Hofni dan Pinehas

Hofni (bahasa Ibrani: חָפְנִי, Modern Hofni Tiberias Ḥop̄nî; bahasa Inggris: Hophni) dan Pinehas (bahasa Ibrani: פִּינְחָס, Modern Pinehas Tiberias Pînəħās; bahasa Inggris: Phinehas atau Phineas) adalah dua anak-anak lelaki imam Eli yang disebut dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Kitab 1 Samuel mencatat bahwa mereka bertugas sebagai imam-imam di Kemah Pertemuan yang saat itu berada di kota Silo pada zaman Hana dan masa muda Samuel.

William de Brailes - Top - Eli's Sons Commit Sacrilege (1 Samuel 2 -13-17) - Walters W10617V - Full Page
Kedursilaan anak-anak lelaki Eli, lukisan William de Brailes.

Kejahatan Hofni dan Pinehas

Menurut catatan Alkitab, Hofni dan Pinehas, anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila (bahasa Inggris: sons of Belial); mereka tidak mengindahkan TUHAN, ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu. Setiap kali seseorang mempersembahkan korban sembelihan, sementara daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu bergigi tiga di tangannya dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke dalam belanga atau ke dalam periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri. Demikianlah mereka memperlakukan semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo. Bahkan sebelum lemaknya dibakar, bujang imam itu datang, lalu berkata kepada orang yang mempersembahkan korban itu: "Berikanlah daging kepada imam untuk dipanggang, sebab ia tidak mau menerima daripadamu daging yang dimasak, hanya yang mentah saja." Apabila orang itu menjawabnya: "Bukankah lemak itu harus dibakar dahulu, kemudian barulah ambil bagimu sesuka hatimu," maka berkatalah ia kepada orang itu: "Sekarang juga harus kauberikan, kalau tidak, aku akan mengambilnya dengan kekerasan." Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN.[1] Demikianlah yang dilakukan anak-anak Eli terhadap semua orang Israel dan juga mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan.[2]

Tindakan Eli

Eli, ayah Hofni dan Pinehas, telah sangat tua. Apabila didengarnya segala kedursilaan yang dilakukan anak-anaknya, berkatalah ia kepada mereka: "Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran. Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?" Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.[3]

Tindakan Allah

Paling sedikit tercatat di Alkitab dua kali Allah memperingatkan Eli akan kegagalannya mendidik anak-anaknya:

  1. Seorang abdi Allah datang kepada Eli dan berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN: Bukankah dengan nyata Aku menyatakan diri-Ku kepada nenek moyangmu, ketika mereka masih di Mesir dan takluk kepada keturunan Firaun? Dan Aku telah memilihnya dari segala suku Israel menjadi imam bagi-Ku, supaya ia mempersembahkan korban di atas mezbah-Ku, membakar ukupan dan memakai baju efod di hadapan-Ku; kepada kaummu telah Kuserahkan segala korban api-apian orang Israel. Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih daripada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel? Sebab itu--demikianlah firman TUHAN, Allah Israel--sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang--demikianlah firman TUHAN--:Jauhlah hal itu daripada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah. Sesungguhnya akan datang waktunya, bahwa Aku akan mematahkan tangan kekuatanmu dan tangan kekuatan kaummu, sehingga tidak ada seorang kakek dalam keluargamu. Maka engkau akan memandang dengan mata bermusuhan kepada segala kebaikan yang akan Kulakukan kepada Israel dan dalam keluargamu takkan ada seorang kakek untuk selamanya. Tetapi seorang daripadamu yang tidak Kulenyapkan dari lingkungan mezbah-Ku akan membuat matamu rusak dan jiwamu merana; segala tambahan keluargamu akan mati oleh pedang lawan. Inilah yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati."[4]
  2. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Ketahuilah, Aku akan melakukan sesuatu di Israel, sehingga setiap orang yang mendengarnya, akan bising d kedua telinganya. Pada waktu itu Aku akan menepati kepada Eli segala yang telah Kufirmankan tentang keluarganya, dari mula sampai akhir. Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka! Sebab itu Aku telah bersumpah kepada keluarga Eli, bahwa dosa keluarga Eli takkan dihapuskan dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk selamanya." Samuel tidur sampai pagi; kemudian dibukanya pintu rumah TUHAN. Samuel segan memberitahukan penglihatan itu kepada Eli. Tetapi Eli memanggil Samuel, katanya: "Samuel, anakku." Jawab Samuel: "Ya, bapa." Kata Eli: "Apakah yang disampaikan-Nya kepadamu? Janganlah kausembunyikan kepadaku. Kiranya beginilah Allah menghukum engkau, bahkan lebih lagi daripada itu, jika engkau menyembunyikan sepatah katapun kepadaku dari apa yang disampaikan-Nya kepadamu itu." Lalu Samuel memberitahukan semuanya itu kepadanya dengan tidak menyembunyikan sesuatupun. Kemudian Eli berkata: "Dia TUHAN, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik."[5]

