Keselamatan (agama)

Keselamatan (bahasa Inggris: salvation; bahasa Latin: salvatio; bahasa Yunani: 'sōtēria'; bahasa Ibrani: yasha[1]) adalah keadaan diselamatkan atau dilindungi dari bahaya[2] ataupun keadaan diselamatkan atau dilepaskan dari situasi tertentu yang mengerikan.[3] Dalam agama, keselamatan dinyatakan sebagai penyelamatan jiwa dari dosa dan konsekuensinya.[4]

Studi akademis mengenai keselamatan disebut soteriologi.

Makna

Dalam agama, keselamatan adalah diselamatkannya jiwa seseorang dari dosa dan konsekuensi-konsekuensinya.[5] Hal ini juga dapat disebut "pembebasan" atau "penebusan" dari dosa dan akibat-akibatnya.[6] Keselamatan dipandang disebabkan oleh rahmat dari Tuhan, oleh kehendak bebas serta usaha-usaha pribadi melalui doa dan asketisme, ataupun oleh gabungan dari keduanya. Agama-agama seringkali menekankan perlunya usaha-usaha pribadi—misalnya pertobatan dan asketisme—serta tindakan ilahi (yaitu rahmat atau kasih karunia).

Agama Abrahamik

Yudaisme

Dalam Yudaisme kontemporer, penebusan (bahasa Ibrani: ge'ulah) mengacu pada Allah yang menebus bangsa Israel dari berbagai tempat pengasingan atau pembuangan mereka.[7] Ini termasuk penebusan akhir dari pengasingan saat ini.[8]

Yudaisme berpandangan bahwa para penganutnya tidak membutuhkan keselamatan pribadi sebagaimana diyakini umat Kristen. Umat Yahudi tidak menganut ajaran dosa asal.[9] Sebaliknya, mereka memberikan nilai tinggi pada moralitas individu sebagaimana didefinisikan dalam hukum Allah — terkandung dalam apa yang dikenal umat Yahudi sebagai Taurat, diberikan Allah kepada Musa di Gunung Sinai biblika, yang ringkasannya termuat di dalam Sepuluh Perintah Allah.

Dalam Yudaisme, keselamatan berkaitan erat dengan gagasan mengenai penebusan, suatu penyelamatan dari keadaan atau kondisi yang menghancurkan nilai dari eksistensi manusia. Allah sebagai roh universal dan Pencipta Dunia adalah sumber dari segala keselamatan bagi umat manusia, asalkan seseorang menghormati Allah dengan melakukan ajaran-ajaran-Nya. Maka, penebusan atau keselamatan tergantung pada masing-masing orang. Yudaisme menekankan bahwa keselamatan tidak dapat diperoleh melalui orang lain atau dengan hanya berseru kepada Tuhan ataupun meyakini suatu kuasa lainnya.[10]

Konsep Yahudi mengenai Mesias memvisualisasikan kembalinya Nabi Elia sebagai pertanda dari orang yang akan menebus dunia ini dari perang dan penderitaan, memimpin umat manusia menuju persaudaraan universal di bawah kebapaan dari satu Allah. Mesias tidak dipandang sebagai suatu keberadaan supranatural atau ilahi di masa depan tetapi sebagai suatu pengaruh manusia yang mendominasi dalam suatu zaman perdamaian universal, yang dikarakterisasi oleh regenerasi spiritual kemanusiaan.

Dalam Yudaisme, keselamatan terbuka untuk semua orang dan tidak terbatas pada mereka yang beriman Yahudi; satu-satunya pertimbangan penting adalah bahwa orang harus melakukan dan mempraktikkan pola perilaku etis seperti yang terangkum dalam Sepuluh Perintah Allah. Ketika bangsa Yahudi menyebut diri mereka sebagai bangsa pilihan Allah, mereka bukan mengartikan bahwa mereka telah dipilih untuk hak-hak istimewa dan perlakuan-perlakuan khusus, melainkan bahwa mereka telah mengambilnya bagi diri mereka untuk menunjukkan cara hidup etis kepada semua orang melalui ajaran serta teladan.[10]

