Kekaisaran Akhemeniyah

Kekaisaran Persia Akhaimenia (atau Akhemeniyah /[unsupported input]əˈkmənɪd/; bahasa Persia Lama: Parsā, nama dinasti yang berkuasa: Haxāmanišiya) (sek. 550–330 SM), dikenal pula sebagai Kekaisaran Persia Pertama, adalah kekaisaran Persia (Iran) di Asia Selatan dan Barat Daya yang didirikan pada abad ke-6 SM oleh Koresh Agung, yang menggulingkan konfederasi Medes. Kekaisaran ini meluas hingga pada akhirnya menguasai wilayah yang amat besar di dunia kuno dan pada tahun 500 SM membentang dari Lembah Indus di timur, hingga ke Thrakia dan Makedonia di perbatasan timur laut Yunani. Tidak ada kekaisaran lain sebelum masa itu yang lebih besar daripada Kekaisaran Akhaimenia.[4] Kekaisaran Akhaimenia pada akhirnya menguasai Mesir juga. Kekaisaran ini dipimpin oleh serangkaian raja yang menyatukan suku-suku dan bangsa-bangsanya yang terpisah-pisah dengan membangun jaringan jalan yang rumit.

Bangsa Persia menyebut diri mereka Pars, yang berasal dari nama suku Arya asli mereka Parsa, dan bermukim di daerah yang mereka beri nama Parsua (Persis dalam bahasa Yunani), yang dibatasi oleh Sungai Tigris di barat dan Teluk Persia di timur. Tempat ini menjadi wilayah pusat mereka pada masa Kekaisaran Akhaimenia.[4] Dari daerah inilah Koresh Agung (Koresh II dari Persia) pada akhirnya muncul dan mengalahkan bangsa Medes, Lydia, dan Kekaisaran Babilonia, membuka jalan untuk penaklukan selanjutnya ke Mesir dan Asia Kecil.

Pada puncak kejayaannya setelah penaklukan Mesir, kekaisaran ini menempati wilayah seluas kira-kira 8 juta km2,[5] meliputi tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa. Pada wilayah terluasnya, kekaisaran ini juga meliputi wilayah yang kini menjadi Iran, Turki, sebagian Asia Tengah, Pakistan, Thrakia, dan Makedonia, sebagian besar daerah pesisir Laut Hitam, Afghanistan, Irak, Arab Saudi utara, Yordania, Israel, Lebanon, Suriah, serta semua pusat pemukiman di Mesir kuno hingga ke barat sejauh Libya. Dalam sejarah Barat, Kekaisaran Akhaimenia disebutkan sebagai musuh negara-negara kota Yunani[4] selama Perang Yunani-Persia. Kekaisaran ini juga terkenal karena emansipasi terhadap terhadap perbudakan termasuk pembebasan bangsa Yahudi dari pembuangan ke Babilonia dan karena membangun infrastruktur seperti sistem pos, sistem jalan, dan penggunaan bahasa resmi di seluruh wilayah kekuasaannya. Kekaisaran ini menerapkan administrasi birokratis terpusat di bawah pimpinan Kaisar serta memiliki pasukan militer profesional dan pasukan wajib militer yang besar, mengilhami perkembangan serupa di kekaisaran-kekaisaran lain pada masa selanjutnya.[6]

Menurut pandangan tradisional, wilayah Kekaisaran Akhaimenia yang amat luas dan keragaman etnokulturalnya yang luar biasa[7] pada akhirnya menjadi kerugian karena penyerahan kekuasaan kepada pemerintah lokal pada akhirnya melemahkan otoritas pusat milik raja, membuat banyak energi dan sumber daya terbuang akibat harus menghentikan pemberontakan lokal.[4] Ini menjelaskan mengapa ketika Aleksander Agung (Aleksander III dari Makedonia) menginvasi Persia pada tahun 334 SM dia menghadapi suatu kekaisaran terpecah belah dengan pemimpin yang lemah, mudah untuk dihancurkan. Sudut pandang ini ditentang oleh beberapa sejarawan modern yang berpendapat bahwa Kekaisaran Akhaimenia tidak menderita krisis semacam itu pada masa Aleksander, dan bahwa hanya kericuhan pergantian kekuasaan internal yang terjadi di dalam keluarga Akhemenid yang pernah hampir melemahkan kekaisaran.[4] Aleksander, yang merupakan pengagum Koresh Agung,[8] pada akhirnya menyebabkan keruntuhan dan perpecahan kekaisaran sekitar tahun 330 SM, membuatnya terbagi menjadi Kerajaan Ptolemaik dan Kekaisaran Seleukia, selain juga wilayah-wilayah kecil lainnya yang memedekakan diri pada masa itu. Akan tetapi, kebudayaan Iran di dataran tinggi tengah tetap berkembang dan pada akhirnya kembali berkuasa pada abad ke-2 SM.[4]

Warisan sejarah Kekaisaran Akhaimenia bukan hanya pengaruh teritorial dan militernya saja, melainkan meliputi pula pengaruh kebudaaan, sosial, dan keagamaan. Banyak orang Athena yang mengadopsi kebiasaan Akhaimenia dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai akibat dari kontak antarbudaya,[9] beberapa karena pernah dikerahkan oleh, atau bersekutu dengan raja Persia. Pengaruh Dekret Pemulihan Koresh Agung disebutkan dalam naskah Yudeo-Kristen, selain itu kekaisaran ini juga amat berperan dalam penyebaran Zoroastrianisme hingga ke timur sejauh Cina. Bahkan Aleksander Agung, yang menaklukkan kekaisaran luas ini, menghormati adat-istiadatnya dan memerintahkan orang Yunani untuk ikut menghormasi raja-raja Persia termasuk Koresh Agung. Aleksander bahkan melakukan proskynesis, suatu adat kerajaan Persia, meskipun banyak diprotes oleh para tentara Makedonianya.[10][11] Kekaisaran Akhaimenia memberikan pengaruh terhadap politik, warisan dan sejarah Persia modern (kini Iran).[12] Perangaruhnya meliputi pula wilayah Persia sebelumnya yang secara keseluruhan disebut Persia Besar. Prestasi teknik yang penting di Kekaisaran Akhaimenia adalah sistem pengelolaan air Qanat, yang berusia lebih dari 3000 tahun dan memiliki panjang lebih dari 44 mil (71 km.)[13]

Pada tahun 480 SM, diperkirakan bahwa sekitar 50 juta[14] orang tinggal di Kekaisaran Akhaimenia[15] atau sekitar 44% dari seluruh populasi dunia pada masa itu, menjadikannya kekaisaran dengan jumlah penduduk terbanyak.[16]