Kematian

Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek. Terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira 4000 orang di medan pertempuran itu. Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: "Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita." Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian TUHAN semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu. Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar. Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: "Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?" Ketika diketahui mereka, bahwa tabut TUHAN telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: "Allah mereka telah datang ke perkemahan itu," dan mereka berkata: "Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu. Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun. Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!" Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur 30000 orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.[6]

Eli sudah sembilan puluh delapan tahun umurnya dan matanya sudah bular, sehingga ia tidak dapat melihat lagi. Ketika datang seorang dari medan pertempuran, Eli bertanya: "Bagaimana keadaannya, anakku?" Jawab pembawa kabar itu: "Orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin; kekalahan yang besar telah diderita oleh rakyat; lagipula kedua anakmu, Hofni dan Pinehas, telah tewas, dan tabut Allah sudah dirampas." Ketika disebutnya tabut Allah itu, jatuhlah Eli telentang dari kursi di sebelah pintu gerbang, batang lehernya patah dan ia mati. Sebab telah tua dan gemuk orangnya. Empat puluh tahun lamanya ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel.[7]

Tradisi Yahudi

  • Menurut sejarawan Yahudi-Romawi pada abad pertama, Flavius Yosefus, Pinehas menjabat sebagai Imam Besar, karena Eli mengundurkan diri dari jabatan itu berhubung usianya yang lanjut.[8]
  • Dalam Talmud, sejumlah komentator menggugat bahwa Pinehas tidak bersalah atas kejahatan yang dituduhkan kepadanya, dan hanya Hofni yang melakukannya, meskipun Jonathan ben Uzziel menyatakan bahwa tidak seorangpun dari keduanya itu jahat, dan bagian Alkitab ini, yang menimpakan kesalahan pada mereka, seharusnya ditafsirkan sebagai kiasan.

Keturunan

  • Adapun isteri Pinehas, menantu perempuan Eli, sudah hamil tua. Ketika didengarnya kabar itu, bahwa tabut Allah telah dirampas dan mertuanya laki-laki serta suaminya telah mati, duduklah ia berlutut, lalu bersalin, sebab ia kedatangan sakit beranak. Ketika ia hampir mati, berkatalah perempuan-perempuan yang berdiri di dekatnya: "Janganlah takut, sebab engkau telah melahirkan seorang anak laki-laki." Tetapi ia tidak menjawab dan tidak memperhatikannya. Ia menamai anak itu Ikabod (bahasa Inggris: Ichabod), katanya: "Telah lenyap kemuliaan dari Israel"—karena tabut Allah sudah dirampas dan karena mertuanya dan suaminya. Katanya: "Telah lenyap kemuliaan dari Israel, sebab tabut Allah telah dirampas."[9]
  • Menurut bagian lain dari Kitab 1 Samuel, Ikabod mempunyai saudara laki-laki, Ahitub. Karena dipakai istilah "saudara laki-laki Ikabod" dan bukan "putra Pinehas", maka sejumlah pakar berpendapat bahwa Ikabod, meskipun hanya disinggung sedikit di Alkitab, sebenarnya adalah tokoh penting pada zamannya.[10]
  • Ahimelekh bin Ahitub bin Pinehas bin Eli, menjadi imam di kota Nob. Ia beserta keluarganya, dibunuh oleh Doeg, orang Edom, atas suruhan raja Saul, karena dituduh membantu Daud yang diburu untuk dibunuh oleh Saul. Hanya satu anaknya, Abyatar, yang berhasil lolos.[11] Ini merupakan penggenapan nubuat atas keturunan Eli.[12]
  • Abyatar bin Ahimelekh, selamat dari pembantaian keluarganya di kota Nob, berpihak kepada Daud. Ketika Daud menjadi raja, ia diangkat menjadi Imam Besar.[13] dan penasehat raja.[14] Namun waktu Daud sudah tua, ia berpihak kepada Adonia, anak Daud, tidak kepada Salomo, yang kemudian menjadi raja menggantikan Daud. Akibatnya, jabatan Imam Besarnya dicopot, diberikan kepada imam Zadok dari keturunan Eleazar bin Harun dan Abyatar sendiri dibuang ke Anatot.[15] Ini juga merupakan penggenapan nubuat atas keturunan Eli.[16]