Ketika mengamati sumber-sumber intelektual Yahudi sepanjang sejarah, tampak jelas adanya keragaman pendapat mengenai kematian versus kehidupan setelah kematian. Kendati mungkin saja suatu penyederhanaan yang berlebihan, satu sumber mengatakan bahwa keselamatan dapat dicapai dengan cara sebagai berikut: Jalani suatu kehidupan yang suci dan benar yang ditujukan kepada Yahwe, Allah Pencipta. Berpuasa, beribadah, dan merayakannya selama hari-hari raya yang sesuai.[11] Berdasarkan asal usul dan hakikatnya, Yudaisme merupakan suatu agama etnis. Oleh karena itu, keselamatan utamanya dipahami dari segi takdir Israel sebagai bangsa pilihan Yahwe (seringkali disebut sebagai "Tuhan"), Allah Israel.[8] Dalam teks-teks biblis Mazmur, terdapat suatu deskripsi tentang kematian, yaitu ketika orang masuk ke dalam bumi atau "dunia orang mati" dan tidak dapat memuji Allah. Referensi pertama tentang kebangkitan bersama terlihat dalam penglihatan Yehezkiel mengenai tulang-tulang kering, ketika semua orang Israel dalam pembuangan dibangkitkan kelak. Terdapat suatu referensi tentang kebangkitan individual dalam Kitab Daniel (165 SM), kitab terakhir dalam beberapa Alkitab Ibrani.[12] Dikatakan bahwa baru pada abad ke-2 SM muncul keyakinan akan suatu kehidupan setelah kematian, di mana orang mati akan dibangkitkan dan menjalani penghakiman ilahi. Sebelum saat itu, orang harus puas melihat keturunannya berlanjut di dalam bangsa yang kudus.[8]

Keselamatan orang Yahudi secara individual dihubungkan dengan keselamatan seluruh bangsanya. Keyakinan ini bersumber langsung dari ajaran-ajaran yang tercantum dalam Taurat. Dalam Taurat, Allah mengajarkan pengudusan atau penyucian individu kepada bangsanya. Namun, Ia juga mengharapkan mereka untuk mengusahakannya bersama-sama (secara rohani) dan saling bertanggung jawab kepada individu lainnya. Konsep keselamatan dikaitkan dengan pemulihan bagi Israel.[13]

Selama Periode Bait Kedua, orang-orang Saduki, para Imam Besar, membantah adanya keberadaan khusus individu-individu setelah kematian karena hal tersebut tidak tertulis dalam Taurat, sementara orang-orang Farisi, nenek moyang para rabi, menegaskan kebangkitan tubuh maupun kekekalan jiwa, kemungkinan besar didasarkan pada gagasan-gagasan Helenistik tentang tubuh dan jiwa serta keyakinan Farisi akan Taurat Lisan. Orang-orang Farisi menyatakan bahwa, setelah kematian, jiwa terhubung dengan Allah sampai datangnya era mesianis ketika jiwa bergabung kembali dengan tubuh di tanah Israel pada waktu kebangkitan.[12]

Kekristenan

Heusler Allegory of Salvation
Alegori tentang Keselamatan karya Antonius Heusler (kr. 1555), Museum Nasional di Warsawa.

Premis utama Kekristenan adalah bahwa penjelmaan dan wafat Yesus Kristus merupakan puncak dari suatu rencana ilahi bagi keselamatan umat manusia. Rencana tersebut disusun oleh Allah sebagai akibat dari Kejatuhan Adam, leluhur umat manusia, dan akan terselesaikan saat Pengadilan Terakhir, ketika Kedatangan Kedua Yesus Kristus kelak menandai akhir dunia yang dipenuhi bencana.[14]

Dalam Kekristenan, keselamatan hanya dimungkinkan melalui Yesus Kristus. Umat Kristen percaya bahwa wafat Yesus di kayu salib merupakan kurban yang hanya berlangsung sekali, yang mendamaikan bagi dosa umat manusia.[14]

Kendati bukan pemilik ekslusif dari gagasan tentang penebusan, Kekristenan dipandang berkontribusi memberinya suatu kepastian khusus dan suatu posisi dominan. Jika diambil artinya secara luas, sebagai pembebasan dari segala bahaya dan kesulitan, kebanyakan agama mengajarkan beberapa bentuk dari penebusan. Namun, penebusan dianggap memiliki suatu posisi penting hanya apabila kesulitan yang dimaksud merupakan bagian dari suatu sistem luar biasa yang manusia tidak berdaya untuk mengatasinya.[15]

Allegory of Salvation by Wolf Huber (cca 1543)
Alegori tentang Keselamatan karya Wolf Huber (kr. 1543), Kunsthistorisches Museum di Wina.