Asal usul

Nama Persia berasal dari suku India-Eropa yang disebut Parsua. Persia merupakan pengucapan Latin dari orang India-Eropa, Parsua, yang menyebut perbatasan wilayah mereka Persis, sesuai naam suku mereka, suatu daerah yang terletak di sebelah utara Teluk Persia dan sebelah timur sungai Tigris disebut Persis (atau dalam bahasa Persia, Pars).[17] Sejarawan Yunani, Herodotos, menuturkan:[18]

Bangsa Persia terdiri atas sejumlah suku seperti terdaftar di sini. [...]: suku Pasargadai, Maraphii, dan Maspii, kepada mereka semua suku lainnya bergantung, Pasargadai adalah yang paling terkemuka; mereka memiliki klan Akhaimenid yang melahirkan raja-raja Perseid. Suku-suku lainnya adalah Panthialaei, Derusiaei, Germanii, kesemuanya hidup menetap, sisanya -Dai, Mardi, Dropici, Sagarti, merupakan suku nomaden.

Kekaisaran Akhemeniyah bukanlah kekaisaran Iran pertama. Pada abad keenam SM suku bangsa Iran lainnya, yaitu bangsa Medes, telah mendirikan Kekaisaran Media.[17] Bangsa Medes pada awalnya merupakan bangsa Iran yang dominan di aderah tersebut, mulai berkuasa pada akhir abad ke-7 SM dan menjadikan Bangsa Persia bagian dari kekaisaran mereka. Bangsa-bangsa Iran sendiri memasuki daerah itu sekitar tahun 1000 SM[19] dan pada awalnya berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Assyria (911-609 SM). Akan tetapi, bangsa Medes dan persia (bersama dengan bangsa Skythia dan Babilonia) memainkan peranan penting dalam keruntuhan Assyria melalui kerusuhan internal.

Perluasan

Pada abad ke-5 SM Persia telah menguasai wilayah yang kini menjadi Iran, Irak, pesisir Sudan, Eretria, Armenia, Azerbaijan, Pakistan, Afghanistan, Tajikistan, Turkmenistan, Kyrgyzstan, Georgia, Makedonia, Uzbekistan, Turki, Bulgaria, Siprus, Kuwait, Mesir, Suriah, Yordania, Israel, Lebanon, sebagian Yunani, Libya, bagian utara Jazirah Arab serta India barat laut.

Perang Yunani-Persia

Setelah menaklukkan Asia Kecil (Turki modern), Persia menempatkan tiran pada tiap negara kota Yunani di sana sebagai pemimpin lokal. Pada tahun 499 SM, Aristagoras, tiran Miletos, bersama dengan satrap Persia, Artaphernes, melaksanakan ekspedisi untuk menaklukkan Naxos. Tujuan Aristagoras adalah untuk meningkatkan posisinya sendiri di Miletos, baik dalam hal keuangan maupun kekuasaan. Misi itu berakhir dengan kegagalan dan akibatnya pihak Persia berencana untuk memecat Aristagoras dari jabatan tiran. Mengahadapi ancaman pemecatan itu, Aristagoras memilih untuk menghasut negara-negara kota Ionia untuk memberontak melawan kekuasaan Persia. Seluruh Ionia terkena hasutannya, terutama karena mereka juga tidak senang dengan para tiran yang ditunjuk oleh Persia untuk memimpin mereka. maka terjadilah Pemberontakan Ionia. Pemberontakan juga diikuti oleh kota-kota di Aiolis, Doris, Siprus, dan Karia.

Kaulbach, Wilhelm von - Die Seeschlacht bei Salamis - 1868
Pertempuran Salamis (1868), karya Wilhelm von Kaulbach. Pertempuran Salamis merupakan titik balik dalam invasi kedua Persia ke Yunani.

Konflik tersebut berlangsung hingga tahun 493 SM, ketika Persia menyepakati perjanjian damai dengan kota-kota Ionia. Namun pemberontakan itu menjadi fase awal dari konflik yang lebih besar. Selama pemberontakan, dua negara kota di Yunani daratan, yakni Athena dan Eretria, mengirim pasukan dan membantu kota-kota Ionia dalam melawan Persia. Akibatnya Darius murka dan bersumpah akan menghukum dua negara itu. Selain itu, Darius menganggap bahwa situasi politik di Yunani dapat menjadi ancaman bagi kestabilan kekaisarannya. Oleh karena itu, setelah Persia kembali menguasai keadaan di Asia Kecil, Darius memerintahkan dilancarkannya invasi ke Yunani.[20] Pasukan dan armada Persia memperoleh beberapa kesukesan awal di Yunani sebelum akhirnya dikalahkan oleh pasukan Athena, yang dibantu Plataia, dalam Pertempuran Marathon pada tahun 490 SM, yang memaksa pasukan Persia mengakhiri invasinya. Darius berniat untuk kembali menyerbu Yunani namun keburu meninggal dunia.

Xerxes I (485–465 SM, bahasa Persia Lama Xšayārša "Pahlawan Para Raja"), putra Darius, naik takhta dan meneruskan misi ayahnya. Dia mengumpulkan pasukan yang besar dan pada tahun memimpin invasi ke Yunani 480 SM . Dia bersama pasukan darat Persia memasuki Yunani dari utara, menaklukkan Thrakia dan memaksa Makedonia menjadi sekutu Persia. Pasukan daratnya sempat terhenti akibat dihadang sejumlah tentara Yunani, termasuk tiga ratus prajurit Sparta, di Thermopylae, sementara armada lautnya juga sempat tertahan pada Artemision. Namun Persia pada akhirnya bisa melanjutkan invasi.

Persia terus bergerak semakin jauh di Yunani dan menaklukkan kota Athena, yang sudah hampir kosong karena penduduknya telah dievakuasi. Pada akhirnya, dalam suatu pertempuran maritim yang menentukan di Pertempuran Salamis, armada Persia dikalahkan oleh armada gabungan Yunani. Ini membuat Xerxes menarik mundur sebagian besar pasukan daratnya dan kembali ke Persia. Mardonios, seorang jenderal Persia, tetap tinggal di Yunani dan ditugaskan menyelesaikan invasi bersama sisa-sisa pasukan darat Persia. Pada tahun 479 SM, pasukan gabungan Yunani mengalahkan pasukan Mardonios dalam Pertempuran Plataia, dan armada gabungan Yunani menghancurkan armada Persia pada Pertempuran Mykale. Semua kemenangan Yunani ini mengakhiri invasi Persia.

