Maimun Zubair

Kyai Haji Maimun Zubair, kadang ditulis menggunakan ejaan lama Maimoen Zoebair, (lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928 – meninggal di Mekkah, 6 Agustus 2019 pada umur 90 tahun), atau akrab dipanggil Mbah Moen, adalah seorang ulama dan politikus Indonesia. Ia Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan hingga ia wafat[2]. Ia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhirnya masa tugas, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya. Tapi rupanya tenaga dan pikiran ia masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode.

Kyai Haji
Maimun Zubair
Maimun Zubair, Antara TV Indonesia, 00.33
Lahir28 Oktober 1928
Rembang, Jawa Tengah, Hindia Belanda (sekarang Indonesia)
Meninggal6 Agustus 2019 (umur 90)[1]
Mekkah, Arab Saudi
Nama lainMbah Moen
PekerjaanUlama
Anak10 (termasuk Gus Yasin)
Orang tua
  • Kyai Zubair Dahlan (bapak)

Wafat

Mbah Moen wafat setelah melaksanakan salat Subuh, pada pukul 04.30 waktu setempat di rumah sakit An-Nur Mekkah.[3] Tidak ada gejala beliau sakit karena malam sebelumnya beliau menerima kunjungan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Dr. Agus Maftuh Abegebriel.

Mbah Moen dimakamkan di Ma'la, Mekkah. Makamnya berdekatan dengan makam guru beliau, Sayid Alawi al-Maliki al-Hasani dan makam istri Rasulullah saw, Sayyidah Khadijah.[1]

Referensi

  1. ^ "Mbah Moen Meninggal Dunia di Makkah". CNN Indonesia. 6 Agustus 2019. Diakses tanggal 6 Agustus 2019.
  2. ^ "NU Kehilangan Satu Tokoh Terbaiknya". celebestopnews.com. 2019-08-06. Diakses tanggal 2019-08-06.
  3. ^ https://www.liputan6.com/news/read/4030664/kiai-maimun-zubair-wafat-usai-salat-subuh?utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.0&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F

Pranala luar

28 Oktober

28 Oktober adalah hari ke-301 dalam setahun (hari ke-301 dalam tahun kabisat) pada Kalender Gregorian. Sisa 64 hari lagi sampai akhir tahun.

Abdul Ghofur

Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur (lahir di Paciran, Lamongan, 12 Februari 1951; umur 68 tahun) adalah pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat di Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Kyai Ghofur merupakan keturunan ke-14 dari Sunan Drajat (Raden Qosim). Saat ini ia menjabat sebagai salah satu dewan penasehat Nahdlatul Ulama' (NU) Jawa Timur sekaligus sebagai tokoh NU di Indonesia. Pondok pesantren yang diasuhnya merupakan satu-satunya pesantren peninggalan Wali Songo yang masih ada dan saat ini menjadi salah satu pesantren dengan jumlah santri terbanyak di Indonesia.

Abdul Wahab Hasbullah

Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah (lahir di Jombang, 31 Maret 1888 – meninggal 29 Desember 1971 pada umur 83 tahun) adalah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, dakwahnya dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014.

Beliau adalah pengarang syair "Ya Lal Wathon" yang banyak dinyanyikan dikalangan Nahdliyyin, lagu Ya Lal Wathon di karangnya pada tahun 1934. KH Maimun Zubair mengatakan bahwa syair tersebut adalah syair yang beliau dengar, peroleh, dan di nyanyikan saat masa mudanya di Rembang. Dahulu syair Ya Lal Wathon ini dilantangkan setiap hendak memulai kegiatan belajar oleh para santri.Lirik Syubbanul Wathon (Cinta Tanah Air) –

Yaa Lal Wathon – Hubbul Wathon Minal Iman

Karya: KH. Abdul Wahab Chasbullah (1934)

(Ijazah KH. Maemon Zubair Tahun 2012)

