Miletos

Miletos (mī lē' təs) (bahasa Yunani kuno: Μίλητος, Milētos; bahasa Latin: Miletus) adalah kota Yunani kuno[1] di pesisir barat Anatolia (di tempat yang kini menjadi Provinsi Aydin, Turki), di dekat mulut Sungai Meandros di Karia kuno. Sebelum invasi Persia pada pertengahan abad ke-6 SM, Miletos dianggap sebagai kota Yunani terbesar dan termakmur[2]

Bukti pertama mengenai pemukiman awal di kota ini berasal dari masa Neolitikum. Pada awal dan pertengahan Zaman Perunggu, tempat ini dikuasai oleh Minoa.

Pada akhir Zaman Perunggu, abad ke-13 SM, muncul para penutur bahasa Luwia dari Anatolia selatan tengah yang menyebut diri mereka bangsa Karia. Di kemudian hari orang Yunani tiba di Miletos. Ketika itu kota ini sedang memberontak melawan Kekaisaran Het. Setelah keruntuhan Het, kota ini dihancurkan pada abad ke-12 SM dan mulai dihuni kembali oleh banyak orang Yunani Ionia sekitar 1000 SM.

Pada Zaman Kegelapan Yunani, pemukiman Ionia di Miletos bergabung dengan Liga Ionia. Pada abad ke-6 SM, Miletos menjadi tempat asal tradisi filsafat (dan ilmu pengetahuan) Yunani, ketika Thales, disusul oleh Anaximandros dand Anaximenes mulai memikirkan tentang bahan pembentuk dunia, dan mencari penjelasan masuk akal mengenai berbagai fenomena alam.

Miletos
Μίλητος
Polis kuno
Transkripsi Turki
 • Nama modernMilet
Transkripsi Het
 • EksonimMillawanda
 • EksonimMilawata
Teater Miletos Miletus

Teater Miletos
Miletus berlokasi di Turki
Miletus
Miletus
NegaraTurki
DaerahIonia
PendiriNeleus

Catatan kaki

  1. ^ Urban world history: an economic and geographical perspective By Luc-Normand Tellier page79 “The neighboring Greek city of Miletus, located on the Menander river was another terminal of the same route; it exerted certain hegemony over the Black sea trade and created about fifty commercial entrepôts in the Aegean sea and Black sea region...”
  2. ^ A Short History of Greek Philosophy By John Marshall page 11

Rujukan

  • Crouch, Dora P. (2004). Geology and Settlement: Greco-Roman Patterns. New York: Oxford University Press. ISBN [[Special:BookSources/0-19-508329-5|0-19-508329-5 [[Kategori:Artikel dengan ISBN salah]]]] Periksa nilai: invalid character |isbn= (bantuan).

Pranala luar

Koordinat: 37°31′49″N 27°16′42″E / 37.5302°N 27.2784°E

Abydos, Hellespontos

Abydos (bahasa Yunani: Άβυδος) adalah kota kuno di Mysia, Asia Kecil. Kota ini terletak di Nara Burnu atau Titik Nagara di pesisir Eropa Hellespontos. Di seberangnya terdapat kota Sestos, menandai salah satu titik tersempit di Dardanelles. Kisah Hero dan Leandros dalam mitologi Yunani bertempat di Abydos.

Anaximandros

Anaximandros adalah seorang filsuf dari Mazhab Miletos dan merupakan murid dari Thales. Seperti Thales, dirinya dan Anaximenes tergolong sebagai filsuf-filsuf dari Miletos yang menjadi perintis filsafat Barat. Anaximandros adalah filsuf pertama yang meninggalkan bukti tulisan berbentuk prosa. Akan tetapi, dari tulisan Anaximandros hanya satu fragmen yang masih tersimpan hingga kini.

