Kitab Yudit

Kitab Yudit adalah salah satu kitab deuterokanonika, termasuk dalam Septuaginta serta dalam Perjanjian Lama Kristen Katolik dan Ortodoks Timur, tetapi dikecualikan dari naskah-naskah Yahudi dan digolongkan sebagai Apokrifa oleh Protestan.[1] Kitab ini disebut kitab yang inspirasional umat melawan semua penjajah yang hendak menajiskan tempat suci.[2]

Cristofano Allori 002
Yudit dengan Kepala Holofernes, oleh Cristofano Allori, 1613 (Koleksi Kerajaan, London)

Asal kata dan penulis

August Riedel Judith 1840
Yudit – August Riedel

Nama Yudit (bahasa Ibrani: יְהוּדִית - Yəhudit - Yəhûḏîṯ yang artinya "terpuji" atau "perempuan Yahudi") dalam bentuk feminim dari kata Yehuda. Menurut Irene Nowell, nama Yudit berasal dari kata Yudahite yang artinya perempuan Yahudi.[3]

Penulis kitab Yudit dijelaskan pada pasal 8-9:14, mulai pasal 8:1 diketahui bahwa Yudit adalah seorang Israel sejati.[3] Menurut David Michael Lindsey, Kitab Yudit ditulis sekitar abad ke-6 SM oleh seorang pahlawan perempuan yang dikenal dengan janda muda Manasye.[4] Penulisan dipengaruhi peristiwa-peristiwa Makabe.[5]

Status janda Yudit dalam tradisi Israel merupakan simbol kelemahan, orang yang tidak mempunyai kekuatan di masyarakat.[6] Oleh karena itu, perlu hukum yang mengatur agar para janda dapat dilindungi, seperti kasus perkawinan levirat.[6] Selain itu, kelemahan para janda juga terbukti dalam pelbagai pemberitaan para nabi untuk melindungi hak para janda, secara khusus menekankan perlindungan Allah.[6] Data tersebut adalah informasi yang dicatat Yudit terkait kematian Manasye, suami Yudit pada pasal 8:2-6.[6] Yudit juga dikenal sebagai wanita yang cantik dan elok parasnya pada Pasal 8:7.[6] Selain cantik dan elok, ada indikasi bahwa dia adalah wanita kaya dari warisan Manasye yang berupa emas dan perak, budak-budak dan sahaya-sahaya, ternak dan ladang pada pasal 8:7b dan seorang yang saleh atau takut akan Allah, pada pasal 8:8.[7] Dalam masyarakat yang dikuasai laki-laki, Yudit tampil memimpin, meminta para penatua kota berkumpul dan membagi tugas. Bila para tetua hanya berpikir tentang kebutuhan praktis sehari-hari, tentang air minum.[6] Yudit menjunjung tinggi namanya sebagai Israel sejati, yang diperjuangkan ialah keselamatan bangsa dan Negara.[8] Dalam pertimbangannya, situasi itu meminta risiko yang harus diperhitungkan masak-masak; kecuali tindakan tersebut akan menjadi contoh dan menimbulkan semangat juang yang tinggi.[8] Keberaniannya menggerakkannya untuk berpikir demi kepentingan orang lain, umat Israel, kenisah dan tempat suci.[8] Ia mencerminkan kebijaksanaan putri dari Abel-Bet-Maakha yang mengusulkan eksekusi Seba, supaya kepentingan seluruh bangsa terjamin.[6]

Selain itu Yudit juga digambarkan sebagai seorang pemberani pada pasal 9:9-27 dan bijaksana pasal 9:28-29. Gambaran ini didukung oleh ahli-ahli Katolik, seperti Craghan dan Kodell.[9]

Setting

Vouet - Judith
Yudit dengan kepala Holophernes, oleh Simon Vouet, (Alte Pinakothek, Munich)

Kitab Yudit mempunyai setting yang tragis yang menarik bagi para patriot Yahudi dan memperingatkan kepada para pembacanya agar menaati Hukum agama Yahudi.[2] Narasi Kitab Yudit dimulai dari seorang janda Manasye yang saleh,[10] yang kecewa dengan saudara-saudara sebangsanya karena tidak mau melawan para penjajah asing mereka.[3] Namanya adalah Yudit, yang dalam bahasa Ibrani berarti "Perempuan Yahudi".[10] Ia berhasil menyelamatkan Israel dari penghancuran total yang dilakukan oleh tentara Asyur.[10] Dalam kitab ini berisi macam-macam sindiran terhadap era Asyur, Babel, dan Persia.[11]