ياَ لَلْوَطَنْ ياَ لَلْوَطَن ياَ لَلْوَطَنْ

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon

حُبُّ الْوَطَنْ مِنَ اْلإِيمَانْ

Hubbul Wathon minal Iman

وَلاَتَكُنْ مِنَ الْحِرْماَنْ

Wala Takun minal Hirman

اِنْهَضوُا أَهْلَ الْوَطَنْ

Inhadlu Alal Wathon

اِندُونيْسِياَ بِلاَدى

Indonesia Biladi

أَنْتَ عُنْواَنُ الْفَخَاماَ

Anta ‘Unwanul Fakhoma

كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْماَ

Kullu May Ya’tika Yauma

طَامِحاً يَلْقَ حِماَمًا

Thomihay Yalqo Himama

Pusaka Hati Wahai Tanah Airku

Cintamu dalam Imanku

Jangan Halangkan Nasibmu

Bangkitlah Hai Bangsaku

Pusaka Hati Wahai Tanah Airku

Cintamu dalam Imanku

Jangan Halangkan Nasibmu

Bangkitlah Hai Bangsaku

Indonesia Negeriku

Engkau Panji Martabatku

Siapa Datang Mengancammu

Kan Binasa di bawah durimu

Ahmad Bahauddin Nursalim

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha' adalah salah satu ulama Nahdlatul 'Ulama (NU) yang berasal dari Desa Narukan, Kec. Kragan, Kab. Rembang, Jawa Tengah. Gus Baha' dikenal sebagai salah satu Ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur'an. Ia merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, K.H. Maimun Zubair, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling. Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin.

Mencermati kesan dari para muhibbin atau fans Gus Baha, mengikuti pengajiannya itu menyenangkan. Islam menjadi terasa begitu mudah dan lapang. Ger-geran menjadi bagian tak terpisahkan dari isi ceramahnya yang mendalam dan luas.

Diam-diam, Gus Baha juga menjadi inspirasi bagi para santri pesantren salafiyah (tradisional), bahwa kedalaman ilmu seorang santri, pada akhirnya akan melampaui gelar-gelar akademik.

Gus Baha adalah sosok yang sederhana. Ada cerita tentang pernikahannya yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi para “pejuang Islam” yang masih sorangan wae (jomblo). Ia dijodohkan oleh pamannya untuk menikahi seorang Ning, putri salah seorang pengasuh pesantren Sidogiri.

Sebelum akad nikah, Gus Baha menghadap calon mertuanya untuk meyakinkan bahwa beliau tak salah pilih menantu. Ia menjelaskan dirinya yang jauh dari kemewahan dan hanya bergumul dengan dunia keilmuan. Dijelaskan seperti itu mertuanya malah semakin yakin tak salah pilih. “Klop,” katanya dengan mantap.

Saking sederhananya, sampai saat ini hanya ada satu artikel tentang Gus Baha yang lumayan lengkap dan di-copy paste dalam berbagai media termasuk dirujuk dalam artikel ini. Belum tersedia semacam biografi yang komprehensif yang menjelaskan sosok kiai pesantren yang alim ini.

Kiai kelahiran 1970 ini memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya.

Mereka menyewa rumah yang tak jauh dari kediamannya. Ketika ayahnya wafat pada 2005, ia harus kembali ke Kragan, tetapi pengajiannya di Yogyakarta tetap berlangsung sebulan sekali. Para muhibbin Gus Baha dengan tekun mengikuti pengajian bulanan itu di Pesantren Izzati Nuril Qur’an Bedukan, Pleret, Bantul.

Ia juga mengampu pengajian tafsir di Bojonegoro. Atas permintaan Kiai Sahal Mahfudh, Gus Baha juga mengajar ushul fiqih di Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati.

Pilihannya memulai “karir” di Jogja sungguh tepat. Di Kota Gudeg ini ia bersua intelektual dari berbagai disiplin ilmu yang semakin mengasah kepakarannya. Kadang ia diledek juga, “Kiai, Anda ini bacaannya luas kok tetap memilih NU?”

Gus Baha menjawabnya ringan, “Memangnya kalau saya tetap NU, jadi problem?”

Di Kota Pelajar ini ia misalnya membentuk “Kajian Kematian” bersama para doktor dan profesor. Karena hidup di dunia yang sebentar saja dipersiapkan begitu serius, maka kehidupan akhirat yang jauh lebih lama, tentu harus dibahas dan dikaji lebih serius lagi.

Tanpa terekam media, termasuk di lingkungan NU, Gus Baha “keluyuran” dari satu pesantren ke pesantren lain, memberikan paparan tentang tafsir dan hadis. Misalnya di Pesantren Sidogiri, ia mengisi Pengaruh Israiliyat Terhadap Penafsiran Alquran. Kali lain ia menyampaikan paparan dalam seminar tafsir dan hadits di Pesantren Fathul Ulum, Kwagean, Kediri. Di Ma’had Ali Pesantren Maslakul Huda ia mengkaji Kontekstualisasi Ayat-Ayat Perang dalam sebuah Muhadloroh ‘Ammah (kuliah umum).

