Gajah asia

Gajah asia (Elephas maximus), kadang dikenal dengan nama salah satu subspesiesnya, gajah india, adalah satu dari tiga spesies gajah yang masih hidup, dan merupakan satu-satunya spesies gajah dari genus Elephas yang masih hidup. Hewan ini adalah hewan darat terbesat di Asia.[3] Gajah Asia adalah spesies terancam karena habitat yang terus berkurang dan perburuan liar,[4] populasi gajah di alam liar tersisa antara 41,410 sampai 52,345.[2] Gajah asia cenderung berumur panjang, dengan usia tertua yang diketahui mencapai 86 tahun.

Hewan ini banyak didomestikasi. dan telah digunakan dalam kehutanan di Asia Selatan dan Tenggara selama berabad-abad dan digunakan juga untuk tujuan seremonial. Sumber-sumber sejarah mengindikasikan bahwa hewan ini kadang digunakan selama musim panen dalam kegiatan penggilingan. Gajah liar dapat dimanfaakatn untuk menarik wisatawan, namun hewan ini juga merusak panen, dan dapat memasuki perkampungan untuk merusak perkebunan.

Gajah asia[1]
Asian elephant - melbourne zoo
Bong Su, seekor gajah asia jantan di Kebun Binatang Melbourne
ElephantSkelLyd2
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Proboscidea
Famili: Elephantidae
Genus: Elephas
Spesies: E. maximus
Nama binomial
Elephas maximus
Linnaeus, 1758
Asian Elephant area
Penyebaran gajah Asia
(cokelat — daerah asal, hitam — asal belum jelas)

Penyebaran dan habitat

Gajah asia menghuni kawasan padang rumput, hutan hijau tropis, hutan semi-hijau, hutan gugur lembab, hutan gugur kering dan hutan berduri kering. Selain itu mereka juga biasa hidup di hutan tanaman, hutan sekunder dan semak belukar. Beberapa dari tipe habitat gajah ini bisa mencapai ketinggian 3000 m (9800 ft) di atas permukaan laut.

Ada tiga subspesies gajah asia yang dikenal:[2][3]

Di China, gajah asia hanya terdapat di prefektur Xishuangbanna, Simao, dan Lincang di selatan Yunnan. Di Bangladesh, hanya terdapat sebagian populasi gajah yang terpencil di Bukit Chittagong.[5]

Ekologi dan perilaku

Baby elephants at the Elephant Conservation Center (Laos)
Seekor anak gajah (5 bulan) dan sepupunya (17 bulan) di sebuah suaka di Laos

Gajah merupakan hewan krepuskular.[3] Mereka dikelompokkan sebagai megafauna dan mengkonsumsi sekitar 150 kg (330 lb) pakan tanaman per hari.[6] Mereka adalah pemakan segala tumbuhan; pemakan rumput (grazer) dan juga pemakan pohon (browser) sekaligus. Tercatat 112 spesies tanaman yang berbeda menjadi santapan hewan ini. Kebanyakan tumbuhan dari bangsa Malvales, suku polong-polongan, pinang-pinangan, teki-tekian dan padi-padian.[7] Mereka memakan pohon (browsing) lebih banyak pada musim kemarau, dengan kulit pohon menjadi porsi utama.[8] Mereka minum setidaknya sekali sehari dan tidak pernah tinggal jauh dari sumber air murni.[3] Mereka membutuhkan 80–200 liter air dalam satu hari.

Anak gajah biasanya bergabung dalam kawanan gajah betina dewasa. Namun gajah jantan akan memisahkan mereka saat sang anak mencapai masa remaja.[9]

Gajah mampu mengenal suara dengan amplitudo rendah.[10] Mereka menggunakan infrasonik unutk berkomunikasi satu sama lain; hal ini pertama kali diketahui dan dicatat oleh naturalis asal India, Madhaviah Krishnan, yang dipelajari lebih lanjut oleh Katharine Payne kemudian.[11]

Pemangsaan harimau terhadap gajah Asia jarang terjadi dan hanya terbatas pada anak gajah yang masih kecil.[12]