Yudit, disertai oleh hamba perempuannya Abra yang setia meskipun mungkin agak enggan, pergi ke kemah jenderal musuh, Holofernes.[3] Ia pelan-pelan memikatnya, menjanjikan pelayanan seksual dan informasi tentang bangsa Israel.[3] Setelah mendapatkan kepercayaannya (meskipun ia tidak memenuhi janjinya), ia memperoleh akses ke kemahnya pada suatu malam sementara Holofernes sedang tertidur karena mabuk.[6] Yudit memenggal kepalanya, lalu membawanya dan memperlihatkannya kepada orang-orang Holofernes.[3] Setelah kematian Holofernes Bangsa Asyur mengalami kekacauan dan Israel diselamatkan oleh tangan seorang perempuan.[3]

Menurut Nowell, kelalaian Holofernes disebabkan kecantikan Yudit.[3] Perjuangannya diwarnai dan didasarkan atas pengalaman religius yang mendalam dan hidupnya dijadikan pujian bagi Allah.[8] Sebagai pejuang ia tidak kehilangan sosok feminin yang lembut, cantik dan anggun.[8] Seluruh pribadinya mencerminkan kelembutan, kecantikan dan keanggunan.[8] Yudit juga seorang sosok ibu yang mandiri dan kreatif dan hal tersebut ditunjukkan dalam kedewasaannya.[8] Ia menunjukkan keberanian yang luar biasa untuk menghadapi musuh ketika seluruh bangsanya digelisahkan oleh lawan.[8] Bagi Yudit, kekerasan harus dilawan dengan kelembutan.[8] Meskipun banyak orang yang mencoba mendekatinya, Yudit tetap tidak menikah hingga akhir hayatnya.[3]

Konteks Umat Israel Pada Masa Yudit

Kecenderungan sosial Israel pada masa Yudit tidak terlepas dari masuknya budaya helenisasi yang dipersonifikasikan oleh kekuatan Nebukadnezar dan panglimanya Holofernes ke dalam kehidupan umat baik dalam aspek sosial, politik, budaya, ekonomi dan keagamaan.[12] Kebijakan helenisasi ini terus dipaksakan hingga mengakibatkan terancamnya kehidupan beriman umat Israel kepada Yahwe.[2] Isi kebijakan tersebut yakni orang-orang Yahudi harus meninggalkan praktik-praktik tradisional seperti cara beribadah, sunat dan melupakan aturan mengenai makanan yang halal dan haram.[2] Sebaliknya, orang-orang Yahudi dipaksa untuk mengambil alih cara berpikir dan beribadah Yunani yang bagi orang-orang Yahudi itu adalah sebuah pelacuran terhadap Yahwe.[2] Dalam situasi seperti ini, Wismoady mengatakan bahwa terdapat kelompok Yahudi yang berjuang menentang helenisasi yang dianggap bertentangan dengan iman Israel.[2] Vriezen menjelaskan bahwa walaupun ancaman tersebut, bangsa Israel semakin bertekad untuk mempertahankan warisan rohani yang dimilikinya dengan menolak secara tegas segala sesuatu yang mengancam kestabilan struktur agama.[13] Hal ini digambarkan pada pasal 7:19-32, di mana umat yang mulai berputus asa dan menganjurkan untuk melibatkan diri dalam kebijakan helenisasi:[13]

“….hendaklah kamu sekarang memanggil mereka dan menyerahkan seluruh kota kepada laskar Holofernes serta seluruh bala tentaranya untuk dirampasi. Lebih baik kita menjadi rampasan mereka. Memang kita akan menjadi budak, tetapi kita akan hidup terus dan tidak usah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematian kanak-kanak kita dan bagaimana isteri dan anak-anak kita kehilangan nyawanya.”

Saran itu mengguncang iman pemimpin umat sehingga ia (pemimpin umat: Uzia) mengeluarkan pernyataan mencobai Allah pada pasal 7:30.

“….tetapkan hati, saudara-saudara! Hendaknya kita tahan lima hari lagi. Jika hari-hari itu berlalu dengan tidak ada pertolongan datang, maka aku hendak berbuat sebagaimana telah saudara-saudara katakan.”