Dalam pengajiannya ia menegaskan sebagai bukan penceramah atau mubalig. Ia mengaji. Sambil membaca kitab Jalalain misalnya, ia membacakan juga sejumlah rujukan yang relevan dengan tema yang dibahas.

Awalnya ia menolak untuk muncul di saluran Youtube, tapi membolehkan para santrinya untuk merekam. Para santri ini lalu berhimpun dalam aplikasi telegram untuk saling berbagai rekaman pengajian Gus Baha. Ada juga yang menggunakan media dan aplikasi lain.

Baru belakangan Gus Baha berkenan pengajian atau ceramahnya tayang di Youtube. Itulah sebabnya dalam tampilan di Youtube, pengajiannya kebanyakan masih berupa audio. Kutipan di awal artikel ini menjadi contoh muhibbin Gus Baha berkomunikasi dan berbagi informasi

Dari sebuah link, didapati sejumlah rekaman pengajian Gus Baha yang bisa diunduh, antara lain: Kajian tafsir Jalalain, Arbain fi Ushuliddin, Hayatus Shohabah, Musnad Ahmad, Nashoihul Ibad, al-Hikam, dan lain-lain. Penguasaanya ilmunya khas pesantren, tidak hanya alim di satu bidang, tapi lintas bidang, tafsir, fikih dan ushul fikih, hadis, dan tentunya tasawuf. Ini berbeda dengan sarjana kampus, baik dari Barat ataupun Timur.

Setiap pendakwah punya pilihan medium dakwahnya. Seorang kiai tidak bisa dipaksakan untuk menggunakan saluran media tertentu. Biarlah pilihan-pilihan media itu berkembang seiring waktu dan kebutuhan sang kiai. Jangan sampai saluran-saluran itu justru membuatnya tidak nyaman dan terkekang.

Beri keleluasan kepadanya untuk menempatkan dirinya dalam peta intelektual muslim Indonesia, sesuai karya dan kepakarannya. Dan jadwal ngaji yang padat seperti yang ditunjukkan di paragraf awal ini pun harus “diwaspadai”. Biasanya, kalau sudah sibuk, mulai jarang sendiri, padahal sendiri itu penting.

Ala kulli hal, tulisan ini hanyalah berupa amatan dari jauh dari seorang penggemar baru. Tentu belum cukup untuk menjelaskan sosok Gus Baha secara lengkap. Untuk itu, para santri Gus Baha sendiri yang lebih tepat untuk menuliskannya.

Alawi bin Abbas al-Maliki

Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani merupakan salah seorang ulama Makkah terunggul pada abad yang lalu. Dia telah mengajar pelbagai ilmu Islam turath di Masjidil Haram selama hampir 40 tahun. Ratusan murid dari seluruh pelusuk dunia telah mengambil faedah daripada dia melalui kuliah dia di Masjidil Haram, dan ramai di kalangan mereka telah memegang jawatan penting agama di negara masing-masing.

Daftar puisi yang dikarang oleh Fadli Zon

Selama menjalani karier politiknya, Fadli Zon juga mengarang puisi. Ini didukung oleh riwayat pendidikannya yang lulus dari Jurusan Sastra Rusia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Sampai saat ini, Fadli Zon telah membuat 31 puisi, dengan rincian 8 puisi dibuat selama kampanye pemilihan umum presiden Indonesia 2014, 4 puisi dibuat pada 2016, 7 puisi dibuat pada 2017, 8 puisi dibuat pada 2018, dan 4 puisi dibuat pada 2019; Fadli tidak menulis satu puisi pun pada 2015. Fadli juga membuat 2 perlombaan membaca puisi di YouTube, yang pertama lomba membaca puisi "Tukang Gusur" pada 2016 dan yang terakhir lomba membaca puisi "Sajak Sang Penista" pada 2017. Fadli Zon juga menerbitkan Memeluk Waktu yang berisi delapan puisi pilihan yang diterjemahkan ke dalam delapan bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Inggris, Mandarin, Arab, Rusia, dan Prancis.Tidak jelas kepada siapakah hampir semua puisi dituju, tetapi, jika dilihat dari preferensi politik Fadli, puisi-puisi tersebut ditujukan kepada Joko Widodo dan pihak-pihak yang mendukungnya. Tjahjo Kumolo, dalam menanggapi puisi "Kaos dan Sepeda", menyebut bahwa pemimpin yang dimaksud adalah Joko dan Muhammad Jusuf Kalla. Ini diperjelas dengan puisi "Menonton Kedunguan", yang mana Fadli membuat puisi tersebut kepada pihak yang berada di kubu yang berseberangan dengan Fadli. Namun, terdapat sebuah puisi berjudul "Paman Donald Yang Mulia" yang jelas ditujukan kepada Donald Trump.Tanggapan mengenai puisi Fadli Zon beragam. Joko menyebut puisi yang ditujukan kepada dirinya merupakan hiburan rakyat. Fadjroel Rachman dan Arbi Sanit menyebut bahwa puisi yang dibuat Fadli tergolong menyerang dan tidak disertai dengan bukti yang kuat. Usman Kansong menyebut puisi karangan Fadli merogol khitah puisi yang semestinya penuh keindahan menjadi penuh kebencian karena syahwat politik Fadli lebih besar daripada cipta, rasa, dan karsa.