Anaximenes

Anaximenes adalah seorang filsuf yang berasal dari kota Miletos, sama seperti Thales dan Anaximandros. Anaximenes hidup sezaman dengan kedua filsuf tersebut, kendati ia lebih muda dari Anaximandros. Ia disebut di dalam tradisi filsafat Barat, bersama dengan Thales dan Anaximandros, sebagai anggota Mazhab Miletos. Anaximenes adalah teman, murid, dan pengganti dari Anaximandros. Sebagaimana kedua filsuf Miletos yang lain, ia berbicara tentang filsafat alam, yakni apa yang menjadi prinsip dasar (arche) segala sesuatu.

Aristagoras

Aristagoras (bahasa Yunani: Αρισταγόρας ο Μιλήσιος) adalah pemimpin Miletos pada akhir abad ke-6 SM dan awal abad ke-5 SM.

Aristagoras menjabat sebagai deputi gubernur Miletos, sebuah kota di pesisir barat Anatolia sekitar tahun 500 SM. Dia adalah putra Molpagoras, dan menantu (sekaligus keponakan) Histiaios, yang ditunjuk sebagai tiran Miletos oleh Kekaisaran Persia. Aristagorasn menguasai Mietos ketika Histiaios ditahan oleh kaisar Persia Darius I di Susa. Aristagoras adalah dalang utama dalam Pemberontakan Ionia, ketika polis-polis Yunani Yunani Ionia di pesisir timur Laut Aigea bersatu melawan kekuasaan Persia.

Empedokles

Empedokles adalah seorang filsuf dari mazhab pluralisme. Tokoh lainnya dari mazhab ini adalah Anaxagoras. Jika filsuf-filsuf Miletos mengajarkan bahwa terdapat satu prinsip dasar yang mempersatukan alam semesta, Empedokles berpendapat lain. Menurut Empedokles, prinsip dasar itu tidaklah tunggal melainkan empat. Ia dikenal sebagai seorang dokter, penyair, ahli pidato, dan politikus.Empedokles menulis dua karya dalam bentuk puisi. Puisi pertama berjudul "Perihal Alam" (On Nature) dan yang kedua berjudul "Penyucian-Penyucian" (Purifications). Kedua karya tersebut memiliki 5000 ayat, tetapi yang masih ada hingga kini tinggal 350 ayat dari karya pertama, dan 100 ayat dari karya kedua. Para ahli tidak sepakat mengenai mana karangan yang lebih dahulu ditulis.

Hekataios dari Miletos

Hekataios dari Miletus (/ˌhɛkəˈtiːəs/; bahasa Yunani: Ἑκαταῖος ὁ Μιλήσιος; skt. 550 SM – skt. 476 SM), putra Hegesander, merupakan seorang sejarahwan dan Ahli geografi Yunani .

Histiaios

Histiaios (bahasa Yunani Kuno: Ἱστιαῖος, meninggal 494 SM), putra Lysagoras, adalah tiran Miletos pada akhir abad ke-6 SM. Histiaios menjadi tiran Miletos setelah Darius I, raja Persia, menaklukan Miletos dan negara-negara Ionia lainnya di Asia Kecil. Menurut Herodotos, Histiaios ikut serta bersama dengan tiran-tiran lainnya, di bawah kekuasaan Darius, dalam ekspedisi Persia melawan bangsa Skythia. Darius menanggap Histiaios sebagai anak buah yang setia sehingga kemudian menyuruhnya tinggal di Susa, ibu kota Persia, bersamanya sebagai penasehat, sementara jabatan tiran Miletos diserahkan kepada putra Histiaios, Aristagoras

Iliou Persis

Iliupersis (bahasa Yunani: Ἰλίου πέρσις, Iliou persis, "Penghancuran Ilion"), dikenal pula sebagai Penghancuran Troya, adalah epos sastra Yunani kuno yang hilang. Naskah ini merupakan salah satu dari Siklus Epik, yaitu siklus "Troya", yang menuturkan seluruh sejarah Perang Troya dalam bait epik. Kisah dalam Iliou persis secara kronologis berlangsung setelah Iliad Kecil, dan diikuti oleh Nostoi ("Kepulangan"). Iliou Persis terkadang disebutkan ditulis oleh Arktinos dari Miletos. Sajak ini terdiri atas dua buku dan ditulis dalam heksameter daktil.