Fase kebudayaan

Xerxes I digantikan oleh Artaxerxes I (465–424 SM), yang memindahkan ibu kota dari Persepolis ke Babylon. Pada masa pemerintahannya bahasa Elam tak lagi digunakan sebagai bahasa pemerintahan, sedangkan bahasa Aram menjadi lebih banyak digunakan. Kemungkinan pada pemerintahannya juga kalender matahari digunakan sebagai kalender nasional. Artaxerxes menjadikan Zoroastrianisme sebagai agama negara sehingga pada masa kini dia disebut juga sebagai Constantinus bagi agama tersebut.

Artaxerxes meninggal di Susa dan jasadnya dibawa ke Persepolis dimakamkan bersama para pendahulunya. Artaxerxes digantikan oleh putra sulungnya Xerxes II, yang dibunuh oleh saudara tirinya hanya beberapa minggu setelah kematian Artaxerxes. Dalam keadaan takhta Persia yang kacau, Darius II mengumpulkan dukungan bagi dirinya dan berarak ke timur, menghukum mati sang pembunuh dan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja Persia.

Darius berkuasa sejak tahun 423 SM. Pada tahun 412 SM, atas desakan Tissaphernes, Darius memberi bantuan kepada Athena, kemudian kepada Sparta, yang mana bahwa kedua negara itu sedang berperang dalam konflik yang disebut Perang Peloponnesos. Namun pada tahun 407 SM, putra Darius, Koresh Muda, ditunjuk untuk menggantikan Tissaphernes, dan setelah itu bantuan seluruhnya diberikan hanya bagi Sparta, yang pada akhirnya berhasil mengalahkan Athena pada tahun 404 SM. Pada tahun itu pula Darius jatuh sakit dan meninggal di Babylon. Menjelang kematiannya, istrinya, Parysatis, yang berasal dari Babylon, memohon kepada Darius untuk menjadikan putra keduanya, Koresh Muda, sebagai raja Persia selanjutnya, akan tetapi Darius menolak.

Darius digantikan oleh putra sulungnya Artaxerxes II Memnon. Plutarkhos menuturkan (kemungkinan atas otoritas Ktesias) bahwa Tissaphernes menemui raja baru itu pada hari penobatannya dan memperingatkannya bahwa adiknya, Koresh Muda, berniat membunuhnya pada upaca penobatan. Artaxerxes kemudian menangkap Koresh dan hendak menghukum mati dia namun ibunya Parysatis ikut campur sehingga Koresh selamat. Koresh lalu diberikan jabatan sebagai satrap Lydia, di sana dia mengumpulkan pasukan untuk melakukan pemberontakan. Koresh dan Artaxerxes akhirnya bentrok dalam Pertempuran Kunaxa pada tahun 401 SM, yang berakhir dengan kematian Koresh.

Artaxerxes terus berkuasa dan menjadi raja Akhaimenia yang paling lama memerintah; dia menjadi raja selama sekitar 45 tahun, hingga tahun 358 SM. Selama masa pemerintahannya, Persia mengalami kedamaian dan kestabilan sehingga banyak dibangun monumen. Artaxerxes memindahkan kembali ibu kota ke Persepolis, yang dia perindah, sementara itu Ekbatana, sebagai ibu kota musim panas, diberi banyak tambahan hiasan berupa tiang dan genting yang dilapisi perak dan perunggu. Pada masa pemerintahannya juga, terjadi inovasi luar biasa pada kultus mezbah Zoroaster, dan tersebarnya agama itu ke seluruh Asia Kecil dan Levant, dari Armenia. Karena semua kontribusinya terhadap Persia, enam abad kemudian pendiri Kekaisaran Persia Kedua, Ardeshir I, menyatakan diri adalah keturunan Artaxerxes.

Keruntuhan

Artaxerxs II digantikan oleh Artaxerxes III pada tahun 358 SM. Menurut Plutarkhos, Artaxerxes III berkuasa setelah membunuh delapan saudara tirinya, untuk mengamankan takhtanya.[21] Pada tahun 343 SM Artaxerxes III mengalahkan Nektanebo II, mengusirnya dari Mesir, dan kembali menjadi Mesir sebagai bagian dari Persia. Masa kekuasaan Persia yang kedua di Mesir ini disebut sebagai dinasti ketiga puluh satu Mesir.[Catatan 1] Pada tahun 338 SM Artaxerxes III meninggal karena sebab yang tak jelas. Menurut kuneiform dia mati karena sebab alami namun menurut Diodoros, seorang sejarawan Yunani, dia dibunuh oleh Bagoas, salah seorang menterinya.[22]

Artaxerxes III digantikan oleh Artaxerxes IV Arses, yang juga diracuni oleh Bagoas sebelum sempat mulai memerintah. Lebih jauh lagi, Bagoas membunuh semua anak Arses, serta banyak pangeran di Persia. Bagoas lalu menempatkan Darius III (336–330 SM), keponakan Artaxerxes IV, sebagai raja Persia. Setelah berkuasa, Darius yang sebelumnya merupakan satrap Armenia, secara pribadi memerintahkan Bagoas meminum racun. Pada tahun 334 SM, tidak lama setelah Darius menguasai Mesir kembali, Alexandros III dari Makedonia dan pasukannya yang telah banyak bertempur menginvasi Asia Kecil. Alexandrosr meneruskan rencanan ayahnya, Philippos, yang keburu meninggal sebelum sempat melaksanakan rencana invasinya.

Setelah menyeberang ke Asia Kecil, Alexandros mengalahkan pasukan Persia pada Pertempuran Granikos (334 SM), disusul oleh Pertempuran Issos (333 SM), dan yang terakhir pada Pertempuran Gaugamela (331 SM). Setelah itu dia berarak menuju Susa dan Persepolis, yang menyerah pada awal 330 SM. Dari sana, Alexandros bergerak ke utara menuju Pasargadae, di sana dia mengunjungi makam Koresh Agung.