Daftar tokoh Islam Indonesia

Berikut ini adalah tokoh-tokoh agama Islam di Indonesia

Daftar tokoh agama Indonesia

Berikut ini sebagian dari tokoh-tokoh intelektual dan agama di Indonesia

Doa yang Ditukar

"Doa yang Ditukar" merupakan puisi yang dikarang oleh Fadli Zon pada 3 Februari 2019. Puisi ini adalah puisi kedua yang dikarang Fadli pada 2019 setelah "Ahmad Dhani" dan dan puisi ke-28 yang dikarang sejak 2014; Fadli kemudian mengarang puisi berjudul "Sajak Orang Kaget" selang beberapa hari setelah penulisan puisi ini. Puisi ini menanggapi insiden kesalahan pembacaan doa oleh Maimun Zubair yang malah mendoakan Prabowo Subianto alih-alih Joko Widodo dalam zikir akbar. Zikir akbar ini merupakan bagian dari lawatan Joko ke Pondok Pesantren Al-Anwar di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, yang merupakan lawatan kedua Joko ke pondok pesantren tersebut selepas lawatan pertama pada 4 Mei 2014. Puisi ini mendapat tanggapan yang beragam di kalangan pihak, termasuk puisi balasan yang dibuat Romahurmuziy dan Irma Suryani Chaniago. Sejumlah pihak mempertanyakan penggunaan beberapa kata, termasuk "kau", dan dibalas Fadli dengan "makelar doa". Banyak santri menggelar unjuk rasa menuntut Fadli meminta maaf kepada Maimun. Tuntutan permintaan maaf juga disuarakan oleh beberapa tokoh politik lainnya. Walaupun awalnya Fadli menolak meminta maaf atas puisinya, tetapi Fadli akhirnya meminta maaf karena dampak yang luas dari puisi ini.

Halaman Utama/Arsip 10 Juni 2006

Isi dari Wikipedia berada dalam naungan Lisensi Dokumentasi Bebas GNU, yang berarti bebas dan akan tetap bebas selamanya. Lihat hak cipta untuk mengetahui lebih lanjut tentang latar belakang hak cipta, sumber terbuka, dan isi bebas.

Statistik Wikipedia Indonesia 1.Statistik Wikipedia Indonesia 2 (tabel).Statistik Wikipedia Indonesia 3 (grafik).Statistik perbandingan Wikipedia semua bahasa

Halaman Utama/arsip-des04

Isi dari Wikipedia berada dalam naungan Lisensi Dokumen Bebas GNU, yang berarti bebas dan akan tetap bebas selamanya. Lihat hak cipta (dalam bahasa Inggris) untuk mengetahui lebih lanjut tentang latar belakang hak cipta, sumber terbuka, dan isi bebas.

Artikel apa saja yang dibuat atau mengalami perubahan selama 365 hari terakhir

Statistik Wikipedia Indonesia 1.Statistik Wikipedia Indonesia 2.

Kabupaten Rembang

Rembang (Hanacaraka: ꦏꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀​ꦉꦩ꧀ꦧꦁ

, bahasa Jawa: Kabupatèn Rembang) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibu kotanya adalah Rembang. Kabupaten ini berbatasan dengan Teluk Rembang (Laut Jawa) di utara, Kabupaten Tuban (Jawa Timur) di timur, Kabupaten Blora di selatan, serta Kabupaten Pati di barat.