Lampsakos

Lampsakos (//; bahasa Yunani Kuno: Λάμψακος) merupakan sebuah kota Yunani kuno yang berlokasi strategis di sisi timur Hellespont di Troad utara.Penduduk Lampsakos disebut Lampsakenos. Nama itu telah ditransmisikan di kota modern Lâpseki di dekatnya.

Lanike

Lanike atau Lanice (Bahasa Yunani: Λανίκη), juga disebut Hellanike atau Alacrinis, putri Critias, adalah saudari Kleitos dan perawat Aleksander Agung. Ia dilahirkan kemungkinan besar tak lama setelah tahun 380 SM; karena ia disebut sebagai ibunda dari Proteas dan dua putra lainnya yang meninggal di dalam Pengepungan Miletos pada tahun 334 SM. Suaminya mungkin adalah Andronikos dari Olynthos.

Pemberontakan Ionia

Pemberontakan Ionia dan pemberontakan terkait di Aiolis, Doris, Siprus, dan Karia, adalah pemberontakan militer oleh beberapa daerah di Asia Kecil terhadap kekuasaan Persia, dan berlangsung dari tahun 499 SM sampai 493 SM. Penyebab pemberontakan ialah ketidakpuasan kota-kota Yunani di Asia Kecil terhadap para tiran yang ditunjuk oleh Persia untuk memimpin mereka, juga kemarahan terhadap tindakan individual oleh dua tiran Miletos, yaitu Histiaios dan Aristagoras. Kota-kota Ionia sendiri ditaklukkan oleh Persia sekitar tahun 540 SM, dan sejak itu diperintah oleh tiran, yang diusulkan oleh satrap Persia di Sardis. Pada tahun 499 SM, tiran Miletos, Aristagoras, melancarkan ekspedisi gabungan bersama satrap Persia, Artaphernes, untuk menaklukkan Naxos, dengan tujuan menaikkan posisinya. Misi tersebut gagal, dan merasa bahwa dia akan dipecat, Aristagoras memilih untuk menghasut seluruh Ionia untuk memberontak menentang kaisar Persia, Darius yang Agung.

Pada tahun 498 SM, dibantu oleh pasukan dari Athena dan Eretria, pasukan Ionia bergerak, menangkap, dan membakar kota Sardis. Namun dalam perjalanan pulangnya, mereka diikuti oleh pasukan Persia, dan secara telak dikalahkan pada Pertempuran Ephesos. Kampanye ini adalah satu-satunya tindakan ofensif dari pihak Ionia, yang untuk selanjutnya malah menjadi tindakan defensif. Persia menanggapi pada tahun 497 SM dengan serangan bercabang tiga yang diarahkan untuk menangkap daerah di sekitar wilayah para pemberontak, tetapi menyebarnya pemberontakan ke Karia membuat pasukan terbesar Persia, dipimpin oleh Darius, harus dipindahkan ke sana. Walaupun pada walnya meraih keberhaslan di Karia, pasukan Persia dikalahkan dalam suatu penyergapan pada Pertempuan Pedasos. Ini berakibat pada kebuntuan untuk sisa tahun 496 dan 489 SM.

Pada tahun 494 SM, angkatan darat dan angkatan laut Persia berkumpul kembali, dan mereka menuju tepat ke pusat pemberontakan di Miletos. Angatan laut Ionia berusaha mempertahankan Miletos di laut, tetapi secara telak dikalahkan pada Pertempuran Lade, setelah bangsa Samos berkhianat dan balik mendukung Persia. Miletos dikepung dan dikuasai oleh Persia. Peristiwa di Miletos membuat pemberontakan berhenti, dan orang-orang Karia pun menyerah kepada Persia. Persia menghabiskan tahun 493 SM untuk menumpas sisa-sisa pemberontakan di kota-kota lainnya, sebelum akhirnya menetapkan kesepakatan damai di Ionia.