Kontras dengan mereka dalam situasi yang demikian, sebagian masyarakat (diwakili oleh Yudit) tetap berpegang pada tradisi iman mereka, bahwa Allah adalah Allah yang berkuasa dan tidak bisa diatur oleh kehendak manusia.[2] Yudit mengakui bahwa Allah adalah pahlawan yang akan melindungi dan menolong mereka pada waktu yang Ia kehendaki.[2]

Referensi

  1. ^ (Indonesia) David L. Baker. Mari Mengenal Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2008. Hal.21
  2. ^ a b c d e f g h (Indonesia) S. Wismoady Wahono. Di Sini Kutemukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2002. Hal 278, 271, 278, 762
  3. ^ a b c d e f g h i (Indonesia) Dianne Bergant, Robert J. Karris (ed) Irene Nowell. Yunus dalam tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius. 2002. Hal.756, 258-259
  4. ^ (Indonesia) David Michael Lindsey. Perempuan dan naga: penampakan-penampakan Maria. Yogyakarta: Kanisius. 2007. Hal 35-36
  5. ^ (Indonesia) H. Jagersma, Soeparto Poerbo. Dari Aleksander Agung sampai Bar Kokhba: sejarah Israel dari +_ 330 SM-135 M. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2003. Hal.76
  6. ^ a b c d e f g h (Inggris) Christian Conference of Asia. Urban Rural Mission. Conceiving a New Creation: Grassroots Women's Leadership Formation. 13-19 October 1990, Penang YMCA, Malaysia, URM Concerns. Hong Kong Christian Conference of Asia, 1990. Hal.44, 45.46,47
  7. ^ (Indonesia) Nancy de Flon. John Vidmar The Da Vinci Code & Tradisi Gereja. Yogyakarta: Kanisius. 2007. Hal.68
  8. ^ a b c d e f g h i (Indonesia) St Darmawijaya. Perempuan dalam Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius. 2003 Hal.41
  9. ^ (Indonesia) John Craghan dan Jerome Kodell. Tafsir Deuterokanonika 1: Tobit, Yudit, Barukh. Yogyakarta: Kanisius. 1990. Hal.75-76
  10. ^ a b c David Michael Lindsey. 2007, Perempuan & Naga: Penampakan-penampakan Maria. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 35.
  11. ^ W.R.F. Browning. 2009, Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia. hlm. 504.
  12. ^ (Inggris) Helmut Koester. History, Culture And Religion of The Helenistic Age. New York: Berlin. 1980. Hal 259
  13. ^ a b (Indonesia) TH. C. Vriezen. Agama Israel Kuno. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2006. Hal 292

Pranala luar

Deuterokanonika Perjanjian Lama
Didahului oleh:
Tobit
Kitab dalam Alkitab
Katolik Roma
Diteruskan oleh:
Ester
Kitab dalam Alkitab
Ortodoks Timur
Alkitab

Alkitab (bahasa Inggris: Bible) adalah sebutan untuk sekumpulan naskah yang dipandang suci dalam Yudaisme dan Kekristenan. Kata "Alkitab" yang digunakan dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab, dan juga digunakan umat Muslim untuk menyebut Al-Qur'an. Alkitab merupakan sekumpulan kitab suci yang ditulis pada waktu yang berlainan, oleh para penulis yang berbeda di lokasi-lokasi yang berbeda. Umat Yahudi dan Kristiani (Kristen) memandang kitab-kitab dalam Alkitab sebagai hasil dari pengilhaman ilahi, dan sebagai catatan otoritatif mengenai hubungan antara Allah dengan manusia.

Alkitab kanonik bervariasi tergantung pada tradisi ataupun kelompok; sejumlah kanon Alkitab telah berevolusi, dengan isi yang tumpang-tindih dan divergen. Perjanjian Lama Kristen bertumpang tindih dengan Alkitab Ibrani dan Septuaginta Yunani; Alkitab Ibrani dikenal dalam Yudaisme dengan sebutan Tanakh. Perjanjian Baru merupakan sekumpulan tulisan karya umat Kristen awal, yang diyakini bahwa kebanyakan di antaranya adalah para murid Yahudi Kristus, ditulis dalam bahasa Yunani Koine abad pertama. Tulisan-tulisan Yunani Kristen awal ini terdiri dari berbagai narasi, surat, dan tulisan apokaliptik. Di antara denominasi-denominasi Kristen terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai isi kanon, terutama dalam Apokrifa, yakni sejumlah karya yang dipandang dengan beragam tingkat penghormatan.

Berbagai kalangan Kristen menyikapi Alkitab secara berbeda. Kalangan Kristen Katolik Roma, Anglikan, dan Ortodoks Timur menekankan harmoni serta arti penting Alkitab dan tradisi suci, sementara kalangan Kristen Protestan berfokus pada konsep sola scriptura, atau hanya alkitab. Konsep ini timbul selama Reformasi Protestan, dan banyak denominasi Protestan yang hingga saat ini terus mendukung penggunaan Alkitab sebagai satu-satunya sumber ajaran Kristen.