Referensi

  1. ^ 1 Samuel 2:12-17
  2. ^ 1 Samuel 2:22
  3. ^ 1 Samuel 2:22-25
  4. ^ 1 Samuel 2:27-34
  5. ^ 1 Samuel 3:11-18
  6. ^ 1 Samuel 4:1-11
  7. ^ 1 Samuel 4:15-18
  8. ^ Flavius Josephus, Antiquities of the Jews 3.354.
  9. ^ 1 Samuel 4:19-22
  10. ^ Jewish Encyclopedia, Ichabod
  11. ^ 1 Samuel 22:9-23
  12. ^ 1 Sam 2:31-34
  13. ^ 1 Tawarikh 15:11; 1 Raja-raja 2:26
  14. ^ 1 Tawarikh 27:33-34
  15. ^ 1 Raja-raja 2:26-27
  16. ^ 1 Samuel 2:33

Lihat pula

1 Samuel 1

1 Samuel 1 (atau I Samuel 1, disingkat 1Sam 1) adalah pasal pertama dari Kitab 1 Samuel dalam Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Dalam Alkitab Ibrani merupakan bagian dari Kitab Samuel yang termasuk ke dalam Kitab Nabi-nabi Awal atau Nevi'im Rishonim [נביאים ראשונים] dalam bagian Nevi'im (נביאים; Nabi-nabi).

1 Samuel 2

1 Samuel 2 (atau I Samuel 2, disingkat 1Sam 2) adalah pasal kedua Kitab 1 Samuel dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Dalam Alkitab Ibrani termasuk Nabi-nabi Awal atau Nevi'im Rishonim [נביאים ראשונים] dalam bagian Nevi'im (נביאים; Nabi-nabi).

1 Samuel 4

1 Samuel 4 (atau I Samuel 4, disingkat 1Sam 4) adalah bagian dari Kitab 1 Samuel dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Dalam Alkitab Ibrani termasuk Nabi-nabi Awal atau Nevi'im Rishonim [נביאים ראשונים] dalam bagian Nevi'im (נביאים; Nabi-nabi).

Afek

(bahasa Ibrani: אֲפֵק; bahasa Inggris: Aphek) atau Afek dapat mengacu pada beberapa hal berikut:

Afek adalah lokasi sejumlah peperangan, yang sejak permulaan abad ke-20 diyakini merujuk ke satu tempat yang sama.

Paling terkenal, kota di mana satu atau lebih penguasa/raja Damsyik atau Damaskus yang memakai nama Benhadad dikalahkan oleh tentara Israel (1 Raja-raja 20:26, 30; 2 Raja-raja 13:17). Tempatnya sendiri masih diperdebatkan; pendapat umum pada abad ke-20 menunjuk pada sebuah kota yang terletak di sisi timur sungai Yordan dan yang namanya sampai sekarang masih terkandung dalam nama modern "Fek", tiga mil di timur Danau Galilea, di pinggiran lembah Sungai Yordan dekat Dataran Tinggi Golan; pendapat lain berfokus pada Afek yang merupakan lokasi 2 peperangan melawan orang Filistin - ini didasarkan anggapan bahwa orang Aram (Suriah) cenderung menyerang Israel dari sisi barat, karena lebih mudah ditembus.