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ^ Shoshani, J. (2005). "Order Proboscidea". Dalam Wilson, D. E.; Reeder, D. M. Mammal Species of the World (edisi ke-3rd). Johns Hopkins University Press. hlm. 90. ISBN 978-0-8018-8221-0. OCLC 62265494.
  2. ^ a b c Choudhury, A., Lahiri Choudhury, D.K., Desai, A., Duckworth, J.W., Easa, P.S., Johnsingh, A.J.T., Fernando, P., Hedges, S., Gunawardena, M., Kurt, F., Karanth, U., Lister, A., Menon, V., Riddle, H., Rübel, A. & Wikramanayake, E. (2008). "Elephas maximus". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2008. International Union for Conservation of Nature. Diakses tanggal 28 October 2008.
  3. ^ a b c d Shoshani, J, Eisenberg, J. F. (1982). "Elephas maximus" (PDF). Mammalian Species. 182: 1–8. doi:10.2307/3504045. JSTOR 3504045.
  4. ^ Cynthia Turnage and Mark McGinley. 2010. Asian Elephant. Encyclopedia of Earth. C. Michael Hogan, Topic editor. eds. Cutler J. Cleveland. National Council for Science and the Environment, Washington DC
  5. ^ Sukumar, R. (1993) The Asian Elephant: Ecology and Management Second edition. Cambridge University Press. ISBN 0-521-43758-X
  6. ^ Samansiri, K. A. P.; Weerakoon, D. K. (2007). "Feeding Behaviour of Asian Elephants in the Northwestern Region of Sri Lanka" (PDF). Gajah: Journal of the IUCN/SSC Asian Elephant Specialist Group. 2: 27–34.
  7. ^ Sukumar, R. (1990). "Ecology of the Asian Elephant in southern India. II. Feeding habits and crop raiding patterns" (PDF). Journal of Tropical Ecology. 6: 33–53.
  8. ^ Pradhan, N. M. B.; Wegge, P.; Moe, S. R.; Shrestha, A. K. (2008). "Feeding ecology of two endangered sympatric megaherbivores: Asian elephant Elephas maximus and greater one-horned rhinoceros Rhinoceros unicornis in lowland Nepal". Wildlife Biology. 14: 147–154.
  9. ^ McKay, G. M. (1973). "Behavior and ecology of the Asiatic elephant in southeastern Ceylon". Smithsonian Contributions to Zoology. 125: 1–113.
  10. ^ Heffner, R.; Heffner, H. (1980). "Hearing in the elephant (Elephas maximus)". Science. 208 (4443): 518–520. doi:10.1126/science.7367876.
  11. ^ Payne, K. (1998). Silent Thunder. Simon & Schuster. ISBN 0-684-80108-6.
  12. ^ Karanth, K. U. and Nichols, J. D. (1998). Estimation of tiger densities in India using photographic captures and recaptures. Ecology, 79 (8): 2852–2862.

Pranala luar

CITES

CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam adalah perjanjian internasional antarnegara yang disusun berdasarkan resolusi sidang anggota World Conservation Union (IUCN) tahun 1963. Konvensi bertujuan melindungi tumbuhan dan satwa liar terhadap perdagangan internasional spesimen tumbuhan dan satwa liar yang mengakibatkan kelestarian spesies tersebut terancam. Selain itu, CITES menetapkan berbagai tingkatan proteksi untuk lebih dari 33.000 spesies terancam.

Tidak ada satu pun spesies terancam dalam perlindungan CITES yang menjadi punah sejak CITES diberlakukan tahun 1975 (lihat pula) Pemerintah Indonesia meratifikasi CITES dengan Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1978.

Elephantidae

Elephantidae adalah keluarga dari gajah dan mamut, yang merupakan mamalia darat yang besar dengan belalai dan gading. Kebanyakan genus dan spesies dari keluarga ini sudah punah. Hanya dua genus yang masih hidup yaitu Loxodonta (Gajah Afrika) Dan Elephas (Gajah Asia).

Keluarga ini dideskripsikan pertama kali oleh John Edward Gray tahun 1821 yang kemudian dimasukkan dalam urutan taksonomi dalam ordo Proboscidea. Elephantidae juga telah beberapa kali direvisi oleh beberapa autor untuk memasukkan atau mengeluarkan genus yang sudah punah.

Elephas

Elephas adalah salah satu dari dua genera dalam famili gajah, Proboscidea. Di dalam genus ini hanya terdapat satu spesies yang belum punah, yaitu gajah asia Elephas maximus.Beberapa spesies yang telah punah telah dikategorikan ke dalam genus ini, seperti Elephas recki, Elephas antiquus, serta gajah kerdil E. falconeri dan E. cypriotes. Genus ini berhubungan erat dengan genus Mammuthus.

