garis keturunan yang ditarik dari pihak ibu.

Sementara itu matriarkhat berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu mater yang berarti ibu, dan archein yang berarti memerintah. Jadi, matriarkhi berarti kekuasaan berada di tangan ibu atau pihak perempuan.

Penganut adat matrilineal adalah:

Suku Indian di Apache Barat

Suku Khasi di Meghalaya, India Timur Laut

Suku Nakhi di provinsi Sichuan dan Yunnan, Tiongkok

Suku Minangkabau di Sumatra Barat

Suku Kerinci di Jambi

Penduduk asli Amerika Serikat: Suku Navajo, sebagian besar suku Pueblo, suku Crow, dll.

Beberapa suku kecil di kepulauan Asia PasifikLawan dari matrilineal adalah patrilineal yaitu suatu adat masyarakat yang menyatakan alur keturunan berasal dari pihak ayah. Penganut adat patrilineal di Indonesia sebagai contohnya adalah suku Batak, suku Rejang, suku Aceh, Suku Minahasa, Suku Sangir dan suku Gayo.

Adat patrilineal lebih umum digunakan kelompok masyarakat dunia dibandingkan matrilineal yang lebih jarang penggunaannya.

Serayo

Serayo atau nyanyo adalah sistem gotong royong pada masyarakat suku Kerinci yang berada di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Sistem ini juga sering disebut baselang atau berselang. Pada prinsipnya, serayo merupakan gotong royong yang menguntungkan individu atau memenuhi kepentingan seseorang yang meminta bantuan untuk mengerjakan sesuatu. Adapun permintaan tersebut dilakukan oleh salah satu pihak kepada kaum kerabat terdekatnya, para tetangga yang berada di dekat rumahnya, maupun warga sekampung (kelurahan ataupun dusun). Orang yang dimintai pertolongan akan memberikan bantuan sesuai dengan permintaan pihak yang memerlukan bantuan. Dalam sistem serayo terlihat adanya unsur kerja sama dalam mengerjakan sesuatu yang dipimpin oleh orang yang meminta pertolongan. Orang yang diminta biasanya tidak menolak dan dapat diperkirakan warga akan "membalas" kebaikan sebelumnya.

Siulak Deras Mudik, Gunung Kerinci, Kerinci

Siulak Deras Mudik adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci, Jambi, Indonesia. Penduduk yang menetap disini terdiri dari suku jawa, suku minang dan suku kerinci. Mereka hidup saling tolong menolong, budaya gotong royong masih terpelihara sampai sekarang, didesa ini terdapat area penambangan pasir yang belum terkelola dengan baik,uluran tangan pemerintah sangat diharapkan agar ekosistem yang ada terjaga dengan baik, desa ini terdiri dari enam RT hampir ditiao RT ada langgar/surau sarana ibadah, mayoritas penduduknya beragama islam, kehidupan sehari-hari penduduknya adalah bertani, berdagang dan bekerja sbg pns dan berwiraswasta, hasil bumi terdiri dari kulit manis, kopi, cabe, kentang, sayur mayur, produk home industri berupa sirup kayu manis. Di desa ini juga ada sarana pendidikan seperti PAUD, Sekolah Dasar dan Sekolah menengah pertama, Di desa ini juga ada Perusahaan air minum dan juga ada sarana olahraga.

Suku Jambi

Suku Jambi atau Melayu Jambi (Jawi: ملايو

جامبي) merupakan suku yang berasal dari Jambi. Mereka mendiami wilayah Kota Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Bungo, dan Kabupaten Tebo. Dusun-dusun mereka saling berjauhan dengan rumah-rumah yang dibangun di pinggiran sungai besar atau sungai kecil.

Jambi merupakan wilayah yang terkenal dalam literatur kuno. Nama negeri ini sering disebut dalam prasasti-prasasti dan juga berita-berita Tiongkok. Ini merupakan bukti bahwa, orang Cina telah lama memiliki hubungan dengan Jambi khususnya Suku Melayu Jambi, yang mereka sebut dengan nama Chan-pei. Diperkirakan, telah berdiri tiga kerajaan Melayu Kuno di Jambi, yaitu Koying (abad ke-3 M), Tupo (abad ke-3 M) dan Kantoli (abad ke-5). Seiring perkembangan sejarah, kerajaan-kerajan ini lenyap tanpa banyak meninggalkan jejak sejarah.

Dalam sejarah kerajaan di Nusantara Jambi dulu adalah wilayah Minanga Kamwa (nama Minang Kabau Kuno 1 M) adalah tanah asal pendiri Kerajaan Melayu dan Sriwijaya dari wilayah Minanga Kamwa inilah banyak lahir raja-raja di Nusantara, baik sekarang yang berada di Malaysia, Brunei dan Indonesia di negeri Jambi ini pernah dikuasai oleh beberapa kekuatan besar, mulai dari Sriwijaya, Singosari, Majapahit, Malaka hingga Johor-Riau. Terkenal dan selalu menjadi rebutan merupakan tanda bahwa Jambi sangat penting pada masa lalu. Bahkan, berdasarkan temuan beberapa benda purbakala, Jambi pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya.

Suku Melayu

Suku Melayu (bahasa Melayu: Melayu; Jawi: ملايو) adalah sebuah kelompok etnis dari orang-orang Austronesia terutama yang menghuni Semenanjung Malaya, seluruh Sumatra, bagian selatan Thailand, pantai selatan Burma, pulau Singapura, Borneo pesisir termasuk Brunei, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sarawak dan Sabah pesisir, Filipina bagian barat dan selatan, dan pulau-pulau kecil yang terletak antara lokasi ini — yang secara kolektif dikenal sebagai "Dunia Melayu". Lokasi ini sekarang merupakan bagian dari negara modern Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Burma, Thailand, dan Filipina.