Dengan jumlah total penjualan yang diperkirakan lebih dari 5 miliar kopi, Alkitab secara luas dianggap sebagai buku terlaris sepanjang sejarah. Diperkirakan bahwa penjualan tahunannya adalah 100 juta kopi, dan telah berpengaruh besar dalam sastra dan sejarah, terutama dalam dunia Barat. Alkitab Gutenberg adalah buku pertama yang dicetak secara massal, dan merupakan buku pertama yang dicetak menggunakan mesin cetak bergerak.

Alkitab bahasa Jawa

Alkitab bahasa Jawa, juga dikenal dengan nama Kitab Suci, adalah Alkitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Terjemahan ini diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Belanda pertama kalinya pada tahun 1854.

Apokrifa Perjanjian Lama

Apokrifa Perjanjian Lama digunakan untuk menyebut sekumpulan naskah-naskah kuno yang ditemukan pada sejumlah edisi Alkitab, ditempatkan terpisah di antara bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru atau sebagai lampiran (appendix) setelah Perjanjian Baru. Kata "apokrifa" berasal dari bahasa Yunani ἀπόκρυφος, apókruphos, yang berarti "tersembunyi". Meskipun istilah "apokrifa" telah digunakan sejak abad ke-5, barulah pada edisi Alkitab Luther tahun 1534, bagian itu diterbitkan terpisah di antara kedua bagian "Perjanjian" (intertestamental section). Sampai sekarang, apokrifa Perjanjian Lama ini "dimuat dalam leksionari gereja Anglikan dan gereja Lutheran."

Bapa Apostolik

Para Bapa Apostolik adalah teolog Kristen yang hidup pada abad ke-1 dan ke-2M, yang diyakini secara pribadi mengenal beberapa dari Kedua Belas Rasul, atau telah dipengaruhi secara signifikan oleh mereka. Tulisan-tulisan mereka, meskipun populer di Awal Kekristenan, pada akhirnya tidak termasuk dalam kanon Perjanjian Baru setelah mencapai bentuk akhir. Banyak tulisan-tulisan itu berasal dari periode waktu dan lokasi geografis yang sama dengan karya-karya lain dari literatur Kristen awal yang akhirnya menjadi bagian dari Perjanjian Baru, dan beberapa tulisan-tulisan yang ditemukan di antara karya-karya para Bapa Apostolik tampaknya dianggap tinggi nilainya seperti beberapa tulisan-tulisan yang kemudian termasuk ke dalam Perjanjian Baru.

Bet-Horon

Bet-Horon (bahasa Inggris: Bethoron atau Beth-Horon; "Rumah Horon") adalah sebuah kota strategis kuno yang terletak di jalan Gibeon-Aijalon, yang menuju "pendakian Bet-Horon". Dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, tercatat Bet-Horon Hulu (Upper Beth-Horon) pertama kali dalam Kitab Yosua, yaitu pada Yosua 16:5, sedangkan Bet-Horon Hilir (Lower Beth-Horon) pada Yosua 16:3.

Codex Sinaiticus

Kodeks Sinaiticus (Codex Sinaiticus; sekarang disimpan di British Library, London, Add. 43725; Gregory-Aland no. א (Aleph) atau 01) adalah sebuah naskah manuskrip lengkap Perjanjian Baru yang berasal dari abad ke-4. Naskah ini ditulis menggunakan huruf kapital Yunani (uncial). Selain kitab Perjanjian Baru, naskah ini juga memuat bagian besar Septuaginta. Bersama dengan Codex Vaticanus, Codex Sinaiticus adalah salah satu naskah terpenting Perjanjian Baru dan juga Septuaginta dalam bahasa Yunani dalam merunut sejarah tekstualnya.

Codex Sinaiticus ditemukan oleh Constantin von Tischendorf pada perjalannya yang ketiga ke Biara Santa Katarina, di Gunung Sinai, Mesir, 1859. Perjalanannya yang pertama dan kedua, menghasilkan penemuan potongan-potongan naskah dari Perjanjian Lama, beberapa di antaranya berasal dari tempat sampah. Tsar Alexander II dari Rusia lalu menyuruhnya untuk mencari naskah-naskah lain, yang diyakininya masih bisa ditemukan di biara Sinai ini.