Gajah

Gajah adalah mamalia besar dari famili Elephantidae dan ordo Proboscidea. Secara tradisional, terdapat dua spesies yang diakui, yaitu gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus), walaupun beberapa bukti menunjukkan bahwa gajah semak afrika dan gajah hutan afrika merupakan spesies yang berbeda (L. africana dan L. cyclotis). Gajah tersebar di seluruh Afrika sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Elephantidae adalah satu-satunya famili dari ordo Proboscidea yang masih ada; famili lain yang kini sudah punah termasuk mamut dan mastodon. Gajah afrika jantan merupakan hewan darat terbesar dengan tinggi hingga 4 m dan massa yang juga dapat mencapai 7.000 kg. Gajah memiliki ciri-ciri khusus, dan yang paling mencolok adalah belalai atau proboscis yang digunakan untuk banyak hal, terutama untuk bernapas, menghisap air, dan mengambil benda. Gigi serinya tumbuh menjadi taring yang dapat digunakan sebagai senjata dan alat untuk memindahkan benda atau menggali. Daun telinganya yang besar membantu mengatur suhu tubuh mereka. Gajah afrika memiliki telinga yang lebih besar dan punggung yang cekung, sementara telinga gajah asia lebih kecil dan punggungnya cembung.

Gajah merupakan hewan herbivora yang dapat ditemui di berbagai habitat, seperti sabana, hutan, gurun, dan rawa-rawa. Mereka cenderung berada di dekat air. Gajah dianggap sebagai spesies kunci karena dampaknya terhadap lingkungan. Hewan-hewan lain cenderung menjaga jarak dari gajah, dan predator-predator seperti singa, harimau. hyena, dan anjing liar biasanya hanya menyerang gajah muda. Gajah betina cenderung hidup dalam kelompok keluarga, yang terdiri dari satu betina dengan anak-anaknya atau beberapa betina yang berkerabat beserta anak-anak mereka. Kelompok ini dipimpin oleh individu gajah yang disebut matriark, yang biasanya merupakan betina tertua. Gajah memiliki struktur kelompok fisi-fusi, yaitu ketika kelompok-kelompok keluarga bertemu untuk bersosialisasi. Gajah jantan meninggalkan kelompok keluarganya ketika telah mencapai masa pubertas, dan akan tinggal sendiri atau bersama jantan lainnya. Jantan dewasa biasanya berinteraksi dengan kelompok keluarga ketika sedang mencari pasangan dan memasuki tahap peningkatan testosteron dan agresi yang disebut musth, yang membantu mereka mencapai dominasi dan keberhasilan reproduktif. Anak gajah merupakan pusat perhatian kelompok keluarga dan bergantung pada induknya selama kurang lebih tiga tahun. Gajah dapat hidup selama 70 tahun di alam bebas. Mereka berkomunikasi melalui sentuhan, penglihatan, penciuman, dan suara; gajah juga menggunakan infrasonik dan komunikasi seismik untuk jarak jauh. Kecerdasan gajah telah dibandingkan dengan kecerdasan primata dan cetacea. Mereka tampaknya memiliki kesadaran diri dan menunjukkan empati kepada gajah lain yang hampir atau sudah mati.

Gajah afrika digolongkan sebagai spesies yang rentan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), sementara gajah asia diklasifikasikan sebagai spesies terancam. Salah satu ancaman terbesar bagi gajah adalah perdagangan gading yang memicu perburuan liar. Ancaman lain adalah kehancuran habitat dan konflik dengan penduduk setempat. Di sisi lain, gajah digunakan sebagai hewan pekerja di Asia. Dulu mereka pernah digunakan untuk perang; kini, gajah seringkali dipertontonkan di kebun binatang dan sirkus. Gajah dapat dengan mudah dikenali dan telah digambarkan dalam seni, cerita rakyat, agama, sastra, dan budaya populer.

Gajah afrika

Gajah afrika adalah spesies hewan dari genus Loxodonta, 1 dari 2 genus yang masih hidup dalam Elephantidae. Meskipun umum dipercaya bahwa genus dinamai oleh Georges Cuvier pada tahun 1825, Cuvier mengejanya Loxodonte. Seorang penulis tak dikenal meromanisasikan ejaan itu menjadi Loxodonta dan diakui oleh ICZN.