Makam pahlawan pergerakan emansipasi wanita Indonesia, R. A. Kartini, terdapat di Kabupaten Rembang, yakni di Desa Bulu yang masuk ke jalur Rembang-Blora (Mantingan).

Kematian tahun 2019

Berikut adalah daftar tokoh-tokoh yang meninggal dunia pada tahun 2019.

=== Januari 2019 ===

4: Torro Margens (68), aktor Indonesia

10: Philippe de Lannoy (96), bangsawan Belgia

11: Michael Atiyah (89), matematikawan Inggris, penerima Penghargaan Abel (2004)

11: Jason Dean Gibbs (49), pembalap mobil Amerika Serikat, pemilik Joe Gibbs Racing

12: Nukman Luthfie (54), pengamat media sosial Indonesia

12: Edward Sirait (76), sutradara Indonesia

14: Robby Tumewu (65), aktor Indonesia

14: Paweł Adamowicz (53), politikus Polandia, Wali Kota Gdańsk (1998–2019)

15: Gebi Ramadhan (24), pelawak tunggal Indonesia

15: Mario Monje (89), politikus komunis Bolivia

18: Glen Wood (93), pembalap mobil Amerika Serikat, pendiri tim Wood Brothers Racing

19: Daniel C. Striepeke (88), artis tata rias Amerika Serikat

19: Tony Mendez (78), petugas intelijen Amerika Serikat

20: Ging Ginanjar (54), jurnalis Indonesia

21: Emiliano Sala (28), pemain sepak bola Argentina

22: James Frawley (82), sutradara Amerika Serikat

22: Tan Swie Ling (80), aktivis Indonesia

24: Fernando Sebastián Aguilar (89), kardinal Katolik Spanyol

25: Erik Dwi Ermawansyah (23), pemain sepak bola Indonesia

25: Krishna Sobti (93), penulis India

26: Michel Legrand (86), komposer Prancis

26: Eka Tjipta Widjaja (97), konglomerat Indonesia, pendiri Sinar Mas

29: Rahman Tolleng (81), aktivis, politikus Indonesia

29: George Fernandes (88), politikus India

29: James Ingram (66), penyanyi, penulis lagu Amerika Serikat

30: Saphira Indah (32), aktris Indonesia

31: Awaluddin Djamin (91), mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (1972–1982)

=== Febuari 2019 ===

1: Parhan Ali (72), politikus dan birokrat Indonesia, Bupati Bangka Barat (2005–2010, 2016–2019)

3: Detsl (35), penyanyi hip hop Rusia

6: Manfred Eigen (91), biofisikawan Jerman, penerima Nobel Kimia (1967)

7: Albert Finney (82), aktor Inggris

7: Jan Olszewski (88), politikus Polandia, Perdana Menteri (1991–1992)

11: Sibghatullah Mojadeddi (93), politikus Afganistan, Penjabat Presiden (1992)

12: Gordon Banks (81), pemain sepak bola Inggris

15: Purnomo Muhammad Yudhi (56), pelari cepat Indonesia

16: Nani Soedarsono (90), politikus Indonesia, Menteri Sosial (1983–1988)

16: Bruno Ganz (77), aktor Swiss

19: Karl Lagerfeld (85), perancang busana Jerman

20: Claude Goretta (89), sutradara Swiss

20: Nana Krip (73), penyiar radio, pelawak Indonesia

22: Kodi Ramakrishna (69), sutradara India

24: Donald Keene (96), cendekiawan, sejarawan dan penulis Jepang kelahiran Amerika

24: Antoine Gizenga (93), politikus Kongo, Perdana Menteri (1960–1961, 2006–2008)

25: Reinout Sylvanus (90), politikus Indonesia, Gubernur Kalimantan Tengah (1967–1978)

27: France-Albert René (83), politikus Seychelles, Presiden (1977–2004), Perdana Menteri (1976–1977)

28: Nedi Gampo (53), seniman legendaris Minangkabau

28: Didik Mangkuprojo (80), pelawak Indonesia, anggota Srimulat

28: André Previn (89), komponis, pianis, konduktor Amerika Serikat kelahiran Jerman, pemenang Oscar (1959, 1960, 1964, 1965)

=== Maret 2019 ===

1: Mahadi Sinambela (71), politikus Indonesia, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (1999–2000)

1: Kevin Roche (96), arsitek Amerika Serikat kelahiran Irlandia, pemenang Penghargaan Pritzker (1982)