Pemberontakan Ionia merupakan konflik besar pertama antara Yunani melawan Kekaisaran Persia, dan menjadi fase pertama dalam Perang Yunani-Persia. Meskipun Asia Kecil berhasil dikuasai kembali oleh Persia, tetapi Darius bersumpah untuk menghukum Athena dan Eretria atas tindakan mereka yang membantu para pemberontak. Selain itu, Darius juga melihat bahwa kota-kota di Yunani dapat mengancam kestabilan Kekaisarannya. Maka dari itu, Darius pun berniat melakukan invasi ke Yunani.

Pengepungan Miletos

Pengepungan Miletos adalah konflik naval pertama antara Aleksander Agung melawan Kekaisaran Akhemeniyah. Pengepungan kecil ini ditujukan terhadap para penghuni Miletos, sebuah kota di Ionia selatan, di Karia, yang kini terletak di provinsi Anatolia di Turki modern. Kota ini ditaklukan oleh putra Parmenion, Nikanor pada tahun 334 SM.

Pengepungan Naxos (499 SM)

Pengepungan Naxos (499 SM) adalah usaha yang gagal oleh tiran Miletos, Aristagoras, yang bekerja dengan dukungan, dan atas nama Kekaisaran Persia pimpinan Darius yang Agung, untuk menaklukkan Pulau Naxos. Ini adalah peristiwa yang mengawali Perang Yunani-Persia, yang kelak akan berlangsung selama 50 tahun.

Aristagoras didekati oleh para aristokrat Naxos yang telah dikucilkan, yang berkeinginan untuk kembali ke pulau mereka. Melihat kesempatan untuk meningkatkan posisinya di Miletos, Aristagoras meminta dukungan dari pemimpinnya, raja Persia Darius yang Agung, dan satrap lokal, Artaphernes, untuk menaklukkan Naxos. Persia setuju dan mengirim 200 kapal trireme di bawah komado Megabates.

Ekspedisi ini dengan cepat berubah menjadi bencana. Aristagoras dan Megabates bersitegang dalam perjalanan ke Naxos, dan seseorang (kemungkinan Megabates) memberi tahu rakyat Naxos mengenai kedatangan pasukan Persia. Akibatnya, ketika mereka tiba, pasukan Persia dan Ionia harus berhadapan dengan kota yang sudah bersiap menghadapi pengepungan. Pasukan ekspedisi tetap mengepung kota itu, tetapi setelah empat bulan tanpa keberhasilan dan kekurangan uang, mereka pun terpaksa kembali ke Asia Kecil.

Setelah ekspedisi yang gagal ini, Aristagoras merasa bahwa dia akan dipecat dari jabatannya sebagai tiran. Akhirnya dia memilih untuk menghasut seluruh Ionia untuk memberontak terhadap Darius yang Agung. Pemberontakan menyebar ke Karia dan Siprus. Persia pun melakukan kampanye di seluruh Asia Kecil selama tiga tahun tanpa hasil yang bagus, sebelum akhirnya pasukan Persia dikumpulkan ulang dan dikirim langsung ke pusat pemberontakan di Miletos. Pada Pertempuran Lade, Persia secara telak mengalahkan armada Ionia dan secara efektif mengakhiri pemberontakan. Meskipun Asia Kecil berhasil dikuasai kembali oleh Persia, Darius bersumpah untuk menghukum Athena dan Eretria, yang telah membantu pemberontaan. Maka dari itu pada tahun 492 SM, invasi pertama Persia ke Yunani dilakukan sebagai tindak lanjut dari kegagalan serangan ke Naxos dan Pemberontakan Ionia.