Deuterokanonika

Kitab-kitab deuterokanonika (bahasa Inggris: deuterocanonical) adalah suatu istilah yang digunakan sejak abad ke-16 dalam Gereja Katolik Roma dan Kekristenan Timur untuk mendeskripsikan berbagai kitab dan bagian tertentu Perjanjian Lama Kristen yang bukan merupakan bagian dari Alkitab Ibrani saat ini. Istilah ini digunakan sebagai pembeda dengan kitab-kitab protokanonika yang terdapat dalam Alkitab Ibrani tersebut. Perbedaan ini sebelumnya menimbulkan perdebatan dalam Gereja perdana sehubungan dengan apakah kitab-kitab tersebut dapat digolongkan sebagai naskah-naskah kanonik. Istilah deuterokanonika digunakan sebagai suatu alasan kemudahan oleh Gereja Tewahedo Ortodoks Ethiopia dan Gereja lainnya untuk merujuk pada kitab-kitab Perjanjian Lama mereka yang bukan merupakan bagian dari Teks Masoret.

Kitab-kitab deuterokanonik tersebut dianggap kanonik oleh kalangan Katolik, Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental, dan Gereja dari Timur (termasuk Gereja Asiria dari Timur), tetapi tidak dianggap kanonik oleh kebanyakan kalangan Protestan. Kata deuterokanonika sendiri berasal dari bahasa Yunani yang kira-kira berarti "termasuk kanon kedua".

Penggunaan awal dari istilah tersebut membedakan kitab-kitab suci ini dari kitab yang dianggap non-kanonik, dan dari kitab yang dianggap protokanonik. Namun beberapa versi Alkitab memasukkan naskah yang berasal baik dari deuterokanonika maupun kitab-kitab non-kanonik ke dalam satu bagian tertentu yang disebut "Apokrifa". Pengaturan demikian dapat menyebabkan terjadinya penyamaan kedua istilah yang berbeda ("deuterokanonik" dan "apokrif"), karena istilah "deuterokanonik" tidak berarti "non-kanonik" (atau "apokrif").

Holofernes

Dalam deuterokanonika Kitab Yudit, Holofernes (bahasa Yunani: Ὀλοφέρνης; bahasa Ibrani: הולופרנס) adalah seorang senapati dari Nebuchadnezzar, yang mengerahkan Holofernes untuk mendatangi bangsa-bangsa Barat agar memberi bantuan mereka kepada pemerintahannya. Holofernes menduduki semua negara di sepanjang pantai laut dan menghancurkan setiap dewa bangsa, sehingga semua bangsa hanya akan menyembah Nebuchadnezzar. Holofernes diperingatkan oleh Akior, pemimpin bani Ammon, yang menentang penyerangan terhadap bangsa Yahudi. Holofernes dan para pengikutnya dimurkai oleh Akior. Mereka menyingkirkannya, dengan alasan bahwa tak ada tuhan selain Nebuchadnezzar.

Kanon Alkitab Kristen

Kanon Alkitab Kristen merupakan sekumpulan kitab yang dianggap oleh suatu denominasi Kristen sebagai terinspirasi secara ilahi dan dengan demikian membentuk sebuah Alkitab Kristen. Kendati Gereja perdana utamanya menggunakan Septuaginta (Perjanjian Lama Yunani, atau LXX) atau Targum dalam kalangan yang berbahasa Aram, para Rasul tidak mewariskan sebuah set kitab-kitab suci baru yang sudah terdefinisikan dengan jelas sehingga kanon Perjanjian Baru dikembangkan seiring berjalannya waktu.

Sebagaimana perkembangan kanon Perjanjian Lama, kanon Perjanjian Baru juga mengalami proses secara bertahap. Sebuah artikel dari Catholic Encyclopedia tentang Perjanjian Baru menjelaskan proses perangkaian berbagai surat dan sejarah yang beredar dalam Gereja awal mula sampai kanon tersebut disahkan oleh serangkaian konsili yang berupaya memastikan legitimasi kitab-kitab tersebut sebagai kitab suci yang terinspirasi atau terilhami:

Gagasan bahwa kanon yang lengkap dan jelas dari Perjanjian Baru telah ada sejak awal, yaitu dari masa Apostolik, tidak memiliki dasar dalam sejarah. Kanon Perjanjian Baru, seperti yang Lama, merupakan hasil dari suatu perkembangan, dari suatu proses yang secara bersamaan dipicu oleh perdebatan dengan mereka yang meragukannya, baik di dalam maupun di luar Gereja, diperlambat oleh berbagai keraguan alamiah dan ketidakjelasan tertentu, dan tidak mencapai kesepakatan akhir sampai definisi dogmatis yang dilakukan dalam Konsili Tridentin.

Kodeks Vaticanus

Codex Vaticanus (Vatikan, Bibl. Vat., Codex Vaticanus Graecus 1209 (Vat. gr. 1209); Gregory-Aland no. B atau 03, δ 1 von Soden) adalah salah satu naskah manuskrip Alkitab tertua yang masih ada. Naskah ini sedikit lebih tua daripada Codex Sinaiticus, keduanya kemungkinan disalin pada abad ke-4. Codex Vaticanus ditulis dalam bahasa Yunani menggunakan perkamen dengan huruf kapital atau huruf besar Yunani (uncial).