Menurut keyakinan Kristen, dosa sebagai situasi manusia yang menyulitkan dianggap bersifat universal.[16] Misalnya dalam Roma 1:18-3:20, Rasul Paulus menyatakan bahwa setiap orang telah berdosa—baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Keselamatan dimungkinkan melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, yang dalam konteks keselamatan disebut sebagai "pendamaian".[17] Soteriologi Kristen berkisar dari konsep keselamatan eksklusif[18]:123 hingga rekonsiliasi universal.[19] Kendati terdapat beberapa perbedaan pandangan dalam Kekristenan, sebagian besar kalangan setuju bahwa keselamatan dimungkinkan melalui tindakan Yesus Kristus, Putra Allah, wafat di kayu salib.

"Di jantung iman Kristen terdapat realitas dan harapan akan keselamatan dalam Yesus Kristus. Iman Kristen adalah iman di dalam Allah dari keselamatan yang dinyatakan dalam Yesus dari Nazaret. Tradisi Kristen senantiasa menyamakan keselamatan ini dengan pemenuhan eskatologis dan transenden dari eksistensi manusia dalam suatu kehidupan yang terbebas dari dosa, keterbatasan, dan mortalitas serta dipersatukan dengan Allah Tritunggal. Hal ini mungkin adalah butir iman Kristen yang tidak dapat ditawar. Apa yang menjadi suatu bahan perdebatan adalah hubungan antara keselamatan dengan aktivitas kita di dunia ini."

— Anselm Kyongsuk Min[20]:79

"Alkitab menyajikan keselamatan dalam bentuk cerita yang mendeskripsikan pelaksanaan rencana kekal Allah untuk menghadapi masalah dosa manusia. Cerita tersebut disajikan berlawanan dengan latar belakang sejarah umat Allah dan mencapai puncaknya dalam pribadi dan karya Kristus. Bagian Perjanjian Lama dari cerita tersebut memperlihatkan bahwa orang-orang adalah para pendosa pada hakikatnya, dan mendeskripsikan serangkaian perjanjian di mana Allah membebaskan orang-orang dan membuat janji-janji dengan mereka. Rencana-Nya mencakup janji memberkati semua bangsa melalui Abraham dan penebusan Israel dari segala bentuk belenggu. Allah memperlihatkan kuasa-Nya yang menyelamatkan sepanjang sejarah Israel, tetapi Ia juga berbicara tentang seorang figur Mesias yang akan menyelamatkan semua orang dari kuasa, kebersalahan, dan hukuman dosa. Peran tersebut terpenuhi oleh Yesus, yang pada akhirnya akan menghancurkan semua pekerjaan setan, termasuk penderitaan, kesakitan, dan kematian."

— Macmillan Dictionary of the Bible.

Keragaman pandangan tentang keselamatan merupakan salah satu garis pemisah utama yang membagi berbagai denominasi Kristen, baik antara Katolisisme Roma dan Protestanisme maupun di dalam Protestanisme sendiri, terutama dalam perdebatan Calvinis–Arminian, dan garis pemisah tersebut meliputi definisi yang saling bertentangan mengenai kerusakan moral, predestinasi, pendamaian, dan yang paling jelas terlihat dalam hal pembenaran.

Are you saved - bumper sticker
Sebuah stiker pada bumper mobil yang menanyakan apakah pembacanya telah menemukan keselamatan.

Diyakini bahwa keselamatan merupakan suatu proses yang dimulai ketika seseorang pertama kali menjadi seorang penganut Kristen, berlanjut dalam kehidupan orang tersebut, dan selesai ketika ia berhadapan dengan Kristus dalam penghakiman. Oleh karena itu menurut seorang apolog Katolik bernama James Akin, umat beriman Kristiani dapat mengatakan dalam iman dan harapan bahwa, "Saya telah diselamatkan; saya sedang diselamatkan; dan saya akan diselamatkan."[21]

Konsep keselamatan Kristen bervariasi dan dirumitkan oleh sejumlah konsep teologis, kepercayaan tradisional, dan dogma. Kitab Suci tunduk pada penafsiran gerejawi dan individual. Tujuan keselamatan diperdebatkan, tetapi pada umumnya kebanyakan teolog Kristen sepakat bahwa Allah merancang dan melaksanakan rencana keselamatan-Nya karena Ia mengasihi mereka dan memandang umat manusia sebagai anak-anak-Nya. Karena keberadaan manusia di Bumi dikatakan telah jatuh ke dalam kuasa dosa, keselamatan juga memiliki konotasi yang berhubungan dengan pembebasan[22] umat manusia dari kuasa dosa, dan penderitaan yang dihubungkan dengan hukuman atas dosa—sebab "upah dosa adalah maut".Rom. 6:23