Perang Yunani-Persia

Perang Yunani-Persia (disebut juga Perang Persia) adalah serangkaian konflik antara Kekaisaran Persia Akhemeniyah melawan negara kota di Yunani kuno. Perang ini bermula pada tahun 499 SM dan berakhir pada tahun 449 SM. Bentrokan antara dunia Yunani yang secara politik terpecah-pecah melawan Kekaisaran Persia yang sangat besar sudah dimulai ketika Koresh yang Agung menaklukkan Ionia pada tahun 547 SM. Berusaha untuk mengendalikan kota-kota di Ionia, Persia menunjuk tiran untuk berkuasa di sana. Ini kemudian terbukti menjadi sumber masalah bagi Yunani dan Persia.

Pada tahun 499 SM, tiran di Miletos, yaitu Aristagoras, mulai melakukan ekspedisi untuk menaklukkan Pulau Naxos, dengan dukungan Persia; Namun, ekspedisi itu berakhir dengan kegagalan dan Aristagoras pun akhirnya dipecat. Aristagoras lalu menghasut kota-kota Yunani di Asia Kecil untuk memberontak melawan Persia. Ini adalah awal dari Pemberontakan Ionia, yang berlangsung sampai tahun 493 SM, dan dalam perkembangannya menyeret lebih banyak daerah di Asia Kecil ke dalam konflik. Aristagoras memperoleh bantuan militer dari Athena dan Eretria. Pada tahun 498 SM, pasukan Athena dan Eretria membakar ibu kota regional Persia di Asia Kecil, yaitu Kota Sardis. Kaisar Persia, Darius yang Agung marah dan bersumpah akan membalas Athena dan Eretria atas tindakan mereka. Pemberontakan terus berlanjut, dan kedua belah pihak menemui jalan buntu sepanjang 497–495 SM. Pada tahun 494 SM, Persia menyerang pusat pemberontakan di Miletos. Pada Pertempuran Lade, pasukan Ionia mengalami kekalahan telak dan pemberontakan pun berakhir, dan sisa-sisanya dibasmi pada tahun berikutnya.

Berusaha mengamankan kekaisarannya dari ancaman pemberontakan lainnya, dan juga dari campur tangan Yunani daratan, Darius akhirnya melancarkan serangan ke Yunani, untuk menghukum Athena dan Eretria atas pembakaran Sardis. Invasi pertama Persia ke Yunani dimulai pada tahun 492 SM, dengan Jenderal Persia, Mardonios, menaklukkan Thrakia dan Makedonia sebelum akhirnya pasukan Persia mengalami bencana dan terpaksa mengakhiri kampanyenya. Pada tahun 490 SM, pasukan kedua dikirim ke Yunani, kali ini melalui Laut Aigea, di bawah komando Datis dan Artaphernes. Ekspedisi ini berhasil menundukkan Kyklades, sebelum kemudian mengepung, menaklukkan, dan menghancurkan Eretria. Akan tetapi, ketika berusaha menyerang Athena, pasukan Persia dikalahkan secara telak oleh pasukan Athena pada Pertempuran Marathon, yang sekaligus menghentikan invasi pertama Persia. Darius kemudian menyusun rencana untuk kembali menyerang Yunani, tetapi dia terlebih dahulu meninggal pada tahun 486 SM, dan tanggung jawab penaklukan beralih kepada putranya, Xerxes I. Pada tahun 480 SM, Xerxes secara langsung memimpin invasi kedua Persia ke Yunani dengan pasukan yang sangat banyak. Kemenangan melawan 'Persekutuan' negara kota Yunani (dipimpin oleh Sparta dan Athena) pada Pertempuran Thermopylae membuat Persia dapat menduduki sebagian besar Yunani. Akan tetapi, ketika berusaha menghancurkan armada laut Yunani, Persia malah mengalami kekalahan berat pada Pertempuran Salamis. Pada tahun berikutnya, persekutuan negara kota Yunani melancarkan serangan dan mengalahkan pasukan Persia pada Pertempuran Plataia, sekaligus mengakhiri invasi Persia di Yunani.