Kekaisaran Persia Akhaimenia
Parsā
sek. 550 SM–336 SM

Bendera Kekaisaran Persia

Lambang Koresh Agung

Lokasi Kekaisaran Persia
Wilayah terluas Kekaisaran Akhaimenia di bawah Darius I.
Ibu kota Pasargadae, Ekbatana, Persepolis, Susa, Babilon
Bahasa Bahasa Persia Lama (bahasa asli)
bahasa Aram Imperial (Bahasa resmi dan lingua franca)[1]
bahasa Elam
bahasa Akakdia[2]
Agama Zoroastrianisme
Bentuk pemerintahan Monarki
Syah
 -  559–529 SM (pertama) Koresh Agung
 -  336–330 SM (terakhir) Darius III
Era sejarah Kuno
 -  Didirikan 550 SM (Koresh Agung menggulingkan Astages dari Media)
 -  Pembangunan dimulai di Persepolis 515 SM
 -  Penaklukan Mesir oleh Kambises II 525 SM
 -  Perang Yunani-Persia 498–448 SM
 -  Penaklukan ulang Mesir oleh Artaxerxes III 343SM
 -  Ditaklukkan pada Perang Aleksander Agung 336 SM (Aleksander Agung menaklukkan Persia)
 -  Darius III dibunuh oleh Bessos 330 SM
Luas
 -  480 SM 8.000.000 km² (3.088.817 mil²)
Mata uang Darik dan Siglos
Pendahulu
Pengganti
Kekaisaran Media
Kekaisaran Babilonia Baru
Lydia
Dinasti keduapuluh enam Mesir
Kekaisaran Makedonia
Sekarang bagian dari

Agama

Kuil, meskipun berfungsi untuk tujuan keagamaan, namun berguna juga sebagai sumber penghasilan. Terilhami oleh para raja Babylon, Persia menerapkan konsep pajak kuil wajib, yaitu bahwa semua penduduk harus membayar sejumlah besar pajak atau zakat kepada kuil di daerah mereka.[23]

Daftar raja wangsa Akhemeniyah

Belum terbukti

  • Akhaimenes atau Akhemenes (leluhur wangsa Akhemeniyah)
Bukti epigrafi raja-raja ini tidak dapat dipastikan dan dianggap rekaan raja Darius I
  • Ariaramnes, putra Teispes dan memerintah bersama Koresh I (Cyrus I).
  • Arsames, putra Ariaramnes dan memerintah bersama Kambises I

Sudah terbukti

Raja-raja Anshan
Raja Memerintah (SM) Permaisuri Keterangan
Teispes abad ke-7 putra Akhemenes, raja Anshan
Koresh I Akhir abad ke-7/awal abad ke-6 putra Teispes, raja Anshan
Cambyses I awal abad ke-6 Mandana dari Media putra KoreshI, raja Anshan
Koresh II ~550-530 Kassandane dari Persia putra Kambises I dan Mandana – menguasai Media 550 SM; raja Media, Babilonia, Lydia, Persia, Anshan, dan Sumeria. Mendirikan Kekaisaran Persia Akhemeniyah.
Raja-raja Persia (529–359 SM); Dinasi ke-27 Mesir (525–399 SM)
Raja Memerintah (SM) Permaisuri Keterangan
Kambises II 529-522 putra Koresh Agung and Kassandane. Menaklukkan dinasti Egypt.
Bardiya (Smerdis) 522 Phaedymia putra Koresh Agung. (Gaumata menyamar menjadi raja gadungan)
Darius I Agung 521-486 Atossa
Artystone
Parmys
Phratagune
menantu laki-laki Koresh Agung, putra Hystaspes, cucu Arsames
Tentaranya dikalahkan dalam Pertempuran Marathon di Yunani.
Xerxes I Agung 485-465 Amestris putra Darius I and Atossa
menang dalam Pertempuran Thermopylae
kalah dalam Pertempuran Salamis
Artaxerxes I Longimanus 465-424 Damaspia
Kosmartidene
Alogyne
Andia
putra Xerxes I dan Amestris
Xerxes II 424 putra Artaxerxes I dan Damaspia
Sogdianus 424-423 putra Artaxerxes I dan Alogyne; saudara tiri dan saingan Xerxes II
Darius II dari Persia 423-405 Parysatis putra Artaxerxes I dan Cosmartidene; saudara tiri dan saingan Xerxes II
Artaxerxes II Mnemon 404-359 Stateira putra Darius II (lihat pula Xenophon)

Di awal pemerintahan Artaxerxes II, pada tahun 399 SM, Persia kehilangan kekuasaan atas Mesir. Mereka memperoleh kembali kekuasaan 57 tahun kemudian – pada tahun 342 SM – ketika Artaxerxes III menguasai Mesir.

Raja-raja Persia (358–330 SM); Dinasi ke-31 Mesir (342–332 SM)
Raja Memerintah (SM) Permaisuri Keterangan
Artaxerxes III Ochus 358-338 putra Artaxerxes II dan Stateira
Artaxerxes IV Arses 338-336 putra Artaxerxes III dan Atossa
Darius III dari Persia 336-330 Stateira I cicit Darius II
dikalahkan oleh Alexander Agung

Keterangan

  1. ^ Pada dua masa berbeda, Persia menguasai Mesir meskipun dua kali Mesir berhasil meraih kemerdekaan sementara dari Persia. Setelah praktik Manetho, Sejarawan Mesir menyebut periode kekuasaan Persia di Mesir sebagai dinasti kedua puluh tujuh Mesir, berlangsung pada tahun 525–404 SM, hingag kematian II, dan dinasti ketiga puluh satu Mesir, berlangsung pada tahun 343–332 SM, yang dimulai setelah Nektanebo II dikalahkan oleh Artaxerxes III.