Meskipun begitu, banyak pula masyarakat Minangkabau, Mandailing, dan Dayak yang berpindah ke wilayah pesisir timur Sumatra dan pantai barat Kalimantan, mengaku sebagai orang Melayu. Selain di Nusantara, suku Melayu juga terdapat di Sri Lanka, Kepulauan Cocos (Keeling) (Cocos Malays), dan Afrika Selatan (Cape Malays).

Suku Melayu-Indonesia

Melayu Indonesia (Melayu dan Indonesia. Abjad Jawi: ملايو ايندونيسيا) adalah Orang Melayu yang tinggal di Indonesia. Indonesia merupakan populasi orang Melayu terbanyak kedua setelah Malaysia. Secara historis, Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau dan Kepulauan Riau. Ada sejumlah kerajaan Melayu di Indonesia yang berada di pulau Sumatra dan Kalimantan. Ada beberapa kerajaan Melayu yang terkenal di antaranya adalah Sriwijaya, Kesultanan Deli, Kesultanan Johor-Riau dan Kesultanan Sambas.

Berikut ini uraian suku Melayu di wilayah Indonesia:

Suku Melayu (Muslim) di Indonesia menurut sensus tahun 2000 terdiri dari:

Melayu Tamiang

Melayu Palembang, dalam sensus 1930 tidak digolongkan suku Melayu.

Melayu Bangka-Belitung, pada sensus 1930 tidak digolongkan suku Melayu.

Melayu Deli

Melayu Riau

Melayu Jambi

Melayu Bengkulu

Melayu Pontianak

Suku bangsa serumpun di Sumatra :

Suku Minangkabau (muslim)

Suku Lampung (muslim)

Suku Kerinci (muslim)

Suku Talang Mamak (non muslim)

Suku Sakai (non muslim)

Orang Laut

Suku Rejang (muslim)

Suku Serawai (muslim)

Suku Pasemah (muslim)

Suku Lubai (muslim)

Suku Rambang (muslim)

Suku bangsa serumpun di Kalimantan (Rumpun Banjar) :

Suku melayu Sambas (muslim)

Saq Senganan (Dayak Iban masuk Islam)

Suku Kedayan (muslim) dan Melayu Brunei (muslim)

Suku Banjar (muslim) dan Suku Bukit (non muslim)

Suku Kutai (muslim) dan Haloq (Dayak Tonyoy-Benuaq masuk Islam)

Suku Berau (muslim)

Suku bangsa serumpun di pulau Jawa :

Suku Betawi (muslim)

Sungai Abu, Air Hangat Timur, Kerinci

Sungai Abu adalah sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Air Hangat Timur, Kabupaten Kerinci, Jambi, Indonesia.

Sungai Abu di tinggali oleh kelompok masyarakat asli Kerinci yang Sudah lama menempati daerah ini, dan sebelum menjadi Sungai Abu masyarakat disini terbagi dalam dua kelompok yaitu Sitinggai dan Silamo, dan Depati Tanah Kampung menyatukan kelompok menjadi satu.

Sungai Abu memiliki dua ketua adat yaitu Rio Jayo Gedang dan Mangku Mudo Tiang Agamo. Dahulu Jika masyarakat yang di wilayah suku kerinci berbuat salah maka proses hukumnya dilakukan di wilayah Rawang jika pelaku dinyatakan bersalah dengan tingkatan berat maka akan di eksekusi di Sungai Mati tepatnya di wilayah Adat Rio Jayo Mangku Mudo desa Sungai Abu.

Objek wisata yang terdapat di desa tersebut adalah bukit Katenggan, tetapi belum diketahui secara luas oleh masyarakat karena kurang adanya dukungan dari Pemerintah untuk mempromosikannya. Di Bukit Katenggan terdapat batu yang menggambarkan seperti masjid, dan terdapat gua-gua kecil yang saling berhubungan, dan juga Air Panas yang terletak di pinggir Jalan raya. Sebagian besar penduduk sungai abu berpenghasilan sebagai petani, PNS, Polisi, TNI, dan ada yang merantau di negeri Malaysia untuk menghidupi keluarganya yang ada di kampung halamannya.

Salah satu keturunan Sungai Abu yang dikenal oleh penduduk masyarakat Malaysia adalah Haji Abdullah Hukum yang dulunya menjabat sebagai menteri kerajaan.

Saat ini Desa Sungai Abu mempunyai 5 bagian, yaitu: Desa Air Panas Sungai Abu, Desa Sungai Abu, Desa Baru Sungai Abu, Desa Pondok Sungai Abu dan Desa Koto Tebat.

Oleh pemuda-pemudi untuk sebutan Sungai Abu disingkat dengan sebutan USA atau Uhang Sunga Abeu yang bahasa Indonesia nya adalah Orang Sungai Abu.

Dari isu yang berkembang saat ini banyak yang menganggap bahwa dahulunya Sungai Abu adalah jajahan dari Sungai Penuh, tetapi kenyataannya tidak begitu karena sungai abu bukanlah jajahan dari sungai penuh.

Tari Rantak Kudo

Tari Rentak Kudo adalah tarian kesenian khas budaya asli masyarakat Kerinci yang berasal dari daerah Hamparan Rawang Kabupaten Kerinci, Jambi yang banyak diminati kalangan masayakat di Kabupaten Kerinci.

Bahasa lain

This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.