1: Zhores Alferov (88), fisikawan, politikus Rusia, penerima Nobel Fisika (2000)

1: S. Tidjab (72), penulis sandiwara radio Indonesia, pencipta Tutur Tinular

2: Nur Tompel (64), pelawak Indonesia

2: Keith Harvey Miller (94), politikus Amerika Serikat, Gubernur Alaska (1969–1970)

4: Klaus Kinkel (82), politikus Jerman, Wakil Kanselir (1993–1998)

4: Luke Perry (52), aktor Amerika Serikat

14: Charlie Whiting (66), direktur olahraga motor Inggris, direktur balap Formula 1 FIA (sejak 1997)

14: Godfried Danneels (85), kardinal Belgia, Uskup Agung Mechelen-Brussel (1979–2010)

17: Manohar Parrikar (63), politikus India, Ketua Menteri Goa (2000–2005, 2012–2014, 2017–2019), Menteri Petahanan (2014–2017)

17: Tunku Puan Zanariah (78), Raja Permaisuri Agong (1984–1989)

26: Nazarudin Kiemas (70), politikus Indonesia, anggota DPR RI (1999–2019)

26: Ahmad Syarwani Zuhri (68), ulama Indonesia, ketua MUI Kota Balikpapan

27: Daud Hasyim (67), Mantan Wakil Bupati Ogan Ilir

29: Agnès Varda (90), sutradara film Prancis

29: Tao Ho (82), arsitek Hong Kong, perancang bendera Hong Kong

=== April 2019 ===

1: Vonda N. McIntyre (70), pengarang fiksi ilmiah Amerika Serikat

5: Sydney Brenner (92), ahli bologi Afrika Selatan, pemenang Nobel Fisiologi atau Kedokteran (2002)

6: David J. Thouless (84), fisikawan Britania, pemenang Nobel Fisika (2016)

7: Cho Yang-ho (70), pebisnis Korea Selatan, CEO Korean Air

11: Mus Mulyadi (73), penyanyi keroncong Indonesia

13: Paul Greengard (93), ahli saraf Amerika Serikat, pemenang Nobel Fisiologi atau Kedokteran (2000)

14: Neles Tebay (55), pastor Indonesia

14: David Brion Davis (92), sejarawan Amerika Serikat

14: Gene Wolfe (87), penulis fiksi ilmiah dan fantasi Amerika Serikat

17: Alan García (69), politikus Peru, Presiden (1985–1990, 2006–2011)

17: Dynand Fariz (55), perancang busana Indonesia

19: Syaiful Zachri (55), polisi Indonesia

19: Rodolfo Severino Jr. (82), diplomat Filipina, Sekjen ASEAN (1998–2002)

22: Lê Đức Anh (98), politikus dan jenderal Vietnam, Presiden Vietnam (1992–1997)

23: Jean dari Luksemburg (98), Haryapatih Luksemburg (1964–2000)

25: John Havlicek (79), pemain bola basket Amerika Serikat

28: Richard Lugar (87), politikus Amerika Serikat, Senator (1977–2013), Wali Kota Indianapolis (1968–1976)

28: Frans Albert Joku (66), tokoh Papua

29: Eddie Riwanto (63), aktor Indonesia

=== Mei 2019 ===

3: Lukas Tingkes (77), Wali Kota Palangka Raya (1983–1988)

7: Jean Vanier (90), filsuf, teolog dan humanitarian Kanada

8: Sprent Dabwido (46), Presiden Nauru (2011–2013)

10: Frederick Brownell (79), ahli veksilologi Afrika Selatan, perancang bendera Namibia dan Afrika Selatan

11: Khikmawan Santosa (40-an), penata suara film Indonesia

12: Nasrallah Boutros Sfeir (98), kardinal Maronit Lebanon, Patriark Antiokhia (1986–2011)

12: Machiko Kyō (95), aktris Jepang

13: Doris Day (97), aktris, penyanyi, dan aktivis kesejahteraan hewan Amerika Serikat

14: Tim Conway (85), aktor dan komedian Amerika Serikat

16: I. M. Pei (102), arsitek Tionghoa-Amerika

16: Bob Hawke (89), Perdana Menteri Australia (1983–1991)

20: Niki Lauda (70), pembalap F1 Austria, juara dunia F1 (1975, 1977, 1984)