Catatan kaki

  1. ^ Josef Wiesehöfer, Ancient Persia, (I.B. Tauris Ltd, 2007), 119.
  2. ^ Harald Kittel, Juliane House, Brigitte Schultze (2007). Traduction: encyclopédie internationale de la recherche sur la traduction. Walter de Gruyter. hlm. 1194–5. ISBN 978-3-11-017145-7.
  3. ^ Security and Territoriality in the Persian Gulf: A Maritime Political Geography by Pirouz Mojtahed-Zadeh, page 119
  4. ^ a b c d e f David Sacks, Oswyn Murray, Lisa R. Brody (2005). Encyclopedia of the ancient Greek world. Infobase Publishing. hlm. 256 (at the right portion of the page). ISBN 978-0-8160-5722-1.
  5. ^ Aedeen Cremin (2007). Archaeologica: The World's Most Significant Sites and Cultural Treasures. Global Book Publishing Pty Ltd. hlm. 224. ISBN 978-0-7112-2822-1.
  6. ^ Schmitt Achaemenid dynasty (i. The clan and dynasty)
  7. ^ Pierre Briant (2006). From Cyrus to Alexander: A History of the Persian Empire. Eisenbrauns. hlm. 1–3. ISBN 978-1-57506-120-7.
  8. ^ Ulrich Wilcken (1967). Alexander the Great. W. W. Norton & Company. hlm. 146. ISBN 978-0-393-00381-9.
  9. ^ Margaret Christina Miller (2004). Athens and Persia in the Fifth Century B.C.: A Study in Cultural Receptivity. Cambridge University Press. hlm. 243. ISBN 978-0-521-60758-2.
  10. ^ Arrian, Anabasis Alexandri VII, 11
  11. ^ Plutarch, Alexander, 45
  12. ^ Vesta Sarkhosh Curtis, Sarah Stewart (2005). Birth of the Persian Empire. I.B.Tauris. hlm. 7. ISBN 978-1-84511-062-8.
  13. ^ p. 4 of Mays, L. (30 August 2010). Ancient Water Technologies. Springer. ISBN 978-90-481-8631-0.
  14. ^ Yarshater (1996, p. 47)
  15. ^ While estimates for the Achaemenid Empire range from 10-80+ million, most prefer 50 million. Prevas (2009, p. 14) estimates 10 million. Strauss (2004, p. 37) estimates about 20 million. Ward (2009, p. 16) estimates at 20 million. Scheidel (2009, p. 99) estimates 35 million. Daniel (2001, p. 41) estimates at 50 million. Meyer and Andreades (2004, p. 58) estimates to 50 million. Jones (2004, p. 8) estimates over 50 million. Richard (2008, p. 34) estimates nearly 70 million. Hanson (2001, p. 32) estimates almost 75 million. Cowley (1999 and 2001, p. 17) estimates possibly 80 million.
  16. ^ See http://www.census.gov/population/international/data/idb/worldhis.php
  17. ^ a b Jamie Stokes (2009). Encyclopedia of the Peoples of Africa and the Middle East, Volume 1. Infobase Publishing. hlm. 2–3. ISBN 978-0-8160-7158-6.
  18. ^ Herodotos, Historia 1.101 & 125
  19. ^ Mallory, J.P. (1989), In Search of the Indo-Europeans: Language, Archaeology, and Myth, London: Thames & Hudson.
  20. ^ Willis Mason West (1904). The ancient world from the earliest times to 800 A.D. Allyn and Bacon. hlm. 137.
  21. ^ Hoschander, Jacob. "The Book of Esther in the Light of History: Chapter IV", The Jewish Quarterly Review, New Series, Vol. 10, No. 1 (Jul., 1919), pp. 87–88
  22. ^ Chr. Walker, "Achaemenid Chronology and the Babylonian Sources," in: John Curtis (ed.), Mesopotamia and Iran in the Persian Period: Conquest and Imperialism, 539-331 B.C. (London 1997), page 22.
  23. ^ Dandamaev & Lukonin, 1989:361–362
Artaphernes

Artaphernes (bahasa Yunani: Ἀρταφέρνης), adalah saudara raja Persia, Darius, dan menjabat sebagai satrap Sardis.

Artaphernes terlibat dalam upaya Persia menghadapai Pemberontakan Ionia. Dia berhasil menaklukan beberapa negara kota Yunani di Ionia yang memberontak terhadap Persia sebelum akhirnya memperoleh kemenangan telak dalam Pertempuran Lade pada tahun 494 SM, yang menghentikan pemberontakan tersebut. Seusai pemberontakan, Artaphernes melakukan perundingan dengan orang-orang Ionia dan menyepakati kesepakatan damai.Pada tahun 492 SM jabatan satrapnya digantikan oleh Mardonius.

Artaxsaca III

Artaxsaca III Ochus dari Persia (Artaxšaçā) (skt. 425 SM – 338 SM) merupakan seorang Raja Agung (Shah) Persia dan raja kesebelas Kekaisaran Akhemeniyah, dan juga Firaun dinasti ke-31 Mesir. Ia adalah putra dan penerus Artahsasta II dari Persia dan digantikan oleh putranya, Arses dari Persia (juga dikenal sebagai Artaxšaçā IV). Pemerintahannya bertepatan dengan masa pemerintahan Filipus II di Makedonia dan Nectanebo II di Mesir.

Sebelum naik takhta Artaxsaca adalah satrap dan komandan tentara ayahandanya. Artaxsaca mulai berkuasa setelah salah satu saudaranya dieksekusi, yang lain bunuh diri, yang terakhir dibunuh dan ayahandanya, Artahsasta II dari Persia meninggal. Segera setelah menjadi raja, Artaxsaca membunuh semua keluarga kerajaan untuk mengamankan tempatnya sebagai raja. Ia memulai dua kampanye besar melawan Mesir. Kampanye pertama gagal, dan diikuti oleh pemberontakan di seluruh bagian barat kekaisarannya. Pada tahun 343 SM, Artaxsaca mengalahkan Nectanebo II, Firaun Mesir, yang mengantarnya dari Mesir, berhenti untuk memberontak di Fenisia dalam perjalanan.

Pada tahun-tahun Artaxsaca, kekuasaan Filipus II dari Makedonia meningkat di Yunani, di mana ia mencoba meyakinkan orang-orang Yunani untuk memberontak melawan Akhemeniyah Persia. Kegiatannya ditentang oleh Artaxsaca, dan dengan dukungannya, kota Marmara Ereğlisi menolak pengepungan Makedonia.

Terdapat bukti adanya kebijakan bangunan baru di Persepolis di kemudian hari, di mana Artaxsaca mendirikan sebuah istana baru dan membangun makamnya sendiri, dan memulai proyek-proyek jangka panjang seperti gerbang yang belum selesai.

Menurut sebuah sumber Yunani, Diodoros Sikolos, Bagoas meracuni Artaxsaca, namun sebuah tablet runcing (sekarang di British Museum) menunjukkan bahwa raja meninggal karena sebab-sebab alami.

Bardiya

Bardiya (Yunani: Smerdis) (bahasa Persia Kuno: 𐎲𐎼𐎮𐎡𐎹 Bardiya; bahasa Yunani Kuno: Σμέρδις) (kemungkinan meninggal tahun 522 SM) adalah putra Koresh yang Agung dan adik Cambyses II, keduanya merupakan raja Persia. Terdapat dua pandangan mengenai hidupnya. Pertama, ia mungkin menguasai Kekaisaran Akhemeniyah selama beberapa bulan tahun 522 SM, atau seorang magus yang bernama Gaumata menyamar sebagainya. (bahasa Persia Kuno: 𐎥𐎢𐎶𐎠𐎫 Gaumāta) Namanya disebut dalam Inskripsi Behistun yang dibuat oleh Darius Agung.

Elam

Elam adalah peradaban kuno yang terletak di Iran barat daya. Elam berpusat di barat jauh dan barat daya Iran, membentang mulai dari dataran rendah Khuzestan Bakhtiari dan provinsi Ilam, selain juga sebagian kecil Irak selatan. Nama "Elam" berasal dari bahasa Ibrani. Dalam bahasa lainnya antara lain disebut elam(a) (bahasa Sumeria), elamtu (bahasa Akkadia), dan haltamti (bahasa Elam). Negara-negara Elam adalah termasuk wilayah politik yang maju di Timur Dekat Kuno.Terletak di sebelah timur Mesopotamia, Elam adalah bagian dari urbanisasi awal selama periode Kalkolitikum (Zaman Tembaga). Pada periode Elam Lama (Zaman Perunggu Awal), Elam terdiri dari beberapa kerajaan di dataran tinggi Iran, berpusat di Anshan, dan sejak pertengahan milenium ke-2 SM, peradaban Elam berpusat di Susan di dataran rendah Khuzestan. Kebudayaannya banyak berpengaruh di Kekaisaran Guti, juga di Kekaisaran Akhemeniyah. Ketika itu bahasa Elam menjadi salah satu bahasa resmi. Bahasa Elam sendiri digolongkan sebagai bahasa terisolasi.