Codex Vaticanus semulanya memuat sebuah salinan lengkap Septuaginta dan Perjanjian Baru, tetapi halaman 1519-1536 yang memuat kitab Ibrani 9:14 sampai Kitab Wahyu hilang dan diganti dengan sebuah suplemen naskah abad ke-15 dalam huruf Yunani minuskul (no. 1957).

Naskah manuskrip ini telah disimpan di Perpustakaan Vatikan (didirikan oleh Paus Nikolas V pada 1448) sejak awal, dan sudah muncul pada katalogus paling awal pada tahun 1475.

Sejarah sebelumnya naskah ini tidaklah diketahui, tetapi ada beberapa pakar yang menduga bahwa Kardinal Bessarion dahulu adalah pemiliknya, karena teks suplemen dalam huruf minuskul ini mirip dengan salah satu naskah manuskrip milik Bessarion lainnya. T.C. Skeat, seorang ahli paleografi British Museum, menyatakan bahwa Codex Vaticanus adalah salah satu dari 50 Alkitab yang pernah dipesan Kaisar Romawi Konstantinus I dari Eusebius dari Kaisarea untuk menuliskannya. Namun, beberapa menyatakan bahwa naskah-naskah manuskrip Kaisar Konstantinus termasuk jenis teks Bizantin, yang menghilangkan kemungkinan seperti ini.

Codex Vaticanus adalah salah satu naskah manuskrip terpenting untuk merunut sejarah tekstual Alkitab dan merupakan anggota utama teks "tipe Alexandria". Naskah ini digunakan secara intensif oleh Westcott dan Hort dalam edisi Yunani Perjanjian Baru mereka (1881).

Naskah ini mengandung titik ganda misterius (disebut "umlaut") yang terletak di marjin halaman Perjanjian Baru dan kelihatannya menunjukkan posisi varian-varian teks (variae lectionis). Namun pentarikhan titik-titik ganda ini masih diperdebatkan oleh para pakar. Lihat pranala di bawah ini untuk detailnya.

Konsili Nicea I

Konsili Nicea Pertama (bahasa Inggris: First Council of Nicaea; bahasa Yunani: Νίκαια [ˈni:kaɪja]), terkadang dilafalkan Konsili Nikea atau Konsili Nisea, merupakan salah satu konsili para uskup Kristen yang dihimpunkan oleh Kaisar Romawi Konstantinus I pada tahun 325. Konsili ekumenis pertama ini merupakan upaya pertama untuk mencapai konsensus dalam Gereja melalui suatu sidang yang mewakili seluruh dunia Kekristenan, kendati konsili-konsili sebelumnya, termasuk Konsili Yerusalem sebagai konsili Gereja pertama, sudah pernah bersidang untuk menyelesaikan hal-hal yang diperdebatkan. Konsili ini dipimpin oleh Hosius, uskup Korduba yang berada dalam persekutuan dengan Sri Paus.Pencapaian utamanya adalah penyelesaian isu Kristologis mengenai kodrat Putra Allah dan hubungannya dengan Allah Bapa, pembentukan bagian pertama Pengakuan Iman Nicea, menetapkan keseragaman waktu perayaan Paskah, dan pengundangan hukum kanon awal.

Perjanjian Lama

Perjanjian Lama adalah bagian pertama dari Alkitab Kristen, yang utamanya berdasarkan pada Alkitab Ibrani, berisikan suatu kumpulan tulisan keagamaan karya bangsa Israel kuno. Bagian ini merupakan pasangan dari Perjanjian Baru, bagian kedua dari Alkitab Kristen. Terdapat variasi kanon Perjanjian Lama di antara Gereja-gereja Kristen; kalangan Protestan dan Orang Suci Zaman Akhir hanya menerima kitab-kitab yang terdapat dalam kanon Alkitab Ibrani, yang mana terbagi dalam 39 kitab, sedangkan kalangan Katolik Roma, Ortodoks Timur, dan Ortodoks Oriental menerima sekumpulan tulisan dengan jumlah yang sedikit lebih banyak.Perjanjian Lama terdiri dari banyak kitab berbeda yang ditulis, disusun, dan disunting oleh berbagai penulis selama kurun waktu berabad-abad. Alkitab Ibrani merupakan dasar dari Perjanjian Lama Kristen, namun tidak ada kejelasan sepenuhnya pada titik mana parameter-parameter dari Alkitab tersebut ditetapkan. Beberapa akademisi mengajukan pendapat bahwa kanon Alkitab Ibrani ditetapkan pada sekitar abad ke-3 M, atau bahkan setelahnya.Semua kitab dalam Perjanjian Lama ditulis sebelum kelahiran Yesus, yang mana 97% isinya ditulis dalam bahasa Ibrani dan sisanya dalam bahasa Aram. Kitab-kitab Perjanjian Lama secara umum dapat dibagi menjadi beberapa bagian:

Kelima kitab pertama atau Taurat (Pentateukh, Torah)

Kitab sejarah yang menceritakan sejarah bangsa Israel sejak penaklukan Kanaan sampai pembuangan ke Babilonia

Kitab puisi dan hikmat yang dalam beragam bentuknya berhubungan dengan masalah kebaikan dan kejahatan di dunia ini

Kitab nubuat atau para nabi yang berisi peringatan-peringatan terkait konsekuensi jika berpaling dari Allah.

Perkembangan kanon Perjanjian Lama

Perjanjian Lama adalah bagian pertama dari dua bagian kanon Alkitab Kristen, yang mana mencakup kitab-kitab dari Alkitab Ibrani atau protokanonika, dan dalam berbagai denominasi Kristen juga mencakup kitab-kitab deuterokanonika. Kekristenan Timur, Katolik, dan Protestan menggunakan kanon-kanon yang berbeda, yang mana perbedaannya sehubungan dengan teks-teks yang termasuk dalam Perjanjian Lama tersebut dan antilegomena dari Perjanjian Baru.

Martin Luther, dengan berpegang pada kaum Yahudi dan beberapa kalangan Kristen awal, mengeluarkan kitab-kitab deuterokanonika dari Perjanjian Lama pada hasil terjemahan Alkitab yang dibuatnya dan menempatkannya pada satu bagian terpisah yang diberi judul "Apokrifa" ("tersembunyi"), sehingga berbeda dengan kanon yang ditegaskan di Trente pada tahun yang sama dengan tahun meninggalnya Luther (1546). Dengan mengikuti prinsip veritas Hebraica (kebenaran Ibrani) dari Hieronimus, Perjanjian Lama Protestan meliputi kitab-kitab yang sama dengan Alkitab Ibrani, tetapi urutan dan pembagiannya berbeda. Perjanjian Lama Protestan memuat 39 kitab, sedangkan Yudaisme memuat kitab-kitab yang sama dengan jumlah 24 kitab. Hal ini dikarenakan Yudaisme memandang Kitab Samuel, Raja-raja, dan Tawarikh, masing-masingnya adalah satu kitab, 12 nabi kecil tergabung dalam satu kitab, serta memandang Ezra dan Nehemia sebagai satu kitab.

Ada perbedaan yang lebih substansial antara Alkitab Ibrani dengan berbagai versi Perjanjian Lama lainnya seperti Taurat Samaria, Peshitta Suriah, Vulgata Latin, Septuaginta Yunani, Alkitab Ethiopia, dan kanon lainnya. Banyak dari Alkitab-Alkitab ini yang mencakup berbagai kitab dan bagian yang tidak ada pada yang lainnya.

Ray, Iran

Ray (Bahasa Parsi: شهر ری‎; bahasa Arab: مدينة الري‎), juga Rhages (/ˈreɪdʒəz/; Yunani: Ῥάγαι, Rhagai; Latin: Rhagae atau Rhaganae) dan sebelumnya Arsacia, merupakan ibu kota dari Syahrestani Ray, Provinsi Tehran, Iran. Ray merupakan kota tertua yang masih bertahan di provinsi ini yang saat ini termasuk kedalam kota metropolitan Tehran. Ray pernah menjadi ibu kota dari Kesultanan Seljuk. Kaum muslimin di bawah pimpinan Amr bin Zaid Al-Khail At-Thai dapat merebut kota ini pada 20 H (640/641 M) yakni pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