Persekutuan Yunani menindaklanjuti kesuksesan mereka dengan menghancurkan sisa-sisa armada Persia pada Pertempuran Mykale, sebelum kemudian mengusir garnisun Persia dari Sestos (479 SM) dan Byzantion (478 SM). Tindakan Jenderal Pausanias pada Pengepungan Byzantion menjauhkan banyak negara kota Yunani dari pihak Sparta, dan persekutuan anti-Persia kemudian dibentuk kembali dengan dipimpin oleh Athena, dalam persatuan yang disebut Liga Delos. Liga Delos terus melakukan kampanye melawan Persia selama tiga dekade berikutnya, dimulai dengan pengusiran sisa-sisa garnisun Persia dari Eropa. Dalam Pertempuran Eurymedon pada tahun 466 SM, Liga Delos meraih kemenangan ganda yang pada akhirnya membuat kota-kota di Ionia dapat merdeka. Akan tetapi, keterlibatan Liga Delos dalam pemberontakan Mesir (dari 460–454 SM) berujung pada kekalahan telak dan kampanye yang lebih lanjut harus ditunda. Liga Delos mengirim pasukan ke Siprus pada tahun 451 SM, dan setelah menariknya kembali, Perang Yunani-Persia pun benar-benar berakhir. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa akhir bentrokan ditandai dengan perjanjian damai antara Athena dan Persia, yaitu pada Perdamaian Kallias.

Pertempuran Lade

Pertempuran Lade (bahasa Yunani: Ναυμαχία τῆς Λάδης, Naumachia tēs Ladēs) adalah pertempuran laut yang terjadi dalam peristiwa Pemberontakan Ionia, pada tahun 494 SM. Pertempuran ini berlangsung antara persekutuan negara kota Ionia (dibantu oleh Lesbos) melawan Kekaisaran Persia pimpinan Darius yang Agung, dan berakhir dengan kemenangan telak bagi Persia.

Pemberontakan Ionia dipicu oleh ketidakpuasan kota-kota Yunani di Asia Kecil terhadap para tiran yang ditunjuk oleh Persia untuk memimpin mereka. Pada tahun 499 SM, tiran Miletos, Aristagoras, melancarkan ekspedisi gabungan bersama satrap Artaphernes untuk menaklukkan Naxos, dengan tujuan meningkatkan posisinya di Miletos. Misi ini berujung bencana, dan merasa bahwa dia akan dipecat, Aristagoras memilih untuk menghasut seluruh Ionia supaya memberontak terhadap raja Persia Darius yang Agung. Pada awalnya, pihak Ionia melakukan ofensif, dengan didukung oleh pasukan dari Athena dan Eretria, menaklukkan Sardis, sebelum akhirnya menderita kekalahan pada Pertempuran Ephesos. Pemberontakan kemudian menyebar ke Karia dan Siprus. Persia pun melakukan kampanye di seluruh Asia Kecil selama tiga tahun tanpa hasil yang bagus, sebelum akhirnya pasukan dan armada Persia dikumpulkan ulang pada tahun 494 SM dan dikirim langsung ke pusat pemberontakan di Miletos.

Pasukan Ionia berniat untuk mempertahankan Miletos melalui laut dan menyerahkan pertahanan kota kepada rakyat Miletos sendiri. Armada Ionia berkumpul di pulau Lade, lepas pantai Miletos. Persia tidak yakin akan memenangkan pertempuran di Lade, jadi mereka membujuk beberapa kontingen Ionia untuk membelot. Meskipun usaha ini pada awalnya tidak berhasil, ketika Persia menyerang pasukan Ionia, armada Samos menerima tawan Persia. Ketika armada Persia dan Ionia bentrok, armada Samos langsung pergi dari pertempuran, menyebabkan jatuhnya barisan tempur Ionia. Meskipun kontingen Khios dan beberapa kapal lainnya tetap bertempur melawan Persia, mereka tetap dikalahkan.