Umat Kristen percaya bahwa keselamatan tergantung pada rahmat Allah. Frank Stagg menulis bahwa suatu kenyataan diasumsikan di dalam seluruh bagian Alkitab kalau umat manusia berada dalam "masalah serius dari mana kita membutuhkan pembebasan. ... Kenyataan akan dosa sebagai situasi manusia yang menyulitkan diimplikasikan dalam misi Yesus, dan ditegaskan secara eksplisit dalam hubungan tersebut". Berdasarkan hakikatnya, keselamatan harus menjawab keadaan sulit umat manusia sebagaimana adanya. Keadaan buruk seseorang sebagai orang berdosa adalah hasil dari suatu pilihan yang sangat merugikan yang menyebabkan keseluruhan pribadinya berada dalam belenggu, kebersalahan, keterpisahan, dan kematian. Karenanya, keselamatan harus dikaitkan dengan pribadinya secara keseluruhan. "[Keselamatan] harus menawarkan penebusan dari belenggu, pengampunan atas kesalahan, rekonsiliasi atas keterpisahan, pembaruan atas citra Allah yang telah rusak".[23]

Islam

Lihat pula

Referensi

  1. ^ (Inggris) "Yasha: to deliver". Biblehub.com.
  2. ^ (Inggris) Salvation. Dictionary.com. Dictionary.com Unabridged. Random House, Inc. http://dictionary.reference.com/browse/Salvation (accessed: January 08, 2013).
  3. ^ (Inggris) "salvation - religion". Encyclopedia Britannica.
  4. ^ (Inggris) "The saving of the soul; the deliverance from sin and its consequences". OED 2nd ed. 1989.
  5. ^ (Inggris) "The saving of the soul; the deliverance from sin and its consequences" OED 2nd ed. 1989.
  6. ^ (Inggris) Wilfred Graves, Jr., In Pursuit of Wholeness: Experiencing God's Salvation for the Total Person (Shippensburg, PA: Destiny Image, 2011), 9, 22, 74-5.
  7. ^ (Inggris) "Reb on the Web". Kolel: The Adult Centre for Liberal Jewish Learning. Diakses tanggal November 1, 2010.
  8. ^ a b c (Inggris) Salvation, Judaism. [1] Accessed 4 May 2013
  9. ^ (Inggris) "How Does a Jew Attain Salvation?" [2] Accessed: 4 May 2013
  10. ^ a b (Inggris) Malekar, Ezekiel Isaac. "THE SPEAKING TREE: Concept of Salvation In Judaism". The Times of India. [3] Accessed: 4 May 2013
  11. ^ (Inggris) "How do I achieve salvation according to Judaism?"[4] Accessed: 4 May 2013
  12. ^ a b (Inggris) Krell, Marc A. "Afterlife and Salvation". Religion Library: Judaism. [5] Accessed 4 May 2013
  13. ^ (Inggris) "Jewish views of salvation, faith and freedom".
  14. ^ a b (Inggris) [6] Accessed 4 May 2013
  15. ^ (Inggris) "Redemption." Christian Classics Ethereal Library at Calvin College. July 2, 2009. [7]
  16. ^ Roma 5:12
  17. ^ (Inggris) "Christian Doctrines of Salvation". Religion facts. June 20, 2009. http://www.religionfacts.com/christianity/beliefs/salvation.htm
  18. ^ Newman, Jay. Foundations of religious tolerance. University of Toronto Press, 1982. ISBN 0-8020-5591-5
  19. ^ Parry, Robin A. Universal salvation? The Current Debate. Wm. B. Eerdmans Publishing, 2004. ISBN 0-8028-2764-0
  20. ^ (Inggris) Min, Anselm Kyongsuk. Dialectic of Salvation: Issues in Theology of Liberation. Albany, N.Y.: State University of New York Press, 1989. ISBN 978-0-88706-908-6
  21. ^ (Inggris) Akin, James. "The Salvation Controversy." Catholic Answers, October 2001
  22. ^ (Inggris) "CATHOLIC ENCYCLOPEDIA: Salvation".
  23. ^ (Inggris) Stagg, Frank. New Testament Theology. Broadman Press, 1962. ISBN 0-8054-1613-7. pp.11-13,80