Herakleides dari Kyme

Herakleides dari Kyme (aktif 350 SM) adalah sejarawan Yunani yang menulis karya multivolume berjudul Persika, berisi sejarah Persia. Fragment-fragmen dari Persika banyak dicatat oleh Athenaios dan menjelaskan adat-istiadat di istana Persia. Herakleides sendiri adalah subjek Persia di bawah Kekaisaran Akhemeniyah.

Hydarnes

Hydarnes (bahasa Yunani Kuno: Ὑδάρνης; bahasa Persia Kuno Vidarna "penyobek") adalah salah seorang perwira Persia yang terkenal. Dia merupakan komandan Pasukan Abadi Persia ketika raja Persia, Xerxes, melakukan invasi ke Yunani.

Peristiwa paling terkenal yang melibatkan Hydarnes dan Pasukan Abadinya adalah dalam Pertempuran Thermopylae pada tahun 480 SM, ketika mereka berhadapan dengan pasukan Yunani yang dipimpin ole Leonidas dari Sparta.

Hydarnes juga disebutkan dalam sebuah inskripsi Aram di Armavir, Armenia. Di situ tertulis gadis-gadis yang dipilihnya untuk berada di Haremnya.

Kekaisaran Parthia

Kekaisaran Parthia (/ˈpɑːrθiən/; 247 SM – 224 M), dikenal pula dengan nama Kekaisaran Arsakid (/ˈɑːrsəsɪd/; bahasa Persia modern: اشکانیان Ashkāniān), adalah kekuatan politik dan kebudayaan Persia kuno yang besar. Nama Arsakid berasal dari Arsakes I dari Parthia, yakni pemimpin suku Parni yang mendirikan kekaisaran ini pada pertengahan abad ke-3 SM setelah berhasil menaklukkan wilayah Parthia di Iran timur laut, yang ketika itu merupakan sebuah kesatrapan (provinsi) yang memberontak melawan Kekaisaran Seleukia. Mithridates I dari Parthia (berkuasa sek. 171–138 SM) memperluas wilayah kekaisaran tersebut dengan merebut Media dan Mesopotamia dari tangan Seleukia. Pada puncak kejayaannya, Kekaisaran Parthia terbentang dari bagian utara Efrat (di wilayah Turki tenggara) hingga Iran timur. Kekaisaran Parthia terletak di Jalur Sutra yang terbentang dari Kekaisaran Romawi di Cekungan Mediterania hingga Dinasti Han di Tiongkok, sehingga wilayah ini juga menjadi pusat perdagangan.

Bangsa Parthia banyak mengadopsi seni, arsitektur, kepercayaan keagamaan, dan lambang kerajaan dari kekaisaran mereka yang memiliki kebudayaan yang beragam. Di Kekaisaran Parthia terdapat kebudayaan Persia, Hellenistik, serta banyak kebudayaan lokal. Kira-kira selama separuh masa keberadaannya, para penguasa Parthia mengadopsi kebudayaan Yunani, meskipun pada akhirnya menggunakan tradisi Iran. Para penguasa Parthia memiliki gelar "Raja Segala Raja" dan mengklaim sebagai pewaris takhta Kekaisaran Akhemeniyah; dan memang, mereka menerima banyak raja lokal sebagai negara bawahan yang oleh Kekaisaran Akhemeniyah ditunjuk secara terpusat, meskipun sebagian besar sebagai satrap yang otonom. Kekaisaran Parhia memang menunjukkan sejumlah kecil satrap, sebagian besar di luar Iran, namun kesatrapan-kesatrapan ini lebih kecil dan kurang berkuasa dibanding kesatrapan pada masa Akhemeniyah. Dengan perluasan kekuasaan Parthia, pusat pemerintahan berpindah dari Nisa, Turkmenistan ke Ktesiphon di sepanjang Tigris (sebelah selatan Baghdad modern, Irak), meskipun beberapa tempat lainnya juga digunakan sebagai ibu kota.

Musuh awal Kekaisaran Parthia adalah adalah Kekaisaran Seleukia di barat dan bangsa Skythia di timur. Akan tetapi, seiring Partia meluas ke arah barat, mereka mulai menghadapi konflik dengan Kerajaan Armenia, dan pada akhirnya dengan Republik Romawi akhir. Romawi dan Parthia bersaing satu sama lain untuk menjadikan raja-raja Armenia sebagai klien bawahan mereka. Parthia dengan mudah mengalahkan Marcus Licinius Crassus pada Pertempuran Carrhae pada tahun 53 SM, dan pada tahun 40–39 SM, pasukan Parthia merebut seluruh Levant, kecuali Tyre, dari kekuasaan Romawi. Akan tetapi, Markus Antonius memimpin serangan balasan terhadap Parthia dan beberapa kaisar Romawi menginvasi Mesopotamia selama Perang Romawi-Parthia. Romawi beberapa kali menaklukkan Kota Seleukia dan Ktesiphon selama konflik tersebut, namun tidak pernah mampu menguasainya untuk waktu yang lama. Perang saudara yang sering terjadi antara para pesaing takhta Parthia terbukti lebih berbahaya daripada invasi asing, dan kekuasaan Parthia runtuh ketika Ardashir I, penguasa Estakhr di Fars, memberontak terhadap Parthia dan membunuh pemimpin terakhir mereka, Artabanos IV, pada tahun 224 M. Ardashir mendirikan Kekaisaran Sassaniyah, yang berkuasa di Iran dan Timur Dekat hingga penaklukan Muslim pada abad ke-7 M, meskipun dinasti Arsakid tetap bertahan melalui Dinasti Arsakid Armenia.

Sumber-sumber asli Parthia, yang ditulis dalam bahasa Parthia, bahasa Yunani dan bahasa-bahasa lainnya, sangat sedikit jumlahnya dibanding sumber Sassaniyah dan bahkan Akhemeniyah dari masa sebelumnya. Selain luah kuneiform, kepingan ostraka, prasasti batu, koin drakhma, dan perkamen, sebagian besar sejarah Parthia diketahui dari sumber-sumber luar, yang terutama meliputi catatan sejarah Yunani dan Romawi, juga catatan sejarah Tiongkok karena Tiongkok ingin membentuk persekutuan melawan Xiongnu. Karya seni Parthia oleh para sejarawan dianggap sebagai sumber valid untuk memahami beragam aspek dalam masyarakat dan kebudayaan yang tidak terdapat dalam sumber tulisan.