Fosil Loxodonta hanya ditemukan di Afrika, tempat mereka berkembang biak dari pertengahan Pliosen.

Gajah afrika berukuran lebih besar dari gajah asia termasuk yang terbesar di dunia, dengan berat badan mencapai 6.000 kg

Gajah india

Gajah india adalah salah satu subspesies gajah asia. Gajah ini dapat ditemui di India, Nepal, Bangladesh, Bhutan, Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya, Laos, Tiongkok, Kamboja dan Vietnam.

Bukti arkeologi menunjukkan bahawa gajah India telah dijinakkan di lembah sungai Indus sekitar 4.000 tahun dahulu. Menjinakkan tidak serupa dengan domestikasi. Gajah sulit didomestikasi akibat perangai bengisnya, makanannya yang mahal dan pertumbuhan yang terlalu lama (15 tahun untuk menjadi dewasa). Gajah india dijinakkan untuk pertanian. Pengunaan gajah perang dalam militer bermula sekitar 1100 SM dan disebut dalam beberapa kitab suci berbahasa Sansekerta.

Semenjak tahun 1986, Elephas maximus tergolong sebagai spesies yang terancam punah dan populasinya telah berkurang sebanyak 50% dalam tiga generasi. Gajah asia terancam oleh kehancuran, degradasi dan fragmentasi habitat.

Gajah kalimantan

Gajah kalimantan (Elephas maximus borneensis) adalah subspesies dari gajah asia dan dapat ditemukan di Kalimantan Utara dan Sabah. Asal usul gajah kalimantan masih merupakan kontroversi. Terdapat hipotesis bahwa mereka dibawa ke pulau Kalimantan. Pada tahun 2003, penelitian DNA mitokondria menemukan bahwa leluhurnya terpisah dari populasi daratan selama pleistosen, ketika jembatan darat yang menghubungkan Kalimantan dengan kepulauan Sunda menghilang 18.000 tahun yang lalu. Spesies ini kini berstatus kritis akibat hilangnya sumber makanan, perusakan rute migrasi dan hilangnya habitat mereka. Dilaporkan pada tahun 2007 hanya terdapat sekitar 1.000 gajah.

Gajah sri lanka

Gajah sri lanka (Elephas maximus maximus) adalah salah satu dari tiga subspesies gajah asia. Subspesies ini hidup di pulau Sri Lanka. Semenjak tahun 1986, Elephas maximus telah diklasifikasikan sebagai spesies yang terancam punah oleh IUCN karena populasinya mengalami penurunan sebesar 50% dalam tiga generasi (diperkirakan 60-75 tahun). Gajah ini terutama terancam oleh kehancuan dan fragmentasi habitat.Elephas maximus maximus adalah subspesies tipe gajah asia yang pertama kali dideskripsikan oleh Carl Linnaeus dengan nama binominal Elephas maximus pada tahun 1758.Populasi gajah sri lanka saat ini terbatas di wilayah kering di utara, timur, dan tenggara Sri Lanka. Gajah ini dapat ditemui di Taman Nasional Udawalawe, Taman Nasional Yala, Taman Nasional Lunugamvehera, Taman Nasional Wilpattu dan Taman Nasional Minneriya, tetapi mereka juga tinggal di luar wilayah yang dilindungi. Diperkirakan populasi gajah sri lanka merupakan populasi gajah terpadat di Asia. Konflik antara manusia dengan gajah semakin memanas akibat konversi habitat gajah menjadi permukiman dan lahan pertanian.

Gajah sumatra

Gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) adalah subspesies dari gajah asia yang hanya berhabitat di Pulau Sumatra. Gajah sumatra berpostur lebih kecil daripada subspesies gajah india. Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang sangat terancam. Sekitar 2000 sampai 2700 ekor gajah sumatra yang tersisa di alam liar berdasarkan survei pada tahun 2000. Sebanyak 65% populasi gajah sumatra lenyap akibat dibunuh manusia, dan 30% kemungkinan dibunuh dengan cara diracuni oleh manusia. Sekitar 83% habitat gajah sumatra telah menjadi wilayah perkebunan akibat perambahan yang agresif.