Tempat perkemahan orang Filistin, sementara orang Israel berkemah di Eben-Haezer, sebelum terjadinya Pertempuran di Afek di mana kedua putra Eli, Hofni dan Pinehas, terbunuh dan Tabut Perjanjian direbut orang Filistin.

Kota yang berada di wilayah Suku Isakhar, dekat Yizreel, di sebelah utara dataran Sharon. Menurut 1 Samuel 4 (1 Samuel 4:1) dan 1 Samuel 29 (1 Samuel 29:1) adalah tempat perkemahan orang Filistin yang kemudian akan berperang dan menyebabkan kematian raja Saul.

Aphik, kota dalam wilayah suku Asyer. Diidentifikasi sebagai Tel Afek dekat Haifa, atau juga Aphaca di Libanon, yang diperkirakan sekarang adalah kota modern Afka.

Tempat lain bernama Tel Afek disebut juga Antipatris, dekat Petah Tikva dan Rosh HaAyin.

Migdal Afek, dekat Rosh HaAyin Majdal Yaba

Aphek Turris merujuk kepada Majdal Yaba

Tempat di dataran tinggi Golan.

Fiq, Suriah, desa kuno Suriah di Tel itu.

Afik, tempat pemukiman Israel dan kibbutz di Tel yang sama.

Fiq Airfield, lapangan terbang sipil kecil di dekat pemukiman/kibbutz.

Afikim, kibbutz di daerah Galilea, tidak ada hubungan dengan tempat di dataran tinggi Golan.

Daftar genealogi dalam Alkitab

Berikut ini adalah genealogi yang dicatat di dalam Alkitab sejak manusia pertama, Adam diciptakan.

Daftar nama tokoh dalam Alkitab

Di dalam Alkitab terdapat lebih dari 3.000 nama tokoh yang disebutkan; banyak di antaranya yang hanya disebutkan di dalam genealogi. Berikut ini adalah daftar sekitar 300 nama tokoh-tokoh yang berperan besar yang disebut di dalam Alkitab (ejaan menurut versi LAI Terjemahan Baru). Tokoh yang relatif banyak disebut dicetak tebal.

Eli (Imam Besar)

Eli (bahasa Ibrani: עֵלִי, Modern ʻEli Tiberias ʻĒlî ; "Naik"; bahasa Yunani Kuno: Ἤλι; bahasa Latin: Heli) adalah imam besar Israel di kota Silo, sebelum digantikan oleh Samuel, menurut Kitab 1 Samuel. Eli adalah orang Lewi dari garis keturunan Itamar bin Harun.

Harun

Harun (bahasa Ibrani: אַהֲרֹן Ahărōn, bahasa Arab: هارون‎ Hārūn, Yunani (Septuaginta): Ααρών; bahasa Inggris: Aaron), sering disebut "Imam Harun" (אֵהֲרֹן הֵכֹּהֵן) dan sekali disebut "Harun, orang Lewi" (אַהֲרֹן הַלֵּוִי) (Keluaran 4:14). Abang Musa (Keluaran 6:16-20; Qur'an 28:34) dan nabi Allah. Ia diperkirakan hidup dari tahun 1530-1407 SM menurut para pakar Alkitab. Ia dipilih Allah sebagai Imam Besar pertama untuk bangsa Israel. Orangtuanya adalah Amram dan Yokhebed, dari suku Lewi. Saudara perempuannya bernama Miryam. Sementara Musa mendapatkan pendidikan di istana Firaun Mesir dan kemudian lari ke tanah Midian, Harun dan keluarganya tinggal bersama-sama orang-orang Israel di tanah Gosyen. Di sana, Harun dikenal fasih berbicara, sehingga ketika Tuhan mengirimkan Musa untuk menghadap Firaun, Harun menjadi jurubicaranya ("nabi"-nya). Riwayat hidupnya dicatat di Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama Alkitab Kristen dan Al Qur'an orang Islam. Harun lahir di tanah Mesir dan mati pada usia 123 tahun di gunung Hor dalam tahun ke-40 perjalanan bangsa Israel menuju tanah Kanaan. Harun berusia 3 tahun lebih tua dari Musa.