Sumber

  • (Inggris) Braden, Charles Samuel (1941). Man's Quest for Salvation: An Historical and Comparative Study of the Idea of Salvation in the World's Great Living Religions. Chicago & New York: Willett, Clark & Company.
  • (Inggris) Brandon, S. G. F., ed. (1963). The Saviour God: Comparative studies in the concept of salvation presented to Edwin Oliver James by colleagues and friends. New York: Barnes & Noble.
  • (Inggris) Brueggemann, Walter (30 September 2002). "Salvation". Reverberations of Faith: A Theological Handbook of Old Testament Themes. Louisville: Westminster John Knox Press. hlm. 184–6. (Presentation)
  • (Inggris) Sharpe, Eric J.; Hinnells, John R., ed. (1973). Man and his salvation: Studies in memory of S. G. F. Brandon. Manchester: Manchester University Press. ISBN 0-7190-0537-X.
  • (Inggris) Sherma, Rita D.; Sarma, Aravinda (2008), Hermeneutics and Hindu Thought: Toward a Fusion of Horizons, Springer
  • (Inggris) Snelling, John (1987), The Buddhist handbook. A Complete Guide to Buddhist Teaching and Practice, London: Century Paperbacks
  • (Inggris) Tiwari, K.N. (1983), Comparative Religion, Motilal Banarsidass

Pranala luar

Agama Buddha di Barat

Setelah pertemuan Klasik antara agama Buddha dan Kebudayaan Barat menghasilkan Seni Buddha-Yunani, pertemuan pertama antara orang Eropa dan agama Buddha terjadi pada Abad Pertengahan ketika bruder Fransiskan Willem van Ruysbroeck dikirim sebagai duta ke istana Mongolia milik Monke oleh Raja Prancis Santo Louis pada tahun 1253. Kontak ini terjadi di Cailac (sekarang Qayaliq di Kazakhstan), dan Willem pertama-tama mengira bahwa mereka adalah orang Kristen yang sudah mutakhir dan canggih (Richard Foltz, Religions of the Silk Road).

Namun ketertarikan utama bagi agama Buddha muncul selama zaman kolonial, ketika kekuasaan Barat berada di posisi untuk menyaksikan kepercayaan dan manifestasi artistiknya secara terperinci.

Filsafat Eropa dengan kuat dipengaruhi oleh penelitian agama Timur saat itu.

Dibukanya Jepang untuk orang asing pada tahun 1853 juga membuat minat untuk meneliti sastra dan kebudayaan Jepang berkembang, dan merupakan akses yang sangat baik kepada salah satu kebudayaan Buddha yang terbesar di dunia.

Agama Buddha mulai menikmati minat kuat dari penduduk umum di belahan barat dunia selama abad ke-20, mengikuti kegagalan utopia sosial yang terlihat, dari Fasisme ke Marxisme. Sesudah Perang Dunia II, fokus kemajuan cenderung bergeser ke perkembangan pribadi, baik pada sisi rohani maupun jasmani.

Dalam konteks ini, agama Buddha sudah menunjukkan daya tarik kuat, karena toleransinya, ketiadaan konsep autoritas Ketuhanan dan determinisme, dan fokusnya terhadap perkembangan jalan-jalan pribadi menuju penerangan (dan keselamatan).