Gajah sumatra merupakan mamalia terbesar di Indonesia, beratnya mencapai 6 ton dan tumbuh setinggi 3,5 meter pada bahu. Periode kehamilan untuk bayi gajah sumatra adalah 22 bulan dengan umur rata-rata sampai 70 tahun. Herbivora raksasa ini sangat cerdas dan memiliki otak yang lebih besar dibandingkan dengan mamalia darat lain. Telinga yang cukup besar membantu gajah mendengar dengan baik dan membantu mengurangi panas tubuh. Belalainya digunakan untuk mendapatkan makanan dan air dengan cara memegang atau menggenggam bagian ujungnya yang digunakan seperti jari untuk meraup.

Gajah suriah

Gajah suriah (Elephas maximus asurus) adalah nama yang diusulkan bagi populasi Gajah Asia (Elephas maximus) di bagian paling barat, yang punah pada masa kuno. Kerangka dari Elephas maximus asurus ditemukan di Timur Tengah (Turki), (Irak) dan (Suriah) dari periode antara 3 juta SM sampai 100 SM. Perajn Suriah kuno mempergunakan gading gajah suriah untuk membuat ukiran gading. Di Suriah, pembuatan produk dari gading mencapai puncaknya pada milenium pertama SM, ketika Orang Aram membuat tatahan gading yang sangat indah untuk meubel. Akibatnya gajah Suriah pun banyak diburu untuk diambil gadingnya sampai akhirnya spesies ini punah pada 100 SM.

Kandula

Kandula adalah gajah perang terkenal yang disebutkan dalam hikayat Mahavamsa yang berbahasa Sinhala.

Menurut hikayat tersebut, ketika Dutugamunu dari Sri Lanka (101 - 77 SM) lahir, banyak orang yang membawa hadiah untuknya. Salah satu hadiahnya adalah seekor gajah yang ditemukan oleh seorang nelayan bernama Kandula. Gajah itu kemudian dinamai sesuai nama penemunya dan hewan ini menjadi kawan Dutugamunu. Kandula berperan sebagai tunggangan Dutugamunu dalam perang-perang yang berujung pada penyatuan Sri Lanka. Pertarungan antara raja Elara dan Dutugamunu disebut-sebut berlangsung ketika kedua raja itu menaiki gajah masing-masing; Dutugamunu menaiki Kandula dan Elara menaiki Maha Pambata. Raja Elara terbunuh dalam pertarungan di atas gajah ini.

Seekor gajah Asia yang lahir pada tahun 2001 di Taman Zoologi Nasional Smithsonian di Washington D.C. dinamai Kandula. Dia adalah gajah Asia kedua yang dilahirkan melalui inseminasi buatan.

Maskot Resimen Infantri Ringan Sri lanka juga dinamai Kandula, sesuai nama gajah tunggangan Dutugamunu.

Kebun Binatang Gembira Loka

Kebun Binatang Gembira Loka (bahasa Jawa: ꦏꦼꦧꦺꦴꦤ꧀​ꦧꦶꦤꦠꦁ​ꦒꦼꦩ꧀ꦧꦶꦫ​ꦭꦺꦴꦏ, translit. Kebon Binatang Gembira Loka) adalah kebun binatang yang berada di Yogyakarta. Berisi berbagai macam spesies dari belahan dunia, seperti orangutan, gajah asia, simpanse, harimau, dan lain sebagainya. Kebun Binatang Gembira Loka menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan Yogyakarta. Gembira Loka Zoo sempat rusak parah akibat gempa bumi yang mengguncang kota Yogyakarta tahun 2006. Tetapi, setelah direnovasi Kebun Binatang Gembira Loka tetap dicari para wisatawan.

Mamut

Mamut adalah genus gajah purba yang telah punah. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada gajah normal yang ada di dunia saat ini. Gadingnya melingkar membentuk kurva ke arah dalam dan, dalam spesies utara, dengan rambut panjang. Mereka hidup dalam masa Pleistosen sejak 1,6 juta tahun lalu sampai sekitar 10.000 tahun lalu. Kata mamut berasal dari bahasa Rusia (мамонт).

Ada kesalahpahaman bahwa mamut lebih besar dari gajah. Spesies terbesar mamut yang diketahui, Mammoth Sungai Songhua, memiliki tinggi sekurangnya 5 meter pada pundaknya. Mamut umumnya memiliki berat 6-8 ton, tetapi mamut jantan yang besar beratnya dapat mencapai 12 ton. Gading mamut sepanjang 3,3 meter ditemukan di utara Lincoln, Illinois tahun 2005. Sebagian besar spesies mamut memiliki ukuran sebesar Gajah Asia modern.