Ikabod

Ikabod (bahasa Ibrani: אִיכָבוֹד, ikhavod – tidak ada kemuliaan, memalukan atau di mana kemuliaan?; bahasa Inggris: Ichabod) disebutkan dalam Kitab 1 Samuel (1 Samuel 4:21) sebagai anak Pinehas bin Eli, seorang imam dursila pada kemah Allah di Silo, yang lahir pada hari Tabut Allah orang Israel dirampas oleh orang Filistin, menurut catatan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, atau Alkitab Ibrani. Ibunya mulai bersalin karena terkejut mendengar bahwa suaminya, bersama Hofni, iparnya laki-laki dan Eli, ayah mertuanya, ketiganya telah meninggal dan bahwa Tabut Perjanjian telah diangkut ke wilayah orang Filistin. Dia juga disebut-sebut kemudian sebagai saudara Ahitub.

Itamar

Itamar (bahasa Ibrani: אִיתָמָר, Modern Itamar Tiberias ʼĪṯāmār ; "pantai/pulau pohon palem"; istilah Ibrani kuno untuk: "ayah Tamar"; bahasa Inggris: Ithamar) adalah seorang imam, anak bungsu dari Imam Besar Yahudi pertama, Harun, menurut catatan Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama Alkitab Kristen. Ia adalah keponakan Musa. Ibunya bernama Eliseba, anak perempuan Aminadab, saudara perempuan Nahason, dari Suku Yehuda. Tiga abangnya bernama Nadab, Abihu, dan Eleazar. Itamar dan saudara-saudaranya ikut ayahnya ditahbiskan menjadi imam di gunung Sinai.

Kitab 1 Samuel

Kitab 1 Samuel merupakan bagian dari Alkitab Ibrani (Tanakh) atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Kitab ini merupakan bagian daripada kitab yang bernama "Kitab Raja-Raja" dalam Tanakh, dalam versi aslinya dalam bahasa Ibrani. Tetapi karena keputusan redaksional, kitab ini di kemudian hari dibagi menjadi dua:

Kitab Samuel (memuat 1 Samuel dan 2 Samuel)

Kitab Raja-raja (memuat 1 Raja-Raja dan 2 Raja-Raja)Selanjutnya, sampai sekarang dibagi menjadi empat:

1 Samuel

2 Samuel

1 Raja-Raja

2 Raja-RajaKitab Samuel, 1 Samuel dan 2 Samuel, merupakan bagian sejarah naratif Israel kuno yang termasuk ke dalam kumpulan Nevi'im atau "Kitab Nabi-nabi" dalam Alkitab Ibrani/Perjanjian Lama. Sejumlah para sarjana modern menggolongkannya ke dalam sejarah Deuteronomistik, serangkaian dengan Kitab Yosua, Kitab Hakim-hakim, dan setelah Kitab Samuel, termasuk pula Kitab Raja-raja, yang merupakan susunan sejarah teologis bangsa Israel dan dimaksudkan untuk menjelaskan hukum Allah untuk Israel di bawah bimbingan para nabi. Menurut tradisi Yahudi, kitab Samuel ini ditulis oleh nabi Samuel, dengan tambahan-tambahan dari nabi Gad dan Natan. Ada pemikiran modern yang berpendapat bahwa seluruh sejarah Deuteronomistik ditulis dalam periode sekitar 630–540 SM dengan menggabungkan sejumlah teks-teks terpisah yang berasal dari berbagai zaman.Kitab 1 Samuel berisi sejarah Israel dalam masa peralihan dari zaman Hakim-Hakim kepada zaman Raja-Raja. Perubahan dalam kehidupan nasional di Israel itu khususnya berkisar pada tiga orang: Nabi Samuel, Raja Saul, dan Raja Daud. Pengalaman-pengalaman Daud pada masa mudanya sebelum ia menjabat raja, terjalin erat dengan kisah Samuel dan Saul. Kitab ini dimulai dengan kelahiran nabi Samuel dan panggilan Allah kepadanya ketika masih kecil. Kisah Tabut Perjanjian kemudian memuat sejarah penindasan orang Israel oleh orang Filistin, yang menyebabkan Samuel mengurapi Saul sebagai raja pertama Kerajaan Israel. Namun, Saul terbukti tidak layak sebagai raja dan Allah beralih memilih Daud, yang mengalahkan musuh-musuh Israel, serta akhirnya membawa Tabut Perjanjian ke Yerusalem dalam Kitab 2 Samuel, di mana Allah kemudian menjanjikan Daud dan penerusnya suatu dinasti yang tidak berkesudahan.Amanat kitab 1 Samuel, sama seperti kisah-kisah lainnya dalam Perjanjian Lama, ialah bahwa