20: Yasuo Furuhata (84), sutradara Jepang

22: Muhammad Arifin Ilham (49), pendakwah Indonesia

23: Bondan Gunawan (71), mantan Menteri Sekretaris Negara Kabinet Persatuan Nasional

23: Hosei Norota (89), politikus Jepang, Direktur Jenderal Badan Pertahanan (1998–1999) dan Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (1995–1996)

24: Murray Gell-Mann (89), fisikawan Amerika Serikat, penerima Nobel Fisika (1969)

25: Claus von Bülow (92), sosialita Inggris-Denmark

26: Marselinus Y. W. Petu (55), Bupati Ende

26: Prem Tinsulanonda (98), perwira militer dan politikus Thailand, Perdana Menteri Thailand (1980–1988)

27: Veeru Devgan (85), koreografer, aktor dan sutradara film India

28: Apolo Nsibambi (78), Perdana Menteri Uganda (1999–2011)

29: Muhammad Tholchah Hasan (80), Menteri Agama pada Kabinet Persatuan Nasional

31: Hari Sabarno (74), mantan Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Gotong Royong

=== Juni 2019 ===

1: Ani Yudhoyono (66), Ibu Negara Indonesia (2004–2014)

1: José Antonio Reyes (35), pemain sepak bola Spanyol

1: Michel Serres (88), filsuf Prancis

4: Lennart Johansson (89), Presiden UEFA (1990–2007)

5: Elio Sgreccia (90), bioetikawan dan kardinal Gereja Katolik Roma asal Italia

10: Girish Karnad (81), pemeran, sutradara, penulis dan pengarang drama India

12: George Toisutta (66), KSAD (2009–2011)

12: Sylvia Miles (94), aktris Amerika Serikat

13: Robby Sugara (68), aktor Indonesia

17: Muhammad Mursi (67), Presiden Mesir (2012–2013)

19: Abdul Djebar Hapip (83), Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat

19: Etika (29), youtuber Amerika Serikat

21: Dimitris Christofias (72), Presiden Siprus (2008–2013)

22: Thalles (24), pemain sepak bola Brasil

24: Yekaterina Mikhailova-Demina (93), dokter militer Rusia

27: Vijaya Nirmala (75), aktris, sutradara dan produser film India

29: Jeon Mi-seon (48), aktris Korea Selatan

29: Bigman Sirait (57), pendeta Indonesia

30: Abduh Aziz (51), produser film Indonesia

=== Juli 2019 ===

1: Norman Geisler (86), teolog Amerika Serikat

2: Jacky Zimah (63), penyanyi dangdut Indonesia

2: Lee Iacocca (94), eksekutif otomobil Amerika Serikat

3: Pol Cruchten (55), sutradara film Luksemburg

6: Cameron Boyce (20), aktor Amerika Serikat

6: João Gilberto (88), penyanyi, penulis lagu dan gitaris Brasil, pelopor gaya musik bossa nova

7: Sutopo Purwo Nugroho (49), Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB

9: Ross Perot (89), tokoh bisnis, miliarder, filantropis, dan politikus Amerika Serikat

9: Fernando de la Rúa (81), politikus Argentina, Presiden Argentina (1999–2001)

9: Johnny Kitagawa (87), pengusaha dan manajer bakat Jepang-Amerika

10: Valentina Cortese (96), aktris Italia

11: Rudy Badil (74), pendiri Warkop DKI

13: Abu Bakar (66), Bupati Bandung Barat (2008–2018)

13: Paolo Sardi (84), kardinal Italia, Pelindung Ordo Militer Berdaulat Malta (2010–2014)

14: Hussain Muhammad Ershad (89), Presiden Bangladesh (1983–1990)

15: Fergus Millar (84), sejarawan Britania Raya

18: David Hedison (92), aktor Amerika Serikat

19: Arswendo Atmowiloto (70), sastrawan Indonesia

19: César Pelli (92), arsitek Argentina-Amerika, perancang Menara Kembar Petronas

19: Rutger Hauer (75), aktor Belanda

21: José Manuel Estepa Llaurens (93), kardinal Spanyol, Ordinaris Militer Spanyol (1986–2003)

22: Li Peng (90), politikus Tiongkok, Perdana Menteri RRT (1988–1998)

25: Beji Caid Essebsi (92), politikus Tunisia, Presiden Tunisia (2014–2019)

25: Adolf Heuken (90), pastor Katolik dan penulis Jerman-Indonesia

26: Jaime Lucas Ortega y Alamino (82), kardinal Kuba, Uskup Agung Havana (1981–2016)