Penis

Penis (dari bahasa Latin yang artinya "ekor", akar katanya sama dengan phallus, yang memiliki arti sama) adalah alat kelamin jantan. Penis merupakan organ eksternal, karena berada di luar ruang tubuh.

Pemakaian istilah "penis" praktis selalu dalam konteks biologi atau kedokteran. Istilah "falus" (dari phallus) dipakai dalam konteks budaya, khususnya mengenai penggambaran penis yang menegang (ereksi). Lingga (atau lingam) adalah salah satu penggambaran falus. Dalam literatur keagamaan (Islam), kata zakar lebih sering dipakai. Karena dalam banyak masyarakat organ ini dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka, berbagai eufemisme dipakai untuk menyatakannya, seperti "burung", "pisang", dick, atau cock (bahasa Inggris).

Fungsi penis secara biologi adalah sebagai alat pembuangan (organ ekskresi) sisa metabolisme berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat bantu reproduksi. Penis sejati dimiliki oleh mamalia dan menjadi penciri utama jenis kelamin jantan.

Organ dengan fungsi serupa dari hewan anggota divisio lain kadang-kadang disebut penis walaupun secara teknis bukanlah seperti penis pada mamalia.

Perdagangan gading

Perdagangan gading adalah perdagangan komersial gading kuda nil, walrus, narwhal, mamut, dan gajah asia dan afrika. Perdagangan ini seringkali dilakukan secara ilegal.

Perdagangan gading mengancam keberlangsungan beberapa spesies. Gading sebelumnya digunakan untuk membuat tuts piano dan barang-barang dekorasi lainnya karena warna putihnya. Namun, industri piano sudah menghentikan penggunaan gading pada tahun 1970-an.

Surus

Surus adalah nama gajah perang terakhir milik Hannibal Barca, jenderal pasukan Kartago di Italia. Beberapa penulis Romawi kuno memberi keterangan mengenai Surus. Diceritakan bahwa Surus kemungkinan adalah gajah Asia besar dengan satu gading. Menurut beberapa sumber, hewan ini adalah gajah terakhir dari 37 gajah perang yang dibawa oleh Hannibal dalam perjalanannya melewati pegunungan Alpen. Surus berperan sebagai platform bagi hannibal, yang sulit melihat medan tempur karena dia kehilangan satu mata karena infeksi.

Menurut Plautus, Surus memakai jubah merah, dan membawa perisai merah serta sebuah rengga.

Taman Nasional Berbak-Sembilang

Taman Nasional Sembilang adalah taman nasional yang terletak di Kabupaten Banyuasin, pesisir Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia. Taman Nasional ini memiliki luas sebesar 2.051 km². Taman Nasional Sembilang merupakan habitat bagi harimau Sumatra, gajah Asia, tapir Asia, siamang, kucing emas, rusa Sambar, buaya muara, ikan Sembilang, penyu air tawar raksasa, lumba-lumba air tawar dan berbagai spesies burung.Taman Nasional Sembilang terdiri dari hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar dan hutan riparian di Provinsi Sumatra Selatan.

Berbagai macam tanaman darat dan air tumbuh di taman ini, termasuk Gajah Paku (Acrostichum aureum), Nipah (Nypa fruticans), Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), Pandan (Pandanus tectorius), Laut waru (Hibiscus tiliaceus), Nibung (Oncosperma tigillaria), jelutung (Jelutung), Menggeris (Koompassia excelsa), Gelam Tikus (Syzygium inophylla), Rhizophora sp, Sonneratia alba,. dan gimnorrhiza Bruguiera.

Pesisir dan kawasan hutan, terutama di Sembilang dan Semenanjung Banyuasin, merupakan habitat bagi harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), Gajah Asia (Elephas maximus sumatranus), Malayan Tapir (Tapirus indicus), Siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), Kucing Emas (Catopuma temminckii temminckii), Rusa Sambar (Cervus unicolor equinus), Buaya Air Asin (Crocodylus porosus), Ikan Sembilang (Plotusus canius), Penyu Air Tawar Raksasa (Chitra indica), Lumba-lumba Air Tawar (Orcaella brevirostris) dan berbagai jenis burung.

Burung migran dari Siberia dapat dilihat di Sembilang dalam jumlah besar, mencapai klimaks pada bulan Oktober. Panggilan dari ribuan burung yang terbang dalam formasi bahkan dapat didengar di atas ombak gemuruh Selat Bangka.