Kekaisaran Persia

Kekaisaran Persia (Persia: امپراتوری ایران) adalah sejumlah kekaisaran bersejarah yang berkuasa di Dataran Tinggi Iran, tanah air asal Bangsa Persia, dan sekitarnya termasuk Asia Barat, Asia Tengah dan Kaukasus. Saat ini, istilah Persia sering merujuk kepada Iran; Persia digunakan untuk isu sejarah, dan kebudayaan, dan Iran digunakan untuk isu politik. Bangsa yang dikemudian hari memproklamirkan diri sebagai Republik Islam Iran ini didominasi oleh Syi'ah.

Mardonios

Mardonios (bahasa Persia: Mardoniye, bahasa Yunani Kuno: Μαρδόνιος]; meninggal 479 SM) adalah komandan pasukan Persia dalam Perang Yunani-Persia pada awal abad ke-5 SM.

Pengepungan Gaza

Dalam Pengepungan Gaza, Aleksander Agung, dengan cara memanfaatkan mesin-mesin perang yang dia gunakan melawan Tyre, sukses mencapai tembok pertahannya. Setelah tiga kali menyerang dan gagal, benteng di Gaza berhasil direbut oleh Aleksander. Dalam pengepungan ini Aleksander terluka bahunya oleh sebuah panah, selain itu kakinya juga terluka.

Bentengnya dibangun di atas bukit dan pertahanannya sangat kuat. ketika Aleksander mendekati Mesir, penduduk Gaza dan sekutu-sekutu Nabatea mereka tidak ingin kehilangan perdagangan yang menguntungkan yang dikendalikan oleh Gaza. Batis, komandan benteng Gaza, menolak menyerah pada Aleksander. Ketika Gaza ditakulkan, seluruh penduduk prianya dibunuh sedangkan penduduk wanita dan anak-anaknya dijadikan budak.

Berdasarkan sejarawan Romaw Quintus Curtius Rufus, Batis dibunuh oleh Aleksander seperti ketika Akhilles membunuh Hektor. Kaki Batis diikat dengan tali dan jasadnya diseret dengan kereta perang. Aleksander melakukannya karena merasa marah akibat penolakan Batis untuk berlutut dan perilaku Batis yang merendahkan.

Pengepungan Miletos

Pengepungan Miletos adalah konflik naval pertama antara Aleksander Agung melawan Kekaisaran Akhemeniyah. Pengepungan kecil ini ditujukan terhadap para penghuni Miletos, sebuah kota di Ionia selatan, di Karia, yang kini terletak di provinsi Anatolia di Turki modern. Kota ini ditaklukan oleh putra Parmenion, Nikanor pada tahun 334 SM.

Pengepungan Tyre

Pengepungan Tyre adalah pengepungan terhadap kota Tyre, sebuah basis pantai strategis di Laut Tengah. Pengepungan ini dilaksanakan oleh pasukan Aleksander Agung pada tahun 332 SM dalam kampanyenya melawan Kekaisaran Akhemeniyah (Persia). Pasukan Makedonia tidak mampu menaklukan kota itu dengan cara biasa karena kota itu terletak di sebuah pulau dan memiliki dinding sampai ke laut. Jadi Aleksander memblokade dan mengepung Tyre selama tujuh bulan.

Aleksander Agung memerintahkan para insinyurnya untuk memanfaatkan reruntuhan kota kuno dan membangun jalan untuk mencapai dinding kota Tyre. Aleksander lalu mengerahkan mesin kepungnya untuk menyerang dari jalan yang telah dibuat itu dan juga memerintahkan kapal-kapal perangnya untuk menyerang lewat laut. Akhirnya pertahanan Tyre bisa ditembus oleh Aleksander. Dikatakan bahwa Aleksander sangat marah karena pengepungan Tyre ini menghabiskan banyak waktu dan prajuritnya. Dia pun menghancurkan setengah kota Tyre. Menurut Arrianus, Tyre kehilangan 8.000 prajurit sedangkan Makedonia kehilangan 400 prajurit. Aleksander mengampuni keluarga pemimpin kota itu namun 30.000 penduduk Tyre tidak luput dari murka Aleksander. Mereka dijadikan budak.

Pertempuran Gaugamela

Pertempuran Gaugamela (pengucapan: /ˌgɔːgəˈmiːlə/) (Γαυγάμηλα) terjadi di Mesopotamia pada tahun 331 SM antara Aleksander Agung dari Makedonia dan Darius III dari Persia.

Pertempuran berlangsung di dekat sebuah bukit berbentuk punuk unta, nama etimologi: Tel Gomel atau Tel Gahmal, yang diterjemahkan sebagai "Gunung Unta" dalam bahasa Ibrani, terjemahan lainnya "Kandang Unta" (Plutarch: "Rumah Unta").

Pertempuran dimenangkan oleh Makedon.

Pertempuran Gerbang Persia

Pertempuran Gerbang Persia adalah konflik militer antara Aleksander Agung melawan Kekaisaran Akhemeniyah yang berlangsung di Gerbang Persia. Pasukan Akhemeniyah dikomandani oleh satrap Persis, Ariobarzanes, sedangkan pasukan Makedonia yang menyerang dipimpin oleh Aleksander Agung. Pada musim dingin tahun 330 SM, Ariobarzanes memimpin perlawanan terakhir dari militer Persia dalam menghadapi pasukan Aleksander. Pada akhirnya pasukan Aleksander berhasil menemukan jalan menuju garis belakang pasukan Persia berkat informasi dari tawanan perang.

Pertempuran Granikos

Pertempuran Sungai Granikos adalah pertempuran yang berlangsung pada bulan Mei tahun 334 SM dan merupakan pertempuran besar pertama dan tiga pertempuran besar antara Aleksander Agung melawan Kekaisaran Persia. Terjadi di Asia Minor barat daya, di dekat situs Troya, di sinilah Aleksander megalahkan pasukan satrap Persia di Asia Minor, termasuk sejumlah besar tentara bayaran dari Yunani yang dipimpin oleh Memnon dari Rodos.

Pertempuran terjadi di jalan dari Abydos ke Daskylium (dekat Ergili, Turki modern), di Sungai Granikos (Biga Çayı modern).