orang akan berhasil kalau setia kepada Allah, dan celaka kalau mendurhaka. Hal itu dinyatakan dengan jelas dalam pasal 2:30 ketika Tuhan berkata kepada Imam Eli, "Yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi yang menghina Aku akan Kuhina."

Dalam kitab ini terlihat perasaan yang berbeda-beda mengenai pembentukan kerajaan Israel. Memang Tuhan sendiri sudah dianggap raja di Israel, tetapi untuk menanggapi permohonan rakyat, Ia memilih seorang raja bagi mereka. Hal yang penting ialah bahwa baik raja maupun rakyat Israel hidup di bawah kedaulatan Allah, Hakim mereka (1 Samuel 2:7-10). Di bawah hukum-hukum Allah, haruslah dijamin hak seluruh rakyat, kaya maupun miskin.

Kitab Samuel

Kitab Samuel merupakan bagian dari kitab Perjanjian Lama dan Tanakh. Kitab ini merupakan bagian daripada kitab yang bernama Raja-Raja dalam Tanakh, dalam versi aslinya dalam bahasa Ibrani. Tetapi karena keputusan redaksional, kitab Raja-raja ini dibagi menjadi empat:

1 Samuel

2 Samuel

1 Raja-Raja

2 Raja-Raja

Pertempuran Afek

Pertempuran Afek adalah suatu episode yang dicatat dalam 1 Samuel 4:1-10 pada Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Dalam pertempuran ini orang Filistin mengalahkan tentara Israel dan merebut Tabut Perjanjian. Di antara para sarjana Alkitab, sejarah dari peristiwa-peristiwa awal dalam Kitab Samuel masih diperdebatkan, dengan beberapa orang condong menganggap berbagai itu peristiwa sebagai sejarah, sedangkan beberapa lainnya condong ke arah bukan sejarah. (Lihat juga Alkitab minimalisme dan Alkitab maximalisme.)

Suku Lewi

Suku Lewi (bahasa Ibrani: שֵׁבֶט לֵוִי Shevet Levi, Šḗḇeṭ Lēwî; bahasa Inggris: Tribe of Levi or Levites atau "orang-orang Lewi") adalah salah satu dari kedua-belas suku Israel keturunan Lewi, putra Yakub, salah seorang patriarkh Israel. Berbeda dengan suku-suku lainnya, suku bangsa Lewi tidak mendapatkan pembagian tanah di Kanaan, ketika keturunan Yakub itu kembali dari perbudakan di Mesir. Hal ini disebabkan karena suku bangsa itu menempati posisi khusus dalam agama Israel kuno, yakni sebagai keluarga imam (kohen), termasuk Imam Besar (kohen gadol) dan penjaga serta pemelihara Bait Suci di Yerusalem.

Tabut Perjanjian direbut orang Filistin

Tabut Perjanjian direbut orang Filistin adalah sebuah episode yang dicatat dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, yang merupakan bagian sejarah bangsa Israel, di mana Tabut Perjanjian berada dalam kepemilikan orang Filistin, yang telah merebutnya setelah mengalahkan tentara Israel dalam pertempuran Afek di lokasi antara Eben-ezer, tempat orang Israel berkemah, dan Afek (mungkin Antipatris), di mana orang Filistin berkemah.

Narasi Tabut Perjanjian tidak menyebutkan Samuel; Bill Arnold berpendapat bahwa itu adalah "dalam rangka untuk menyatakan kekuatan Tabut Perjanjian Yahweh." Banyak sarjana menempatkan 1 Samuel 4 - 6 bersama-sama dengan 2 Samuel 6 dan percaya bahwa catatan itu mencerminkan sebuah sumber lama yang akhirnya dimasukkan ke dalam riwayat naiknya Daud atau kemudian ke dalam sejarah Deuteronomistik.

Bahasa lain

This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.