Septuaginta

Septuaginta (kata Latin yang berarti "tujuh puluh") adalah sebuah terjemahan Alkitab Ibrani dan beberapa teks terkait ke dalam bahasa Yunani Koine. Sebagai terjemahan Yunani yang utama dari Perjanjian Lama, maka Septuaginta disebut juga Perjanjian Lama Yunani. Terjemahan ini dikutip berkali-kali dalam Perjanjian Baru, terutama dalam surat-surat Paulus, dan juga oleh para Bapa Apostolik serta Bapa Gereja Yunani. Judul ini (Yunani: Ἡ μετάφρασις τῶν Ἑβδομήκοντα, "Terjemahan dari Ketujuh puluh") dan akronim angka Romawi LXX merujuk pada tujuh puluh cendekiawan Yahudi legendaris yang menerjemahkan Lima Kitab Musa pada abad ke-3 SM.Cerita tradisionalnya berasal dari Surat Aristeas bahwa Ptolemaios II Philadelphos merupakan orang yang mensponsori penerjemahan Taurat (Torah, Pentateukh, Lima Kitab Musa). Selanjutnya terjemahan Yunani tersebut beredar di kalangan Yahudi Aleksandria yang mana fasih berbahasa Yunani Koine tetapi tidak menguasai bahasa Ibrani, sementara Yunani Koine sendiri merupakan lingua franca (bahasa pergaulan) di Aleksandria, Mesir, dan Mediterania Timur pada saat itu.Septuaginta seharusnya tidak dicampuradukkan dengan tujuh atau lebih versi Yunani lainnya dari Perjanjian Lama, yang sebagian besarnya tidak dapat terlestarikan selain dalam bentuk fragmen (beberapa bagian darinya dikenali dari Heksapla karya Origen, suatu perbandingan enam terjemahan dalam kolom-kolom yang bersebelahan, tetapi sekarang hampir seluruhnya hilang). Di antara semuanya itu, yang paling penting adalah karya-karya dari Akwila, Symmakus, dan Theodotion.

Vulgata

Vulgata adalah sebuah karya terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Latin pada akhir abad ke-4, dan merupakan versi Alkitab bahasa Latin yang diundangkan secara resmi oleh Gereja Katolik pada abad ke-16.

Karya terjemahan ini adalah sebuah versi awal abad ke-5 dari Alkitab dalam Bahasa Latin yang sebahagiannya adalah hasil revisi dan sebahagiannya lagi adalah hasil terjemahan Hieronimus (Jerome) atas perintah Paus Damasus I pada tahun 382. Alkitab ini disebut vulgata dari frasa versio vulgata, yakni "terjemahan untuk umum", dan ditulis dalam gaya sastra Latin yang umum pada abad ke-4 yang berbeda dengan Bahasa Latin Cicero yang lebih elegan. Vulgata merupakan perbaikan dari beberapa terjemahan yang digunakan saat itu, dan menjadi versi Alkitab definitif dan resmi dari Gereja Katolik Roma. Sebagaimana halnya Alkitab Peshitta (Alkitab Syria) yang lebih tua, Perjanjian Lama Vulgata diterjemahkan langsung dari Alkitab Masoretika (Alkitab Ibrani), bukan dari Alkitab Septuaginta (Alkitab Yunani). Pada tahun 405 Masehi, Hieronimus menyelesaikan terjemahan kitab-kitab protokanonika Perjanjian Lama dari Bahasa Ibrani, dan kitab-kitab deuterokanonika Tobit dan Yudit dari Bahasa Aram. Kitab-kitab lain dan kitab Mazmur diterjemahkan dari Bahasa Yunani. Dalam Alkitab Vulgata edisi Clementina terdapat 76 kitab, 46 kitab Perjanjian Lama, 46 kitab Perjanjian Baru, dan 3 kitab Apokripa.

Yudit anak Beeri orang Het

Lihat Kitab Yudit mengenai "Yudit" lain dalam sejarah Yahudi.Yudit anak Beeri orang Het adalah nama salah satu dari dua orang Het istri Esau yang dicatat pada Kitab Kejadian dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Pada Kejadian 26:34 tertulis bahwa ketika Esau berumur empat puluh tahun, ia mengambil Yudit anak Beeri orang Het itu sebagai istrinya bersama dengan Basmat, putri Elon orang Het yang lain. Selanjutnya dicatat dalam Alkitab bahwa "Kedua perempuan itu menimbulkan kepedihan hati bagi Ishak dan bagi Ribka".

Yudit memenggal Holofernes

Catatan pemenggalan Holofernes oleh Yudit disebutkan dalam deuterokanonika Kitab Yudit, dan menjadi subyek beberapa lukisan dan pahatan dari zaman Renaisans dan Barok. Dalam cerita tersebut, Yudit, seorang janda cantik, dapat memasuki tenda Holofernes karena Holofernes menginginkannya. Holofernes adalah seorang jenderal Asiria yang nyaris menghancurkan kampung halaman Yudit, kota Betulia. Karena dalam keadaan mabuk, ia menjadi tak sadarkan diri dan dipenggal oleh Yudit; kepalanya dimasukkan ke sebuah kerancang (seringkali digambarkan dibawa oleh pelayan perempuan tua).

Pembagian
utama
Pembagian
Perkembangan
Naskah
Lihat pula

Bahasa lain

This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.