Dengan kekalahan di Lade, Pemberontakan Ionia pun mulai berakhir. Setahun kemudian, Persia mengalahkan pertahanan terakhir pemberontak, dan memulai proses pengembalian perdamaian ke daerah tersebut. Pemberontakan Ionia menjadi konflik besar pertama antara Yunani kuno melawan Persia, dan merupakan tahap pertama dalam Perang Yunani-Persia. Meskipun Asia Kecil berhasil dikuasai kembali oleh Persia, Darius bersumpah untuk menghukum Athena dan Eretria atas keterlibatan mereka dalam pemberontakan. Selain itu, dia melihat bahwa negara-negara kota Yunani dapat membawa ancaman bagi kestabilan kekaisarannya. Akhirnya, dia memutuskan untuk menaklukkan seluruh Yunani. Pada tahun 492 SM, invasi pertama Persia ke Yunani dilaksanakan, yang merupakan tahap berikutnya dalam Perang Yunani-Persia, yang terjadi akibat Pemberontakan Ionia.

Priene

Priene (bahasa Yunani kuno: Πριήνη, Priēnē) adalah negara Yunani kuno di Ionia dan merupakan anggota Liga Delos. Priene terletak di dasar lereng Mykele, sekitar 6 kilometer (4 mi) sebelah utara sungai Maiandros (kini disebut sungai Büyük Menderes atau "Meandros Besar"), 67 kilometer (42 mi) dari Aydin modern, 15 kilometer (9 mi) dari Söke modern dan 25 kilometer (16 mi) dari Miletos kuno. Priene awalnya berada di pesisir laut, dibangun menghadap lautan di lereng yang memanjang dari permukaan laut hingga ketinggian 380 meter (1250 ft) di atas permukaan laut di puncak lereng. Pada masa kini, bentang alamnya telah berubah.

Sekolah Miletos

Sekolah Miletos adalah sebutan bagi para filsuf-filsuf Miletos, yakni Thales, Anaximandros, dan Anaximenes. Miletos merupakan nama kota yang menjadi asal dari ketiga filsuf tersebut. Sekolah Miletos dikenal di dalam sejarah Filsafat Barat sebab merupakan pionir dari proses berfilsafat yang kemudian berkembang di dalam sejarah manusia.

Sungai Büyük Menderes

Sungai Büyük Menderes (dulunya Maiandros, dari bahasa Yunani kuno: Μαίανδρος, Maíandros; bahasa Turki: Büyük Menderes Irmağı) adalah sungai di Turki barat daya. Sungai ini berawal di Turki tengah barat dekat Dinar dan mengalir ke barat melalui graben hingga ke Laut Aigea di dekat kota kuno Miletos di Ionia.

Thales

Thales dari Miletos adalah seorang filsuf yang mengawali sejarah filsafat Barat pada abad ke-6 SM. Sebelum Thales, pemikiran Yunani dikuasai cara berpikir mitologis dalam menjelaskan segala sesuatu. Pemikiran Thales dianggap sebagai kegiatan berfilsafat pertama dan disebut sebagai bapak filsafat. Karena mencoba menjelaskan dunia dan gejala-gejala di dalamnya tanpa bersandar pada mitos melainkan pada rasio manusia. Ia juga dikenal sebagai salah seorang dari Tujuh Orang Bijaksana (dalam bahasa Yunani hoi hepta sophoi), yang oleh Aristoteles diberi gelar 'filsuf yang pertama'. Selain sebagai filsuf, Thales juga dikenal sebagai ahli geometri, astronomi, dan politik. Bersama dengan Anaximandros dan Anaximenes, Thales digolongkan ke dalam Mazhab Miletos.Thales tidak meninggalkan bukti-bukti tertulis mengenai pemikiran filsafatnya. Pemikiran Thales terutama didapatkan melalui tulisan Aristoteles tentang dirinya. Aristoteles mengatakan bahwa Thales adalah orang yang pertama kali memikirkan tentang asal mula terjadinya alam semesta. Karena itulah, Thales juga dianggap sebagai perintis filsafat alam (natural philosophy).

Bahasa lain

This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.