Spesies burung lain yang mendiami taman ini termasuk Dowitcher Asia (Limnodromus semipalmatus), melihat Greenshank (guttifer Pseudototanus), Putih Timur Pelican (Pelecanus onocrotalus), Bangau Susu (Mycteria cinerea), Bangau Ajudan yang lebih rendah (Leptoptilos javanicus), dan putih-hitam bersayap tiga barang (Chlidonias leucoptera).

Bagian barat berbatasan dengan Taman Nasional Berbak Taman di Provinsi Jambi.

Lokasi menarik/ tempat-tempat:

Semenanjung Banyuasin, Sembilang, Benawan Bay, Teluk Sekanak, Pulau Betet: menjelajahi sungai dan hutan mangrove dengan perahu, memancing, dan hewan menonton, burung migran dari Siberia dan atraksi dolphins.Cultural air tawar di luar Taman Festival Krakatau termasuk setiap Juli di Bandar Lampung dan Festival Danau Ranau pada bulan Desember di Oku, Sumatra Selatan.

Waktu terbaik untuk berkunjung: Juni hingga November.

Cara mencapai Lokasi: Palembang-Sungsang, sekitar 2 jam dengan perahu motor carteran, ditambah lagi 2 jam ke lokasi.

Ditunjuk: Menteri Kehutanan, SK No 76/Kpts-II/2001

seluas 205.750 hektare

Lokasi Kabupaten Musi Banyuasin, (Provinsi Sumatra Selatan)

Suhu 22 ° - 33 °C

Curah hujan 260 mm / tahun (rata-rata)

Ketinggian 0–500 m dpl.

Lokasi geografis 104 ° 12 '- 104 ° 55' E; 1 ° 38 '- 2 ° 25' S

Taman Zoologi Nasional Smithsonian

Taman Zoologi Nasional Smithsonian, umumnya disebut Kebun Binatang Nasional, adalah kebun binatang yang terletak di kota Washington, D.C., Amerika Serikat. Kebun binatang ini terakreditasi oleh Association of Zoos and Aquariums (AZA). Kebun binatang ini didirikan tahun 1889 dan merupakan salah satu kebun binatang tertua di Amerika Serikat Di Kebun Binatang Nasional tidak dikenakan biaya masuk,

Secara keseluruhan, Kebun Binatang Nasional berisi 2.000 hewan dari 400 spesies yang berbeda yang seperlima terancam punah . Sebagian besar spesies berada di pameran di Kebun Binatang Taman Rock Creek kampus. Hewan yang terkenal disini adalah panda raksasa, tetapi kebun binatang juga rumah bagi burung, kera besar, kucing besar, gajah Asia, serangga, amfibi, reptil, hewan air, mamalia kecil dan banyak lagi.Salah satu penghuni kebun binatang ini adalah biawak komodo yang merupakan hewan yang hanya ditemui di Indonesia. Rumah-rumah fasilitas SCBI antara 30 dan 40 spesies yang terancam punah pada waktu tertentu tergantung pada kebutuhan penelitian dan rekomendasi dari Kebun Binatang dan komunitas konservasi.

Uji cermin

Uji cermin (bahasa Inggris: mirror test), kadang-kadang disebut uji tanda (bahasa Inggris: mark test) atau uji pengenalan diri di depan cermin (bahasa Inggris: mirror self-recognition test), adalah teknik penelitian yang dikembangkan pada tahun 1970 oleh psikolog Gordon Gallup Jr. sebagai cara untuk menentukan apakah hewan selain manusia memiliki kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri. Uji cermin merupakan metode tradisional untuk mengukur kesadaran diri, namun akhir-akhir ini muncul kontroversi mengenai apakah uji cermin dapat menjadi indikator yang sesungguhnya.

Sangat sedikit spesies yang berhasil lolos uji cermin. Pada tahun 2016, hanya manusia, simpanse, bonobo, gorila, orang utan, gajah asia, lumba-lumba, paus pembunuh, dan burung magpie erasia yang berhasil lolos tes ini. Beberapa spesies yang gagal mengenali dirinya dalam percobaan ini adalah beberapa spesies monyet, panda raksasa, singa laut dan anjing.

Bahasa lain

This page is based on a Wikipedia article written by authors (here).
Text is available under the CC BY-SA 3.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.