Pertempuran Issos

Pertempuran Issos adalah pertempuran yang terjadi di Anatolia selatan pada bulan November tahun 333 SM. Dalam pertempuran ini, pasukan Aleksander Agung dari Makedonia berhasil mengalahkan pasukan Darius III dari Kekaisaran Akhemeniyah.

Setelah pasukan Aleksander berhasil menyeberangi Hellespont (Dardanelles) dan mengalahkan satrap-satrap Persia yang dipimpin oleh tentara bayaran Yunani, Memnon dari Rodos, dalam Pertempuran Granikos yang terjadi sebelumnya, Darius secara langsung memimpin pasukan untuk menghadapi Aleksander. Dia mengumpulkan tentara dari penjuru kekaisaran dan bermanuver untuk memotong garis suplai Makedonia, memaksa Aleksander untuk melawan balik pasukan Persia. Pertempuran berlangsung di dekat mulut Sungai Pinaros dan sebelah selatan desa Issos.

Pertempuran Mykale

Pertempuran Mykale (bahasa Yunani kuno: Μάχη τῆς Μυκάλης; Machē tēs Mykalēs) adalah salah satu dari dua pertempuran besar yang mengakhiri invasi kedua Persia ke Yunani dalam Perang Yunani-Persia. Pertempuran ini terjadi sekitar 27 Agustus 479 SM di dekat Gunung Mykale, di pesisir Ionia, di seberang pulau Samos. Pertempuran ini berlangsung antara persekutuan negara kota Yunani, termasuk Sparta, Athena, dan Korinthos, melawan Kekaisaran Persia yang dipimpin oleh Xerxes I.

Pertempuran Plataia

Pertempuran Plataia (bahasa Yunani: Μάχη τῶν Πλαταιῶν, Machē tōn Plataiōn) adalah pertempuran antara pasukan Yunani melawan Persia, yang dipimpin oleh Xerxes I, dalam invasi kedua Persia ke Yunani. Pertempuran ini berlangsung pada tahun 479 SM di dekat kota Plataia di Boiotia. Pasukan Yunani sendiri merupakan suatu persekutuan yang meliputi negara kota Sparta, Athena, Korinthos, dan Megara.

Setahun sebelumnya, pasukan Persia menang dalam Pertempuran Thermopylae dan Pertempuran Artemision, serta menaklukan Thessalia, Boiotia, dan Attika. Namun dalam Pertempuran Salamis yang terjadi kemudian, pasukan persekutuan Yunani berhasil mengalahkan Persia dan mencegah Persia menginvasi Peloponnesos. Akibatnya, Xerxes mundur bersama sebagian besar pasukannya, dan meninggalkan jenderalnya, Mardonios bersama sebagian kecil pasukan untuk menuntaskan invasi di Yunani.

Pada musim panas tahun 479 SM, pasukan besar Yunani bergerak dari Peloponessos. Pasukan Persia mundur ke Boiotia dan mendirikan pertahanan di dekat Plataia. Namun, pasukan Yunani tak mau menyerang perkemahan Persia karena tempat tersebut akan menguntungkan kavaleri Persia. Akibatnya, terjadi kebuntuan selama sebelas hari. Lama-kelamaan supai pasukan Yunani terganggu sehingga barusan tempur mereka terpecah. Mardonios menyadari ini dan mengerahkan seluruh pasukannya untuk menyerang pasukan Yunani. Akan tetapi, pasukan Yunani balas menyerang dan pada akhirnya mengalahkan Persia, sementara Mardonios sendiri terbunuh.

Sejumlah besar pasukan Persia terperangkan di kamp mereka dan akhirnya dibantai. Selain di Plataia, Persia juga kemudian mengalami kekalahan dalam Pertempuran Mykale. Semua kekalahan itu secara efektif menghentikan invasi Persia.

Pertempuran Salamis

Pertempuran Salamis (bahasa Yunani: Ναυμαχία τῆς Σαλαμῖνος, Naumachia tēs Salaminos) adalah pertempuran antara persekutuan negara kota Yunani melawan Kekasiaran Persia pada tahun 480 SM di selat antara daratan Yunani dan Salamis, sebuah pulai di Teluk Saronik dekat Atehna. Pertempuran ini merupakan salah satu titik balik penting dalam invasi kedua Persia ke Yunani, yang dimulai sejak tahun 480 SM.

Untuk menghalangi gerak maju Persia, sepasukan kecil Yunani menutup jalur Thermopylae, sementara pasukan Yunani yang didominasi Athena menghadapi armada Persia di selat Artemision di dekat situ. Dalamm Pertempuran Thermopylae, pasukan Yunani dibantai habis, sedangkan dalam Pertempuran Artemision armada Yunani menderita kerugian besar dan terpaksa mundur. Ini membuat Persia dapat menaklukan Boiotia dan Attika. Pasukan Yunani bersiap untuk memeprtahankan Teluk Korinthos sementara armadanya ditarik mundur ke Pulau Salamis di dekat situ.

Meskipun kalah jumlah, pasukan Yunani dibujuk oleh jenderal Athena, Themistokles, untuk bertempur lagi dengan pasukan Persia, dengan harapan bahwa jika berhasil menang, maka Persia tak akan dapat menyerang Peloponnesos. Kaisar Persia, Xerxes juga menginginkan pertempuran yang menentukan. Dengan siasat Themistokles, armada Persia berlayar ke Selat Salamis dan mencoba menutupi kedua jalur masuknya. Karen selat itu sempit, armada Persia yang berjumlah besar mengalami kesulitan. Ketika kapal-kapal Persia mencoba bermanuver, barisan mereka malah menjadi kacau-balau. Melihat kesempatan ini, armada Yunani membentuk barisan dan menyerang armada Persia. Armada Yunani menenggelamkan setidaknya 300 kapal Persia dan dengan demikian meraih kemenangan.

Akibat dari kekalahan ini, Xerxes mundur kembali ke Asia bersama dengan sebagian besar pasukannya, dan meninggalkan Mardonios untuk menyelesaikan kampanye di Yunani. Namun, setahun kemudian, sisa-sisa pasukan Persia secara menentukan dikalahkan dalam Pertempuran Plataia, sedangkan sisa armada Persia dikalahkan dalam Pertempuran Mykale. Setelah itu, Persia tidak lagi melakukan serangan terhadap daratan Yunani. Kemenangan Yunani membuat peradaban Yunani, yang merupakan cikal bakal peradaban barat, dapat terus berkembang, sehingga Pertempuran Salamis kadang dianggap sebagai salah satu pertempuran paling penting dalam sejarah umat manusia.

Sejarah imperium-imperium dunia
Imperium kuno
Imperium abad pertengahan
Imperium modern

Bahasa lain

This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.