26: Barbara Zatler (38), model dan aktris Denmark (kematiannya diumumkan pada tanggal ini)

27: John Robert Schrieffer (88), fisikawan Amerika Serikat, penerima Nobel Fisika 1972

30: Ichsan Yasin Limpo (58), Bupati Gowa (2005–2015)

30: Darman Moenir (67), sastrawan Indonesia

31: Hamza bin Laden (29–30), mujahid Arab Saudi (kematiannya diumumkan pada tanggal ini)

=== Agustus 2019 ===

1: Agung Hercules (51), penyanyi dan aktor Indonesia

3: John Philip Saklil (59), Uskup Timika (2003–2019)

3: Syahiran (65), Bupati Pasaman Barat (2005–2010, 2016–2019)

3: Nikolai Kardashev (87), astrofisikawan Rusia, pengembang skala Kardashev

4: Nuon Chea (93), politisi Kamboja, Penjabat Perdana Menteri (1976) dan kepala ideologis Khmer Merah

6: Maimun Zubair (90), ulama dan politikus Indonesia

Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyyah al-Jawiyyah

Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyyah al-Jawiyyah atau dikenal dengan Madrasah Darul Ulum Makkah atau Madrasah Darul Ulum ad-Diniyyah adalah sebuah institusi pendidikan keilmuan agama Islam terkemuka di Makkah . Madrasah ini berhasil mendidik dan mengeluarkan banyak Ulama . Di Madrasah ini, ada sekitar 120 santri Nusantara yang pernah belajar, termasuk Syaikh Yasin al-Fadani .

Yasin adalah angkatan pertama lembaga ini .

Syaikh Ali bin Ibrahim al-Maliki, yang wafat pada tahun 1948, seorang Ulama Maghribi kenamaan dan ahli hadis dan nahwu, guru dari para Ulama Betawi dan Ulama besar Indonesia lainnya, menjadi jadi pelindung dan guru besar di madrasah ini .

Para santri yang datang dari berbagai negara untuk mendalami berbagai ilmu keislaman dan sanad keilmuan di Madrasah ini, disamping untuk memperoleh sanad hadist dan kitab-kitab dari Syaikh Yasin al-Fadani Para guru-guru besar di Darul Ulum adalah kebanyakan orang Indonesia . Madrasah Darul Ulum sampai awal tahun 1990 dipimpin oleh Syaikh Yasin.. Syaikh Yasin al-Fadani adalah rektor terkahir sebelum Madrasah ini ditutup oleh pemerintah Arab Saudi dengan alasan tertentu .

Partai Persatuan Pembangunan

Partai Persatuan Pembangunan (disingkat PPP atau P tiga) adalah sebuah partai politik di Indonesia. Pada saat pendeklarasiannya pada tanggal 5 Januari 1973 partai ini merupakan hasil gabungan dari empat partai keagamaan yaitu Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Parmusi. Ketua sementara saat itu adalah Mohammad Syafa'at Mintaredja. Penggabungan keempat partai keagamaan tersebut bertujuan untuk penyederhanaan sistem kepartaian di Indonesia dalam menghadapi Pemilihan Umum pertama pada masa Orde Baru tahun 1973.

Taj Yasin Maimoen

Taj Yasin (lahir di Rembang, Jawa Tengah, 2 Juli 1983; umur 36 tahun) merupakan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2018–2023. Beliau adalah wakil dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Sebelum menjadi wakil gubernur, Taj Yasin merupakan Anggota DPRD Jawa Tengah dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan yang berasal dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah 2 (Kabupaten Kudus, Jepara, Demak). Ia duduk di Komisi E yang membidangi pengawasan dalam bidang kesra, agama, pendidikan, olahraga, pemuda, dan bidang terkait. Ia dikenal sebagai anak dari ulama terkenal dari Rembang, Jawa Tengah, KH. Maimun Zubair (1928–2019). Ia dianggap sebagai representasi kalangan religius terutama Nahdatul Ulama. Selain itu, ia merupakan salah satu ketua GP Ansor Jawa Tengah.

Abad ke-3 H
Abad ke-4 H
Abad ke-5 H
Abad ke-6 H
Abad ke-7 H
Abad ke-8 H
Abad ke-9 H
Abad ke-10 H
Abad ke-11 H
Abad ke-12 H
Abad ke-13 H
Abad ke-14 H
Abad ke-15 H

Bahasa lain

This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.