Kematian Muhammad

Kematian Nabi dan Rasul Islam Muhammad (570 – 632) disebabkan oleh demam tinggi di usianya yang ke-62 tahun, yang dia alami selama beberapa bulan setelah kepulangannya dari Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji pertama dan terakhirnya. Di dalam ibadah Haji tersebut terdapat sebuah khotbah terkenal yang disampaikan oleh Muhammad, yakni Khotbah Perpisahan, di dalamnya berisi perintah dan larangan dari Allah. Untuk yang terakhir kalinya, Muhammad mendapatkan wahyu melalui Malaikat Jibril pada tahun 632 yakni Surah Al-Ma'idah ayat 3 yang menyatakan bahwa Tuhan telah meridoi Islam sebagai agama Muhammad dan sebagai agama yang sempurna dan disempurnakan, serta pernyataan bahwa nikmat kehidupan yang diberikan Tuhan kepada Muhammad telah dicukupkan. Peristiwa tersebut terjadi dalam kejadian yang disebut Haji Perpisahan (Haji Wada'). Sebelumnya Muhammad telah menaklukan seluruh Semenanjung Arabia, dan menjadikannya sebagai negara di bawah pengaruh Islam. Berkat adanya Pertempuran Hunain dan Ekspedisi Tabuk, Muhammad memperoleh kejayaannya dan memindahkan agama Semenanjung Arabia dari Yahudi, Nasrani, dan Pagan menjadi Islam. Wafatnya Muhammad terjadi hari Senin, 8 Juni 632 atau 12 Rabiul Awwal 10 H di rumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar, di kamar Aisyah, yang kini menjadi makam Muhammad. Kini makam Muhammad termasuk kedalam Masjid Nabawi, tepatnya dibawah naungan Kubah Hijau, sebuah ikon yang menjadi ciri khas Masjid Nabawi. Muhammad memberikan dua petunjuk yang dijadikan pedoman bagi manusia untuk selama-lamanya, yakni Al-Qur'an dan Hadits – ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad – kini digunakan sebagai petunjuk bagi umat Muslim. Muhammad dimakamkan di kamar Aisyah, kemudian didampingkan bersama kuburan Abu Bakar dan Umar bin Khattab di sisi makam Muhammad. Setelah kematian Muhammad, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh Empat Sahabatnya, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib sebagai Khulafa'ur Rasyidin. Dua diantara mereka – Abu Bakar dan Umar bin Khattab – dimakamkan di samping makam Muhammad, masing-masing tahun 634 dan 644 M.

Keselamatan (disambiguasi)

Keselamatan dapat mengacu pada beberapa hal berikut:

Keamanan atau keselamatan

Keselamatan pelayaran

Keselamatan penerbangan

Keselamatan lalu lintas

Level keselamatan biologi

Keselamatan (agama) - pandangan berbagai agama tentang keselamatan

Keselamatan (Kristen) - teologi penyelamatan dari dosa dalam kekristenan

Soteriologi - cabang ilmu teologi yang membahas ajaran tentang keselamatan.

Kesultanan Buton

Kesultanan Buton terletak di Kepulauan Buton (Kepulauan Sulawesi Tenggara) Provinsi Sulawesi tenggara, di bagian tenggara Pulau Sulawesi . Pada zaman dahulu memiliki kerajaan sendiri yang bernama kerajaan Buton dan berubah menjadi bentuk kesultanan yang dikenal dengan nama Kesultanan Buton. Nama Pulau Buton dikenal sejak zaman pemerintahan Majapahit, Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa,

menyebut nama Pulau Buton.

Pembenaran (teologi)

Pembenaran atau justifikasi, dalam teologi Kristen, adalah tindakan Allah menghapuskan kebersalahan dan hukuman dari dosa sementara pada saat bersamaan menyatakan benar seorang berdosa melalui pengurbanan Kristus yang mendamaikan. Dalam Protestanisme, kebenaran dari Allah dipandang sebagai sesuatu yang diperhitungkan kepada orang berdosa melalui iman saja, tanpa perbuatan baik.

Sarana atau cara memperoleh pembenaran merupakan ranah perbedaan yang signifikan antara Katolik/Ortodoks Timur dengan Protestan. Secara garis besar, Kristen Katolik dan Ortodoks membedakan antara pembenaran awal, yang dipandang terjadi pada saat baptisan, dengan pembenaran permanen, yang dicapai setelah seumur hidup berjuang melakukan kehendak Allah. Kebanyakan kalangan Protestan meyakini bahwa pembenaran adalah suatu tindakan tunggal yang di dalamnya Allah menyatakan seorang individu yang tidak benar menjadi benar, suatu tindakan yang dipandang dimungkinkan karena Kristus "dibuat-Nya menjadi dosa" secara hukum ketika tergantung di atas kayu salib (2 Korintus 5:21). Pembenaran diberikan kepada semua orang yang beriman, dan dianggap sebagai suatu anugerah dari Allah tanpa melihat jasa atau kelayakan, menurut kalangan Lutheran dan Calvinis, yang menggunakan Efesus 2:8, Kisah 16:14, dan Filipi 1:29 untuk mendukung keyakinan tersebut. Kalangan Katolik dan Ortodoks Timur menggunakan Yakobus 2:14-26, Galatia 5:19-21, dan Matius 19:17-19 untuk mendukung keyakinan bahwa pembenaran dipertahankan dengan menghindari dosa-dosa berat. Kalangan Protestan melihat pembenaran sebagai 'garis patahan' teologis yang memisahkan Katolik dengan Protestan selama Reformasi Protestan.

Penebusan (teologi)

Penebusan (bahasa Inggris: redemption) adalah suatu konsep penting dalam banyak agama, termasuk Yudaisme dan Kekristenan. Kata Inggris "redemption" berarti 'pembelian kembali' atau 'membeli kembali', dan dalam Taurat mengacu pada tebusan budak-budak (Keluaran 21:8) sebagai salah satu contohnya.

Penghakiman ilahi

Penghakiman ilahi (bahasa Inggris: divine judgment) memiliki makna penghakiman Allah ataupun keberadaan tertinggi lainnya di dalam suatu agama.

Perpisahan Khotbah Nabi Muhammad

Khotbah perpisahan Nabi Muhammad (The Farewell Sermon, bahasa Arab: خطبة الوداع‎) atau Khotbah terakhir, disampaikan oleh Nabi Muhammad pada tanggal 9 Zulhijah, tahun ke-10 Kalender Hijriyah (6 Maret 632). bertempat di Uranah lembah Gunung Arafah, selama ibadah haji.

Muhammad al-Bukhari mengacu khotbah dan mengutip bagian dari itu di 'nya' Sahih al-Bukhari .

Bagian dari itu juga hadir di Sahih Muslim dan Sunan Abu Dawud.Kalimat berikut dikatakan oleh Nabi Muhammad pada akhir ibadah haji.

Rahmat yang mendahului

Templat:Rahmat dalam Kekristenan

Templat:Lima Artikel

Rahmat yang mendahului (bahasa Inggris: prevenient grace) adalah konsep teologis Kristen dalam teologi Arminian, kendati konsep ini telah ada sebelumnya dalam teologi Katolik. Rahmat yang mendahului merupakan rahmat ilahi yang mendahului keputusan manusia, ada sebelum dan tanpa merujuk pada apa pun yang mungkin dilakukan manusia. Karena kodrat manusia mengalami kerusakan akibat pengaruh dosa, rahmat yang mendahului memungkinkan manusia untuk menggunakan kehendak bebas yang Allah berikan kepadanya untuk memilih keselamatan yang ditawarkan Allah dalam Yesus Kristus ataupun menolak tawaran keselamatan itu.

Rahmat yang mendahului utamanya dianut oleh umat Kristen Arminian, yang dipengaruhi oleh teologi Jacobus Arminius atau juga John Wesley (pendiri Metodisme). Pengikut Wesley dan Arminius percaya bahwa rahmat memungkinkan penerimaan personal anugerah keselamatan, namun tidak menjaminnya. Wesley biasanya menyebut rahmat tersebut dalam bahasa abad ke-18 dengan istilah prevenient grace. Dalam bahasa Inggris modern, ungkapan preceding grace memiliki makna yang sama.

Sejarah Buton (Wolio)

Buton adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah tenggara Pulau Sulawesi. Pada zaman dahulu di daerah ini pernah berdiri kerajaan Buton yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Buton.

Buton dikenal dalam Sejarah Indonesia karena telah tercatat dalam naskah Nagarakertagama karya Prapanca pada Tahun 1365 Masehi dengan menyebut Buton atau Butuni sebagai Negeri (Desa) Keresian atau tempat tinggal para resi dimana terbentang taman dan didirikan lingga serta saluran air. Rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru. Nama Pulau Buton juga telah dikenal sejak zaman pemerintahan Majapahit. Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa, menyebut nama Pulau Buton.

Tipologi Tripolar (teologi)

Tipologi Tripolar adalah salah satu pendekatan pada Teologi Agama-agama yang dipopulerkan oleh Alan Race. Tipologi tersebut digunakan sebagai standar di dalam studi teologi agama-agama, dan hingga kini masih banyak digunakan di dalam diskursus teologi agama-agama. Tipologi tripolar digunakan untuk memetakan beragam pendekatan para teolog dan non-teolog Kristen mengenai relasi kekristenan dengan agama-agama lain. Pemetaan ini didasarkan pada kesamaan dan perbedaan cara pandang mereka terhadap agama-agama lain di luar Kristen. Ketiga tipologi tersebut adalah eksklusivisme, inklusivisme dan pluralisme.

Bahasa lain

This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.